Tips Ceramah yang Baik Saat Mengajar

Metode ceramah itu ‘korban’ dari pergeseran paradigma belajar saat ini!!

Saya tak asal ngomong. Sewaktu kuliah dulu, saya sering melihat beberapa teman yang mempresentasikan cara mengajar modern (cooperative, active learning, contextual) pasti bawa-bawa metode ceramah ini. Sialnya, ceramah ini dijadikan bahan perbandingan.

“Sebaliknya, ceramah adalah metode konvensional yang membuat siswa pasif”, kurang lebih seperti itu.

.....seringnya dapat peran antagonis.

Tiba saat benar-benar menjadi guru, banyak yang gagap. Hafal dan paham dengan sejuta teknik mengajar ternyata tidak cukup, tanpa diimbangi teknik berbicara yang baik di depan kelas. Banyak penyampaian yang ambigu, kurang menarik perhatian, dan paling parah: malah membingungkan siswa.

Bahkan ada banyak keadaan yang membuat guru dituntut banyak-banyak berceramah pada siswa. Contohnya guru yang kebagian mengajar di kelas bongsor. Tuntutan menghadapi UN/US disikapi dengan ceramah > drill > ceramah > drill. Model-model student centered hanya tertuang di perangkat pembelajaran, prakteknya ceramah yang “diam-diam” selalu kita gunakan.


Bagaimana dengan guru-guru berpengalaman?

Setali tiga uang. Kenyataannya, guru berpengalaman sekalipun juga tak jaminan punya teknik ceramah mumpuni. Tak semuanya memang, banyak yang sudah hebat.

Itulah alasan tulisan ini dibuat. Untuk memberi alternatif cara menggunakan metode ceramah yang efektif.

Dan tips-tips ceramah ini tidak anda perlukan jika:
  1. Seisi kelas sudah fokus dengan penyampaian anda mulai awal masuk sampai pulang.
  2. Tidak ada yang mengantuk saat pelajaran berlangsung.
  3. Tidak pernah ada yang protes dengan nada dan volume suara anda.
Intinya tidak ada masalah dengan cara penyampaian anda kepada siswa-siswi.

Namun jika ingin lebih baik lagi, ada baiknya kita sama-sama mempelajari teknik berceramah yang efektif.


Baik, inilah tips-tips yang semoga bisa membantu..

1# Bangun Sense of Humour Anda

Pada dasarnya setiap orang suka joke. Hampir tidak ada yang tidak menyukainya. Siswa juga demikian. Akan muncul suasana cair, akrab dan menghilangkan rasa bosan jika guru suka melempar joke-joke segar.

Tapi ada satu masalah. Tidak semua orang beruntung punya karakter humor seperti ini. Benarkah?

.....ada benarnya juga.

Akan tetapi tidak memiliki itu bukan berarti tidak bisa dipelajari. Karena ini kebutuhan, kitapun sedikit-sedikit harus punya selera humor ini.

Ada banyak humor yang tiap hari bersliweran di sekitar kita, yang dari grup whatsapp, facebook, dan media sosial yang kita ikuti. Semuanya bisa dijadikan bahan saat kita perlu menghadirkan candaan-candaan di kelas.

2# Kuasai Kelas

Ini adalah skill dasar seorang guru.

Dengan jumlah siswa dan luas kelas yang ada, kita harus memastikan siswa yang duduk paling jauh sekalipun mampu menangkap suara kita dengan jelas. Jangan-jangan siswa paling belakang ngobrol sendiri bukan karena penyampaian kita kurang menarik, tapi karena volume suara terlalu pelan.

Nah, siasatnya adalah membiasakan memberi penyampaian dengan berkeliling kelas. Ini akan meminimalkan volume sekaligus memaksimalkan jangkauan suara.

Penataan bangku juga penting diperhatikan, karena berhubungan dengan posisi guru berdiri. Untuk ceramah, posisi terbaik adalah di tengah-tengah siswa. Sehingga bangku siswa bisa disesuaikan.

3# Jangan bergaya ‘one man show’

Ceramah terbaik itu lebih mementingkan interaksi kepada lawan bicara. Ceramah terjelek itu yang hanya memikirkan diri sendiri tanpa melibatkan lawan bicara.

Libatkan siswa untuk tiap ceramah anda. Gunakan saat yang tepat untuk berinteraksi, dan minta salah satu siswa untuk berdiri menemani anda, sebagai role model.

4# Jiwai Materi Pelajaran

“Menjiwai” lebih dari “menguasai”. Kalau sudah menjiwai, orang akan tahu apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan situasi yang tak direncanakan, seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan unik dari siswa. Karena memang materi telah dikuasai lebih dalam.

…..tapi ini soal pengalaman.

Guru yang masih baru lulus kuliah sulit untuk langsung menjiwai materi, meski segalanya sudah ia pelajari. Butuh waktu untuk merasakan bagaimana materi itu diterima dan diserap siswa dengan berbagai karakter mereka.

Seperti kata pepatah: “bisa karena terbiasa”.

5# Perbanyak kata “Kita”, bukan “Saya”

Kenapa harus “kita”, apa yang salah dengan kata ‘saya’?

Tidak ada yang salah sebenarnya, jika memang itulah konteksnya. Seperti saat sedang memberi motivasi melalui cerita dan pengalaman pribadi.

Namun penggunaan kata saya yang dominan menimbulkan kesan memisahkan diri dari siswa. Sedangkan internalisasi informasi dari guru ke siswa hanya mungkin terjadi bila sudah ada rasa menyatu, “Aku adalah kamu, Kamu adalah aku”.

…..inilah perlunya banyak-banyak menggunakan kata “kita”.

Kalimat seperti ini, “hari ini kalian akan mempelajari materi …..” bisa diganti dengan “hari ini kita akan bersama-sama mempelajari …”.

Atau kalimat, “Sekarang saya akan menunjukkan bagaimana cara kerja pengungkit”, bisa diganti dengan, “Sekarang kita akan bersama-sama melihat bagaimana pengungkit itu bekerja”.

6# Lebih penting tanggapan siswa, dibanding apa yang kita sampaikan.

Dengan atau tanpa persiapan, guru pasti berusaha menyampaikan materi sebaik mungkin. Tapi ada yang lebih penting dari itu, yakni tanggapan atau pertanyaan siswa.

Maksudnya, jika kita telah yakin materi yang kita sampaikan itu baik, maka dalam menanggapi pertanyaan siswa harus lebih baik. Ini sangat membantu siswa menumbuhkan kepercayaan kepada kita pada pembelajaran selanjutnya, terutama saat kita sedang berceramah.

7# Gunakan kata kunci

Bahkan seorang motivator terhebat sekalipun tak akan bisa membuat pendengarnya ingat 100% apa yang ia sampaikan. Otak hanya menyaring beberapa kalimat saja yang unik, simpel dan menarik.

Itulah kata kunci.

Masih ingat dengan salah satu model mengajar PAIKEM GEMBROT? Istilahnya unik sehingga siapapun pasti tetap ingat meski hanya mendengar sekali saja.

8# Pakai gaya bicara sendiri

Ini yang terakhir dan menurut saya paling penting.

Kita boleh saja mempelajari trik ceramah dari orang-orang yang terbukti sukses, motivator misalnya. Kita bisa meniru bagaimana gerakan tangan, cara melangkah, kapan menggunakan nada tinggi, rendah, dan sebagainya. Semakin banyak referensi akan semakin bagus.

Tapi jangan sampai meniru persis dengan sang tokoh. Apalagi jika ia sudah terkenal. Yang ada bukan tambah berwibawa, tapi justru akan terlihat lucu di mata siswa-siswa kita.

Itulah 8 tips agar ceramah seorang guru bisa lebih efektif menarik perhatian siswa. Skill berbicara yang hebat akan turut mendukung suksesnya seorang guru saat menerapkan model-model mengajar yang bervariasi. Apa saja model mengajar yang bisa kita gunakan?

Artikel berikut ini akan tuntas menjawabnya:

Artikel Terkait: