Tips Guru Menghadapi 8 Jam Kerja Sehari, Persiapan Full Day School

Tahukah anda kapan 8 jam kerja itu mulai diterapkan?

Dulu, tidak pernah ada aturan khusus soal jam kerja. Siapapun yang menjadi karyawan bekerja dalam waktu yang tak tentu, sesuai keinginan perusahaan.

Singkatnya, setiap saat adalah jam kerja. Pekerja disetarakan mesin yang harus bekerja 10 sampai 18 jam sehari untuk memenuhi target produksi dan keuntungan maksimal para pemilik kapital.

Ini terjadi pada masa Revolusi Industri Eropa abad 18, tepatnya antara 1750 – 1850.

Lalu, berbagai pertentangan muncul. Kaum buruh menginginkan pengurangan jam kerja lewat aksi-aksi unjuk rasa. Mereka melawan. Para cendekia memunculkan ide dan pemikiran senada, memberi dukungan.

Seperti Robert Owen, bangsawan Inggris yang menggagas ide 3 bagian waktu sehari: 8 jam untuk kerja, 8 jam untuk istirahat, 8 jam untuk rekreasi.

Meski semua upaya itu ditentang keras kaum pemilik modal dan industri, akhirnya pada tanggal 1 Mei 1886 pemerintah Amerika Serikat menetapkan 8 jam kerja. Ya, 1 Mei, yang kita kenal sebagai hari buruh dunia.

Indonesia agaknya juga mengadopsi aturan di atas. Pasal yang mengatur lama bekerja di Indonesia (pegawai pemerintah) ada pada UU Tenaga Kerja No 13 tahun 2003 pasal 77 ayat 1. Di situ tertera dua sistem jam kerja sebagai berikut.
  • 7 jam kerja sehari untuk 6 hari kerja seminggu (total 40 jam seminggu).
  • 8 jam kerja sehari untuk 5 hari kerja seminggu (total 40 jam seminggu).

Karena (setahu saya) yang bekerja 6 hari seminggu itu hanya guru, maka sistem kerja yang pertama (7 jam kerja) tak perlu lagi ditulis saat kebijakan full day school diterapkan secara nasional.

Persiapan Guru


Pro dan kontra. Penolakan dan dukungan. Itulah yang mewarnai perkembangan wacana full day school sejak pertama kali digulirkan. Dibanding kebijakan-kebijakan penting lain, penerapan 5 hari kerja sekolah dinilai akan melahirkan perubahan fundamental.

Bagaimana tidak, selama ini hanya sekolah (dan madrasah) lembaga yang tetap beroperasi di hari Sabtu. Sejak puluhan tahun, mindset guru dan anak usia 5 sampai 18 tahun: libur itu ya cuma hari Minggu.

Perubahan mindset ini akan diikuti perubahan aktivitas sehari-hari, seperti jadwal liburan, kegiatan di rumah, bekal ke sekolah, jadwal les, dan lain-lain.

Anda yang bekerja di kantoran yang pulangnya sampai sore bahkan sangat terbantu, karena anak bisa dibimbing guru sampai sore. Tapi kalau anda seorang wirausaha, dan punya program sendiri untuk anak di luar sekolah, mungkin harus menyusun ulang jadwal anda.

Itulah salah satu sisi untung dan rugi full day school. Bahkan kalau anda mengajar di daerah terpencil, yang mengajar lebih dari satu kelas, dengan fasilitas yang minim, buatlah perencanaan yang sebaik mungkin karena ke depan energi yang anda keluarkan akan semakin besar.

8 jam sehari, bagi karyawan swasta atau PNS non-guru mungkin biasa. Tapi bagi guru, menyisihkan sepertiga waktu hidup dalam sehari bukan hal mudah.

Setidaknya kalau anda sebagai guru pasti bisa merasakan, bahwa waktu yang anda keluarkan untuk saat ini saja sebenarnya lebih dari 8 jam sehari. Mengapa?

Karena pekerjaan guru belum selesai sepulang sekolah, masih ada pekerjaan siswa yang harus dikoreksi, membuat perencanaan, media untuk esok, dan sebagainya.

Namun daripada meributkan baik atau tidaknya kebijakan ini, lebih baik kita mempersiapkan diri. Itu jauh lebih penting ketimbang ikut meramaikan perdebatan yang tak ada ujungnya.

Inilah hal-hal yang perlu dilakukan guru dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi 8 hari kerja (full day school):


1. Buat daftar/list hal-hal yang harus dilakukan.

Kalau belum punya daftar tugas harian dan bulanan sebagai guru, sisihkan waktu anda untuk hal ini. Kalau fokus, sehari penuh selesai. Maksimal dua haru.

Renungkan apa saja yang sudah anda lakukan di awal tahun, pertengahan tahun, setiap hari. Tuliskan di selembar kertas sebagai bahan membuat perubahan jadwal.

Anda mendapat mandat mengerjakan tugas-tugas tambahan? Seperti wakasek, bendahara, operator, atau lainnya.

2. Rencanakan kepada siapa anda akan berbagi tugas.

Apakah selama ini anda menyelesaikan seluruh tugas anda sendirian? Jika iya, mulai pikirkan kepada siapa anda bisa berbagi tugas. Entah bekerja bersama-sama, atau mendelegasikan tugas itu.

Ke depan, waktu anda dalam sehari tidak sebanyak hari ini. Waktu berkumpul bersama keluarga semakin berkurang jika kita tak mengelola waktu dengan baik.

Atau jangan-jangan anda menyerahkan semua tugas pribadi pada orang lain? Yang ini juga kurang baik. Pilihan ini memang mengurangi beban di pikiran, tapi sekaligus menghambat kita untuk berkembang.

Untuk itu, seimbangkan. Apa yang urgen dan kita mampu, kerjakan sendiri. Selebihnya, kita minta tolong pada orang lain. Misalnya, membuat RPP. Desainnya kita buat secara lengkap, mulai dari metode, media, langkah-langkah pembelajaran. Lalu untuk penataan, kita minta tolong admin atau jasa pengetikan.

3. Kumpulkan aplikasi penting dari internet.

Ada banyak aplikasi yang dibagikan teman-teman guru di blognya, mulai yang berbentuk software maupun excel. Ini akan sangat meringankan tugas anda nanti, sehingga kumpulkan selengkap-lengkapnya.

Untuk mencarinya, kita tinggal mengetikkan kata kunci di google sesuai aplikasi yang kita perlukan. Gunakan daftar yang sudah anda buat di atas untuk mencari segala sesuatu yang anda perlukan.

Namun perlu diingat, karena begitu banyaknya yang membagikan aplikasi ini, simpanlah satu atau dua saja untuk tiap pekerjaan. Kalau waktu anda habiskan untuk mengumpulkannya, justru akan membuat anda semakin pusing. Karena masing-masing punya kelebihan dan kelemahan.

4. Jangan menunda pekerjaan.

Sejak teknologi masuk ke dunia pendidikan, segala sesuatu berubah serba dipercepat. Kita sering diminta mengumpulkan berkas-berkas penting bukan dalam hitungan minggu, tapi bisa besok, bahkan terkadang beberapa jam nanti sudah deadline.

Lampu kuning bagi anda yang suka menunda pekerjaan.

Kalau untuk saat ini saja sudah seperti itu, maka 5 hari kerja nanti kemungkinan akan lebih. Apa yang sebenarnya mampu kita lakukan hari ini lalu kita tunda, hanya akan memperberat pekerjaan esok.

5. Atur ulang jadwal liburan anda.

Full day school berarti ada tambahan hari libur, yakni Sabtu-Minggu. Konsekuensinya, selama 5 hari itu kita seperti “tidak bisa kemana-mana”. Maka dari itu perlu penyesuaian tentang jadwal libur mingguan.

Baik anda yang terbiasa menyusun jadwal maupun yang liburannya mengalir, tetap perlu mencermati hal ini. Kapan harus rekreasi bersama anak-anak, silaturahmi sanak famili, teman, atau mengantar anak sekolah keterampilan.

Akan lebih baik kalau anda mampu menyisakan waktu liburan itu untuk kepentingan mengajar. Seperti membatasi libur sampai hari Minggu pukul 3 sore. Selebihnya bisa anda pakai untuk istirahat, lalu malamnya untuk persiapan mengajar esok hari.

6. Jaga kondisi fisik dan mental.

Tak perlu ditutup-tutupi, perubahan demi perubahan untuk kemajuan pendidikan sejatinya dirasakan para guru sebagai sesuatu yang memberatkan. Tidak semua, banyak juga yang bersemangat.

Kita lihat di group-group facebook, whatsapp, banyak sekali yang mengeluhkan. Harus ini, harus itu, tugas ini, tugas itu.

Kalau berlarut-larut, maka yang rugi ya guru sendiri. Janganlah tugas mulia anda kemudian menjadi penghancur diri sendiri. Buat enjoy  saja. Kalau mampu kita kerjakan, kalau tidak ya minta tolong. Kalau salah ya mohon maaf sembari terus membetulkan.

7. Berlatihlah mulai sekarang.

Jam berapa anda pulang tiap hari? Jika selama ini pulang jam 1 atau jam 2 siang, alangkah lebih baik jika menambah waktu beberapa menit di sekolah. Seperti 15 sampai 30 menit. Gunakan waktu ini untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi, seperti jurnal mengajar, membuat RPP dan media belajar.

Kalau dengan waktu-waktu ini tugas anda sudah selesai, dan pulang ke rumah tanpa membawa pekerjaan sekolah, maka selamat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi saat anda harus 8 jam berada di sekolah.

Karena ternyata kebijakan baru ini justru membuat waktu anda untuk keluarga di rumah semakin berkualitas.

Itulah tips-tips yang bisa saya bagikan. Sebenarnya ini adalah motivasi untuk diri saya sendiri, yang juga sedang menunggu datangnya full day school. Dan saya bagikan untuk anda yang kebetulan mampir di blog kecil ini, siapa tahu ada manfaatnya.

Intinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari apapun perubahan yang tujuannya memang untuk membuat pendidikan kita lebih maju. Selama kita selalu berpikir positif, antusias, dan bersegera melakukan manajemen diri.

Artikel Terkait: