Guru Cerdas, Mendeteksi Kabar Hoax di Dunia Maya

Apakah anda guru pengguna media sosial? Dan rela meluangkan waktu membukanya tiap hari?

Kalau iya berarti kita sama. Kita sama-sama guru yang memanfaatkan media sosial, salah satunya agar mendapat informasi terbaru seputar profesi kita. Agar kita tetap up to date waktu ngobrol sama teman di kantor, bisa berbagi info berharga kepada teman-teman, dan tidak ketinggalan informasi menyangkut karir dan kesejahteraan kita.

Tapi sayangnya, banyak berita sekarang itu yang hoax.

Tak terbayang berapa orang yang sudah membaca info-info tak jelas yang sekarang beredar. Terakhir, saya melihat ada postingan yang mendapat share sebanyak 20.000 lebih, tapi begitu melihat komentar (sebanyak 7 ribuan) banyak yang menilai itu hoak.


Dan dari ribuan komentar itu, TS (akun pembuat posting) sama sekali tak muncul. Cukup aneh bukan? Apa sulitnya mengklarifikasi komentar itu? Wong itu juga bukan media besar kayak JPNN.com, Kompas.com, Merdeka.com. Minimal ya balas, “saya hanya mengutip dari sumber ini”. Sehingga pembaca bisa membandingkan.

Dan begitu saya cek memang berita itu masih berupa draf yang diajukan, disetujui DPR tapi belum rampung apalagi disahkan seperti yang diberitakan.

Sulit dipercaya jika tulus ingin berbagi kebenaran, lalu ada yang menilai itu bohong, tak ada klarifikasi satupun.
Lebih sulit dipercaya jika klaim hoax itu tak kunjung diklarifikasi, lalu di bawahnya terus muncul komentar sampai ribuan.

Nah, jika tidak ingin termakan info hoax, disini sebenarnya kita sudah menemukan salah satu cara mendeteksinya. Yakni melihat pihak yang memposting berita itu.

Tips 1
Teliti orang yang menyebarkan

Nanti akan kita buka beberapa tips sehingga anda bisa menyimpulkan apakah berita itu benar, bohong, atau hanya dilebih-lebihkan.

Mengapa virus hoak juga menyasar pendidikan?

Banyak yang kaget sebenarnya. Kenapa gak cuma di politik saja, yang jelas-jelas ada maksudnya. Kenapa pendidikan juga kena?

Ada banyak faktornya. Tapi yang utama adalah adanya topik-topik tertentu yang memang sensitif di kalangan guru. Harus diakui sampai saat ini masih ada HARAPAN/IMPIAN para guru yang belum terselesaikan:
  1. Kenaikan gaji/tunjangan
  2. Pengangkatan CPNS
  3. Nasib guru honorer
Itulah tema-tema yang sangat menarik perhatian guru.

Dan tema itulah yang banyak dibidik hoakers.

Masalah-masalah sensitif ini dihadirkan kepada kita dengan membubuhkan judul-judul yang spektakuler, sehingga merangsang tidak hanya sekedar membaca, tapi juga membagikan (share). Bandingkan judul artikel ini:

"Draf Diajukan, Tahun Depan Tunjangan Guru Bisa Naik"
dengan ini:
"SELAMAT!!! Tunjangan Guru Tahun Depan Akan Naik Berkali-kali Lipat"

Lebih tertarik yang mana kira-kira?

Kalau saya sih judul kedua, karena lebih komunikatif dan menjanjikan.

Sayangnya, judul pertama meskipun datar tapi itu adalah fakta. Sedangkan judul kedua tampak menjanjikan tapi itu hoax.

Tips 2
Perhatikan judul

Tapi kita juga tidak bisa menyimpulkan semua judul yang bersemangat seperti di atas bodong. Pemilihan teks judul yang menarik itu salah satu prinsip jurnalistik. Tidak salah. Semua penulis pasti mempelajarinya. Namun penulis yang baik akan tetap memperhatikan kaidah tata bahasa dan ejaan yang benar, serta yang terpenting benar-benar mewakili isi berita.

Nah jika sudah mencermati judulnya, lanjutkan dengan mencermati nama situs (domain). Umumnya situs berekstensi .com, .net (berbayar) lebih kredibel dibanding situs gratisan. Tapi bukan jaminan. Sekarang banyak muncul situs-situs berbayar yang berisi konten bodong juga.

Bahkan situs berekstensi .id yang pendaftarannya harus menggunakan KTP juga bukan jaminan.

Bagaimana mengeceknya? Silahkan masukkan nama situs itu di WHOIS.

Who Is adalah tools yang akan menampilkan identitas/deskripsi apa pun mengenai situs. Jika tidak muncul deskripsi apa-apa waktu dimasukkan, maka situs itu layak dicurigai.

Tips 3
Cek alamat situs di WHOIS

“Sekarang kita sudah menemukan ada tiga elemen yang perlu diperhatikan sebelum masuk ke konten berita: Akun pemosting, judul, dan nama situs.”

Di awal, mungkin tips-tips tersebut terkesan ribet. Ngapain sih mau baca aja repot ini itu?

Itu karena kita sudah terbiasa dengan alur seperti ini: Melihat ada info yang dibagikan > membacanya > kalau benar kita ikuti, kalau palsu ya kita abaikan.

. . .itulah pola yang disukai para penyebar hoax.

Jika hanya pola itu yang kita pakai, maka info-info hoax akan terus berkembang. Untuk itu waktu membaca, periksa betul konten beritanya, eksplore semuanya. Jika ada link sumber yang dicantumkan, bukalah link itu untuk melihat sama atau tidaknya.

Apakah sesuai dengan ekspektasi anda waktu membaca judul tadi? Atau anda hanya menemukan tulisan copy paste yang hanya 2-3 paragraf?

Sampai disini, hanya anda yang bisa menyimpulkan. Jika berita itu fakta, silahkan terus mengikuti berita pada situs kredibel tersebut. Namun jika palsu, mari bersama-sama memberi punishment (tips 6).

Satu yang penting, setelah selesai membaca jangan terburu-buru meninggalkan situs itu. Periksa menu KONTAK yang bisa dihubungi. Ada atau tidaknya menu kontak menjadi ukuran apakah pemilik situs itu mau bertanggungjawab atau tidak terhadap isi konten.

Logikanya begini, kalau orang berniat baik ingin berbagi, kenapa tidak memberi kesempatan pembaca untuk menyampaikan pertanyaan, kritikan atau sekedar berterima kasih.

(Seperti blog sederhana saya ini. Jelek-jelek begini saya bertanggungjawab terhadap seluruh konten, dan menampilkan kontak saya, buat jaga-jaga aja kalau ada pertanyaan, masukan, atau keberatan dari pembaca).

Tips 4
Cek kontak yang bisa dihubungi

Nah sebenarnya perlu juga kita menguasai analisis konten (analisis wacana) untuk mengetahui benar atau tidaknya berita hanya berdasarkan teks. Tapi saya tidak akan membahasnya disini.

Empat langkah di atas sudah cukup untuk menilai suatu berita yang dimuat situs/website itu fakta atau hoax.

Nah setelah kita menemukan situs yang terbukti menyebarkan info palsu, provokatif, atau melebih-lebihkan, kita harus bertindak. Sekali anda bisa membuktikan suatu situs menyebarkan info palsu, sangat naïf kalau masih mau mengunjungi situs itu selanjutnya.
  1. Jika info itu dishare di Group Facebook, laporkan ke pengurus/admin.
  2. Jika itu diposting langsung oleh akun atau fanspage, segera sampaikan pertanyaan via pesan. Tunggu jawabannya. Jika memuaskan, kita bisa sampaikan terima kasih atas kesediannya menanggapi. Namun jika tak kunjung menjawab, segera banned akun itu, unlike, unfollow dan sejenisnya.
  3. Bergabung dengan Group Facebook terpercaya yang khusus menangani masalah hoax. Salah satunya adalah Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. Saya juga belum lama bergabung, tapi saya melihat ada keseriusan para anggotanya untuk saling membantu mendeteksi suatu info yang dikategorikan hoax.

Tips 5
Bergabung dengan Grup Facebook Anti Hoax yang kredibel

Namun untuk melakukan tindakan di atas masih ada beberapa kendala. Kendala itu datang dari naluri para guru sendiri.

Coba simak komentar-komentar ini.
Meski sudah mencium indikasi hoax, kita akan tetap berkomentar seperti ini.


Selain guru, siapa lagi coba yang masih memberi komentar positif pada kejanggalan-kejanggalan. Ini adalah bentuk kedewasaan kita. Tapi seyogyanya hal itu tetap dibarengi aksi/tindakan memberi punishment seperti di atas.

Kendala lainnya juga datang dari Admin/pengurus Group yang kurang peduli, padahal membernya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu.

Saya pernah mengirim pesan kepada admin/pengurus salah satu grup guru terbesar (membernya 200.000 lebih). Sekedar menanyakan tanggapannya terkait banyaknya info hoax yang muncul di grup yang beliau kelola.. Alhamdulilah sampai saya menulis ini belum ada tanggapan sama sekali.

Tips 6
Beri Punishment

Terakhir, ini hanya kita perlukan jika masih ragu apakah info yang kita terima itu benar atau hoax. Ini cara lama : GOOGLING.

Silahkan mencari info serupa di google. Harusnya kalau itu berita besar dan fakta, maka ada banyak media besar lain juga yang memberitakannya. Namun jika tidak ada info sama sekali, atau hanya dipelintir kata-katanya, maka bisa dipastikan kalau itu info abal-abal.

Tips 7
Googling

Nah itulah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendeteksi informasi yang kita terima itu fakta atau hoax. Kita tentu berharap kebijakan selalu memihak guru, tapi jangan sampai info palsu atau prematur yang datang pada kita.

Memang kalau boleh jujur, guru sendirilah yang bisa menangkal beredarnya info seperti itu.

Caranya adalah dengan menulis sendiri..

Kita bisa membuat blog pribadi atau blog sekolah dan mengisinya dengan tulisan-tulisan positif. Tak perlu berat, hanya keseharian saja. Siapa tahu bisa menginspirasi yang lain.

Sederhana tapi menginspirasi itu kan jauh lebih baik, dibanding besar tapi hoax!

Artikel Terkait: