Nasib Buku di Era Digital

Seorang siswa SD, saat berada di kelas tampak biasa-biasa saja. Ketika diberi soal tes pada hari itu, ia cenderung kesulitan menjawab. Ia merasa kusulitan saat memahami penjelasan dari guru.

Namun sontak ia menunjukkan wajah gembira saat guru memberi tugas untuk menyelesaikan soal-soal itu di rumah, sebagai bahan belajar malam harinya. Sebelumnya, sang guru mengingatkan agar soal tersebut dikerjakan secara mandiri.

Luar biasa! Keesokan harinya semua soal itu terjawab dengan jawaban sempurna. Sang gurupun terkejut. Ia merenung memikirkan apa yang salah selama ini. Anak itu mampu menguasai materi justru tanpa kehadirannya!

Kejadian di atas dialami oleh hampir semua guru. Mungkinkah siswa itu berbohong dengan meminta bantuan orang lain untuk mengerjakan tugasnya? Apakah ia memang tipe pembelajar otodidak yang lebih mudah memamahi sesuatu dalam kesendiriannya?

Belum tentu.

Lalu apa penyebabnya?


Ialah alat canggih yang selalu dipegangnya kemanapun pergi: smartphone. Siswa ini memilih cara instan dengan mencari informasi di google.

Sulit menemukan siswa saat ini yang belum berkenalan dengan dunia digital. Bahkan sampai di pegunungan sampai daerah pelosok sekalipun dengan mudahnya kita temukan anak yang bermain gadget di luar jam sekolah mereka. Sebuah dilema muncul. Sang guru sebenarnya kurang sreg jika siswanya menggunakan media yang serba instan ini. Namun ia menyadari, dunia digital, bagaimanapun juga telah menjembatani siswa dengan pengetahuan yang tidak mampu ia ajarkan.

Melarang siswa bersentuhan dengan dunia digital, bahkan untuk suatu pengerjaan tugas rumah bagaikan mencari permata jatuh di padang pasir. Sulit, atau bahkan tidak mungkin. Inilah tabiat anak-anak era digital (apa yang ahli sebut anak-anak generasi Z). Mereka cenderung ingin tahu dan mencoba apa-apa yang dilarang, karena merekapun merasa yakin dan mampu memfilter dampak negatif dari adanya teknologi informasi.

Berat. Padahal kitapun sebagai guru melarang mereka bukan karena curiga, tapi karena melihat ada proses yang tidak wajar dalam peraihan ilmu pengetahuan. Ketidakwajaran itu adalah semakin ia tahu, semakin ia terjauh dari buku.

Buku?

Memang benar bahwa buku bukanlah satu-satunya sumber belajar, bukan pula sumber belajar terbaik untuk materi tertentu. Tapi buku masih lebih baik dari cuplikan-cuplikan informasi yang ada di internet. Buku berisikan tulisan yang melalui proses editing lebih ketat dibanding konten yang tersebar bebas di internet (selama berasal dari penerbit terpercaya).

Lantas bagaimana?


Tidak ada pilihan selain “mendamaikan” keduanya. Saat ini telah banyak bermunculan buku-buku yang diterbitkan dalam bentuk digital yang disahkan oleh penerbit terpercaya. Bahkan beberapa bisa diunduh secara gratis melalui playstore. Langkah ini terbilang cukup baik untuk mengalihkan siswa dari informasi gado-gado nan instan di dunia maya. Namun lebih baik lagi kalau setiap ada tugas rumah, siswa diminta menyertakan sumber referensi buku cetak.

Baiklah, kita tidak tahu bagaimana nasib buku konvensional kedepannya. Kitapun menyadari bahwa sejarah membuktikan perkembangan teknologi informasi jauh lebih cepat dibanding dunia pendidikan. Tapi jangan lupakan sejarah yaa…bahwa orang-orang besar, tokoh-tokoh dunia lahir karena gemar membaca buku. Tahu kenapa?

Karena mereka tahu sedikit hal, namun banyak mengerti. Bukan tahu banyak hal, tapi sedikit mengerti.

Artikel Terkait: