Bahaya Menyontek Bagi Masa Depan Anak

Harus diakui, menyontek sudah dianggap hal lumrah dalam dunia pendidikan. Bukan hanya sekarang, tapi sejak dulu.

Ada penelitian yang melaporkan tingkat kecurangan siswa di sekolah menengah. Hasilnya, 70% dari keseluruhan siswa sering menyontek. Penelitian ini juga melaporkan bahwa siswa yang berprestasi menyontek sama seringnya dengan yang kurang berprestasi.

Budaya ini sudah demikian akutnya. Sampai-sampai banyak jadi korban bully gara-gara ogah memberi contekan. Dicap pelit, dan disingkirkan dari pergaulan.

Kenapa ini bisa terjadi?

Salah seorang psikoterapis, Dr. Joan Munson, menuturkan bahwa hal ini disebabkan semakin banyaknya tes yang harus dikerjakan oleh anak, bahkan sejak mereka masih SD. Benar kah?

Ada benarnya juga.

Tak terbayang. Kalau ditotal sejak SD sampai SMA, mungkin sudah ratusan bahkan ribuan kali anak harus mengikuti ujian. Mulai dari yang paling rutin, ulangan harian, sampai yang periodik macam UTS, UAS, UKK, US, UN, UP, UUC, seleksi masuk, dan U-U lainnya.

Efek baiknya, banyaknya tes itu memupuk jiwa kompetitif dalam diri mereka. Efek buruknya, mereka pakai cara instan dan menyimpang jika merasa tes itu di luar kemampuan.

Mungkin selama ini kita mengira menyontek itu hanya melihat pekerjaan teman, atau melihat catatan kecil yang disimpannya.

Bukan hanya itu. Ada lagi perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai menyontek, seperti:
  • Bertanya langsung pada teman tentang petunjuk /cara menyelesaikan.
  • Copy paste tugas dari internet tanpa menulis sumbernya.

Menyontek itu berbahaya. Terbiasa menyontek akan menggadaikan masa depannya.

Pasalnya mereka yang terbiasa menyontek dan menyalin pekerjaan teman akan kesulitan mengembangkan ide. Alih-alih menuangkan ide orisinilnya, mereka pilih diam menunggu sambil berharap ada temannya yang mau membantu.

Hal ini mengakibatkan mereka tak pernah berinovasi, sehingga kreativitasnya pun tumpul. Bukankah kreatif dan inovatif itu yang sangat kita inginkan tumbuh dalam diri anak agar nanti jadi orang sukses?

Untuk itu, jangan membiarkan anak mulai menyontek sewaktu ujian. Jangan pula diam saat mereka melakukan tindakan plagiat untuk tugas sekolah. Gak apa-apa kita disebut guru kejam, killer, atau apalah. Toh semua itu demi masa depan mereka.

Karena kalau kebiasaan menyontek ini dibiarkan, inilah yang akan terjadi pada anak:

1. Tidak mandiri
Kemandirian itu kunci mencapai pribadi yang matang. Menyontek akan menyebabkan anak memiliki rasa ketergantungan tinggi pada orang lain, karena ia terbiasa mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan tugasnya.

2. Gampang menyerah
Kecil sekali harapan sukses bagi anak yang mudah menyerah. Ketika ia menghadapi permasalahan dan tak ada orang lain yang mau membantunya, ia akan memilih diam dan tidak berusaha mencari jalan keluar mengatasinya.

3. Takut salah
Jangankan memunculkan hal-hal baru, untuk ide kecil saja ia tidak akan berani mengemukakan. Yang ada di pikirannya hanya ketakutan akan disalahkan, ditertawakan, dan sebagainya.

4. Minim kreativitas
Tidak ada kreativitas yang muncul dari orang yang suka plagiat. Di era kompetisi seperti sekarang, mereka yang sukses adalah yang kreatif selalu berinovasi mengembangkan hal-hal yang sudah ada.

5. Tukang kibul
Pernah ada anak yang jujur menyatakan dirinya menyontek? Padahal kita tahu dirinya adalah penyontek ulung?

Anak yang suka menyontek akan berusaha menggunakan seribu cara menutupi perbuatannya dan mencari alasan saat ketahuan. Bibit ketidakjujuran ini akan berbahaya jika bertahan sampai lama. Mereka sulit mendapatkan kepercayaan orang lain karena suka menutupi kesalahan.

Nah, itulah alasan mengapa menyontek berbahaya bagi masa  depan anak. Mungkin saat masih bersekolah, efeknya kurang terasa. Tapi kalau sudah menapaki usia remaja bahkan dewasa, dan masih mewarisi kebiasaan menyontek ini, pastinya ia akan sulit berkompetisi di era persaingan se[erti sekarang ini.

Lalu, apakah kebiasaan buruk ini bisa dihilangkan? Sulit. Itulah faktanya. Selama ada ujian, apalagi yang jumlahnya seabrek ini, niat mencontek akan tumbuh jika ada kesempatan.

Namun kita bisa “menggeser” kebiasaan menyontek yang salah ini menjadi budaya menyontek yang jujur dan memberikan efek positif bagi anak. Jika anda tertarik dengan ini, silahkan membaca artikel Yuk Ajari Anak Mencontek yang Aman dan Halal.

Demikian postingan tentang bahaya menyontek bagi masa depan anak. Mudah-mudahan bermanfaat…

Artikel Terkait: