Bagaimana Cara Guru Mengatasi Anak Hiperaktif?

Masih menjadi persoalan sampai saat ini apakah anak hiperaktif boleh masuk di sekolah umum atau di sekolah yang khusus menangani anak-anak berkebutuhan khusus.

Di satu sisi, aturan menyebutkan bahwa sekolah dilarang menolak siswa yang sudah memasuki usia sekolah, selama kuota masih ada. Di sisi lain, sebagian besar guru tidak memiliki keahlian menangani anak seperti ini.

. . .ini salah satu dilema terbesar guru.

Sekolah bisa saja mengarahkan orang tua agar memasukkan anaknya ke Sekolah Luar Biasa. Faktanya lebih banyak orang tua yang tidak rela dan memohon agar anaknya diterima karena yakin jika anaknya berkumpul dengan anak-anak normal, ia pun akan beradaptasi dan tumbuh sebagaimana anak pada umumnya.

Nah, ada baiknya guru memiliki keahlian menangani anak-anak seperti ini.

Bukan keahlian sebenarnya. Tetapi hanya keterampilan dasar untuk menghadapi anak-anak yang terkenal membuat orang lain jengkel dan kewalahan ini.

Sebelum kita melihat bagaimana mengatasi siswa hiperaktif, ada baiknya kita tahu dulu perbedaan siswa aktif dan hiperaktif. Ini penting karena masih banyak yang belum tahu perbedaannya.

Sering kita melihat siswa yang selalu bergerak, seolah tak bisa diam. Lalu beberapa orang (mungkin termasuk kita) melabelinya dengan sebutan anak hiperaktif.

Belum tentu.

Anak yang pola tingkah lakunya berlebihan dibanding temannya, suka jahil, gampang berbuat onar, tak bisa diatur belum tentu masuk kategori hiperaktif. Bisa saja ia hanyalah tipe siswa aktif dalam arti memiliki energi dan tenaga yang berlebih, sehingga perilakunya secara kuantitas lebih menonjol dibanding lainnya.

Mereka itu anak normal, tanpa gangguan.

Berbeda dengan anak aktif, anak hiperaktif memiliki gangguan perkembangan otak, yang menyebabkan tingkah lakunya menjadi tidak normal. Bukan itu saja, hiperaktif juga bisa disebabkan oleh gegar otak, gangguan di kepala karena terjatuh, atau karena faktor bawaan sejak kecil.

Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif

Untuk lebih jelasnya, inilah perbedaan antara keduanya:

Bagaimana saat ia diberikan tugas/aktivitas?

Anak aktif masih menunjukkan konsentrasi dan fokusnya, sedangkan anak hiperaktif cenderung tidak fokus dan cepat merasa jenuh sebelum tugasnya selesai. Kadang-kadang ia sampai meluapkan kemarahan di luar batas saat merasa tak mampu menyelesaikannya.

Bagaimana saat bergaul bersama temannya?

Anak aktif masih menunjukkan empati dan kepedulian untuk berbagi, sedangkan anak hiperaktif sulit bergaul karena sangat agresif, gampang marah dan memberontak, bahkan merusak.

Dan ini yang lebih jelas…

Bagaimana saat ia merasa lelah?

Anak paling aktif sekalipun akan menyadari dirinya perlu beristirahat, sedangkan anak hiperaktif seperti tak kenal kata lelah. Selalu saja ada hal-hal yang membuatnya berbuat sesuatu, dan kebanyakan adalah aktivitas-aktivitas yang tidak perlu seperti mengangkat kedua tangan, menggerak-gerakkan kaki, memukul meja, menaiki kursi, dan sebagainya.

Baiklah, setelah kita tahu perbedaan antara keduanya, kita bisa memberikan perlakuan. Sebenarnya penanganan terhadap anak hiperaktif lebih baik jika diserahkan pada guru yang fokus di bidangnya, yakni guru bimbingan dan konseling.

Tapi kita tahu tidak semua sekolah memilikinya. Apalagi di SD yang memang menugaskan guru kelas untuk menjalankan fungsi psikiater ini.

Apa yang terjadi jika guru tidak punya kemampuan mengatasi anak hiperaktif?


Ketidakmampuan mengatasi anak hiperaktif akan berakibat pada hal-hal berikut:

* Kegiatan belajar mengajar akan terkendala

Mungkin saat ini anda tidak punya siswa berkebutuhan khusus ini. Tapi bisa saja saat-saat ke depan akan menghadapinya. Nah jika kita punya modal trik yang bagus untuk mengatasinya, tentu kita akan siap jika sewaktu-waktu diminta menganganinya.

* Menghambat perkembangan teman lainnya

Kita tahu bahwa yang paling dipikirkan guru saat ada anak hiperaktif adalah teman-temannya. Bagaimana tidak, seisi kelas bisa-bisa gagal berkonsentrasi karena ulah berlebihan satu anak ini.

* Membahayakan anak hiperaktif itu sendiri

Akibat yang terakhir adalah keselamatan anak hiperaktif itu sendiri. Hal buruk bisa terjadi diluar kesadaran anak jika guru tidak memiliki kemampuan menanganinya.

Tips Mengatasi Anak Hiperaktif

Baik, inilah cara yang bisa ditempuh guru untuk menenangkan anak hiperaktif.

1. Saat tingkah lakunya sudah tak terkendali, beri sentuhan atau pijatan lembut pada pundaknya. Sentuhan lembut dan pijatan adalah salah satu gerakan ketenangan.

Yakinkan bahwa Anda lah orang yang bisa ia percaya. Sehingga ia harus bisa menenangkan diri saat bersama anda.

2. Dampingi ia ketika ada gelagat marah yang berlebihan. Segeralah memintanya menarik napas yang panjang, keluarkan perlahan.. Sampai ia menunjukkan sikap tenang.

3. Aturlah apa saja yang boleh ia konsumsi di sekolah. Hal ini tentu saja sudah dikonsultasikan dengan orang tua.

Makanan yang mengandung banyak gula, bahan pengawet, pewarna, perasa, pengawet, dan minuman dingin sangat tidak baik baik anak hiperaktif karena bisa mengakibatkan agitasi.

4. Jangan mengatakan anda akan memberi perlakuan yang berbeda dibanding teman lainnya. Ini salah satu yang bisa memicu kemarahannya.

Biarkan ia melakukan aktivitas sebagaimana biasa, sehingga teman-temannya bisa mengerti apa yang harus dilakukan untuk membantunya.

5. Beri pengertian teman satu kelas untuk tidak antipati terhadapnya. Bahkan mereka bisa berperan membantu si anak hiperaktif agar bersikap normal kembali.

Berilah petunjuk yang jelas kapan harus mendekat dan mengajaknya bermain, dan kapan harus menjaga jarak.

6. Dorong dia untuk aktif berolahraga tidak hanya saat pelajaran di sekolah namun juga di rumah.

Olahraga merupakan aktivitas yang membutuhkan energi ekstra, sehingga bila anak menyadarinya ia akan tahu aktivitas apa yang bisa mengalihkannya dari rasa frustasi dan marah yang berlebih.

7. Gunakan ruangan tertentu yang tenang dan pencahayaan yang redup saat ia memerlukan ketenangan.

Kita tahu ruang kelas sering berisik oleh suara siswa-siswa. Jika memungkinan, gunakan satu ruang yang tenang. Ini akan membantu mempercepat proses relaksasi yang dilakukannya.

8. Komunikasikan dengan orang tua tentang perubahan yang terjadi.

Segera sampaikan apa saja perubahan dalam diri anak. Guru tidak bisa menjamin anak hiperaktif bisa tumbuh normal sebagaimana anak pada umumnya, namun hanya mengupayakannya.

Untuk itu jika kemampuan guru sudah mencapai batas, maka harus segera menghubungi orang tua untuk membicarakan upaya-upaya selanjutnya.

Itulah 8 upaya yang bisa kita lakukan. Untuk melakukannya tentu tidak mudah, dan membutuhkan kesabaran ekstra. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda yang saat ini sedang menghadapi siswa hiperaktif di sekolah.

Artikel Terkait: