Cara Mengatasi Bully di Sekolah

Budaya bully adalah masalah serius di dunia pendidikan. Mereka yang jadi korban bully pasti akan merasa tertekan, karena dijauhkan dari pergaulan.

Praktik bully yang dilakukan antar siswa bentuknya beragam. Saya tidak ingin menyebutnya disini, karena saking banyaknya. Mulai dari hal sepele sampai serius, bisa menjadi bahan untuk memojokkan dan melecehkan teman sekelas.

Urusan luar sekolah dibawa ke sekolah, urusan sekolah dibawa sampai ke luar sekolah. Itulah siswa kita sekarang. Ada siswa yang posting norak sedikit saja di medsos, dapat bully di kelas tak henti-hentinya. Hal-hal tak penting yang jelas mengganggu kewajiban belajar mereka.

Yang lebih disorot dalam tulisan ini adalah sang guru sendiri. Dalam konteks perbullyan di kelas/sekolah, guru punya peran ganda. Yang pertama menjadi penyebab siswa dibully teman-temannya.

Adakah guru yang seperti itu? Banyak. Umumnya ini dilakukan tanpa disadari. Penyebabnya karena emosi yang tak terkontrol akibat kesalahan seorang siswa.

Dan yang kedua guru yang mampu mengatasi dan menghentikan kebiasaan membully yang dilakukan siswanya. Meskipun dua peran ini bertolak belakang, hampir semua guru melakukan kedua-keduanya.

Guru jadi penyebab siswa dibully


Sebenarnya sulit untuk berharap bully bisa hilang dari dunia persekolahan. Karena gurupun terkadang punya andil melanggengkan budaya ini.

Dan faktanya, anak lebih merasa terbebani oleh bully yang disebabkan oleh gurunya. Kenapa? Karena guru adalah tumpuan terakhir siswa sebagai pemberi solusi masalah di sekolah. Kalau gurunya yang jadi aktor penyebab, apa lagi yang bisa ia lakukan?

Ada beberapa tipe bully yang dilakukan guru, mulai dari yang tingkatan ringan sampai yang berat. Dan yang luput disadari, guru tidak pernah membully siswa secara secara langsung, tapi dialah penyebab si anak dibully teman-temannya.

Inilah perilaku yang bisa menyebabkan siswa dibully teman-temannya:

1. Memarahi

Dalam bentuk paling ringan sampai berat, memarahi anak apalagi disaksikan teman-temannya akan membuatnya menanggung beban bully di hari-hari berikutnya. Makin rendah jenjang pendidikannya, semakin berbahaya bagi si anak.

Usia anak-anak lebih tinggi tingkat ketergantungannya pada teman lain. Jika temannya oke padanya, ia akan bersemangat. Tapi kalau teman mengucilkannya, lihatlah dirinya selalu murung dan menyendiri.

Untungnya, anak usia ini gampang melupakan peristiwa-peristiwa yang jadi bahan bully-an. Biasanya hanya butuh waktu satu atau beberapa hari bagi teman-teman untuk berbaikan lagi.

Dalam waktu yang singkat itu, dia akan tersenyum kembali. Beberapa kasus perlu diwaspadai, seperti anak yang dikucilkan dalam waktu lama.

Bagaimana dengan sekolah menengah?

Ingatan mereka lebih kuat terhadap peristiwa-peristiwa memalukan. Sehingga berbahaya jika seorang anak dibully secara terus menerus. Apalagi jika dibawa-bawa ke media sosial.

2. Membanding-bandingkan dengan siswa lain

Semua anak tidak suka dibanding-bandingkan. Jangan jauh-jauh, bayangkan diri sendiri. Bagaimana perasaan kita waktu dibanding-bandingkan dengan teman seangkatan yang sekarang lebih sukses. “Itu temanmu, sekarang sudah begini, udah bisa begini..”.

Pasti hati akan memberontak, “Saya juga bisa sebenarnya kalau mau…”, “Ah…itu karena dia dibantu orang tuanya…”. Atau kalau sudah mentok tak ada lagi pembelaaan, “Dia hanya beruntung saja…”.

Orang dewasa seperti kita bisa mengkondisikan emosi dan batin seperti itu. Kita sebenarnya marah dan tak terima, namun karena malu atau apa, kita menyembunyikannya dengan memaksa pikiran agar bisa menerima dengan bijak.

...anak-anak belum punya kemampuan seperti itu.

Mereka akan lebih defensif manakala tekanan terasa semakin berat. Hati-hati. Kalau sudah sampai pada titik frustasi,  urusannya bakal lebih panjang.

3. Memberi hukuman

Dalam profesi keguruan dikenal dengan istilah reward and punishment. Penghargaan dan hukuman. Memberi hukuman adalah salah satu kompetensi yang wajib dimiliki guru.

Memberi hukuman yang seperti apa? Hanya ada satu jawaban: HUKUMAN YANG MENDIDIK.

Apakah masih ada di jaman sekarang guru yang menghukum siswanya hormat bendera di tengah terik matahari? Atau berkeliling kelas pakai helm sambil menyatakan kesalahannya? Hukuman jenis inilah yang masuk kategori guru menjadi sebab siswanya dibully.

Hukuman yang tak relevan dan cenderung ingin mempermalukan siswa  di hadapan teman-temannya sangat berpotensi mengakibatkan siswa itu diolok-olok temannya. Bukan satu dua hari, sampai lulus pun juga akan terus diingat.

Pikirkan berapa lama si anak itu bisa mengembalikan kepercayaan dirinya di hadapan teman-teman?

Hanya saja inilah teknik yang paling dipilih guru saat ini. Mengapa? Sejak beberapa kasus guru dilaporkan ke polisi gara-gara menghukum siswa mencuat di media massa, fakta di lapangan menunjukkan guru-guru mulai membatasi kontak fisik dengan siswa.

Menghukum salah, membiarkan juga salah.

Ini memang dilematis. Menghukum siswa secara empat mata (individu) tanpa dipermalukan di hadapan umum kadang tidak mempan untuk menyadarkan si anak akan kesalahannya. Memberi hukuman secara fisik juga berpotensi diperkarakan.

Cara mengatasi bully di sekolah


Alasan menghentikan bully di kelas/sekolah adalah tidak ada manfaat dari kebiasaan ini. Ada sih beberapa anak yang justru malah menjadi pribadi yang tegar gara-gara kenyang dibully.

Namun kebanyakan anak-anak ini akan beganti menjadi pelaku sebagai bentuk balasan terhadap apa yang sudah dirasakannya.

Di masa depan, anak yang gampang membully berbahaya. Sampai kapan ia menandalkan kekuatannya untuk terus menjadi penindas? Yang sering dibully lebih berbahaya. Ketidakmampuan bangkit bisa mematikan kepercayaan diri yang sangat penting dalam hidup.

1. Jadikan pertemuan pertama itu yang utama

Jangan menyepelekan pertemuan pertama. Beberapa guru gagal pada satu tahun pelajaran karena tidak memaksimalkan hari tatap muka pertama dengan siswanya. Mereka menanggap waktu maha penting ini sama dengan hari-hari lainnya.

Begini. Kalau siswa itu bukan murid kita di kelas, mereka hanya melihat kita sekilas. Anak-anak itu menilai kita terbatas, hanya sebatas apa yang mereka ketahui dengan bantuan informasi-informasi dari murid kita sendiri.

Begitu mereka memasuki tahun pelajaran baru dan mendapati anda sebagai gurunya, mereka akan menunggu. Siapa anda, bagaimana karakter anda, apa yang anda inginkan setahun ke depan.

Jangan sia-siakan kesempatan ini. Masukkan kata “Kelas Tanpa Bully”, atau “Anti Bulllying Teman Sekelas” dalam peraturan kelas. Intinya posisikan diri anda sangat benci terhadap perilaku negatif ini.

“Karena kelas ini sudah bersama-sama sejak ...., sudah menjadi kesatuan, memulai bersama dan melakukan banyak aktivitas bersama-sama, saya paling anti melihat ada yang menghina, melecehkan, mengucilkan temannya di luar batas bahkan sampai dibawa-bawa ke luar sekolah, termasuk media sosial. Ingat, haram bagi saya melakukan hal itu.”

2. Catat anak-anak potensial dibully

Nama anak-anak yang pendiam, introvert, mental lemah idealnya kita kantongi sejak sebelum mulai mengajar suatu kelas. Kita bisa menanyakannya pada guru sebelumnya.

Pun halnya dengan siapa-siapa jagoan kelas, yang paling punya pengaruh pada teman-teman lain. Beruntunglah anda jika “penguasa”  kelas adalah siswa berprestasi. Meskipun kemungkinan itu sangat sedikit. Anak berprestasi cenderung kurang suka urusan pengaruh-mempengaruhi.

Dua jenis siswa inilah yang jadi perhatian utama dalam hal perbullyan. Mereka berpotensi meneruskan kebiasaan lama, menjadi korban dan pelaku.

3. Jaga konsistensi

Posisikan diri anda di pihak anak-anak yang sering jadi korban bully. Ini penting bagi kepercayaan dirinya.

Guru memihak? Sah-sah saja. Karena jagoan-jagoan itu sudah  tidak perlu lagi dilatih mentalnya, sudah oke. Tinggal diarahkan ke arah yang positif. Tapi bagi anak yang sering jadi korban, mereka perlu di back up oleh orang yang lebih punya kuasa dibanding jagoan-jagoan kelas. Dan itu adalah guru.

Jaga konsistensi selama satu tahun utuh menjaga ucapan tegas anda di awal sebagai orang paling anti dengan praktik perbullyan. Ini yang paling sulit. Jangan sampai ada situasi yang tanpa anda sadari melanggar janji anda. Mudah bagi mereka untuk sekedar membuyarkan kepercayaan terhadap anda.

“Dalam banyak hal, guru berintegritas lebih berarti ketimbang guru jenius.”

Jangan lupa tahan emosi anda waktu ingin memberikan punishment. Karena jika tak mampu mengkontrol, hukuman yang kita munculkan mungkin juga menjadi penyebab dia akan dibully temannya dalam waktu lama. Seperti yang kita bahas di atas.

Itulah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi praktek bully di sekolah. Sulit? Iya. Karena yang kita hadapi adalah siswa yang sebenarnya sadar dan mengerti kalau membully itu salah, tapi masih dilakukan juga.

Baca juga: Permendikbud tentang Pencegahan Perundungan di Sekolah

Silahkan terapkan poin-poin di atas jika anda merasa cocok dan sesuai untuk dilakukan. Hiasilah hari-hari di kelas anda dengan energi positif berupa siswa-siswa yang saling mendukung dan membantu sama lain. Bukan saling membully yang tak ada manfaatnya sama sekali.

Artikel Terkait: