Cara Mengajarkan Disiplin Pada Siswa Dengan Benar

Apa yang terlintas di benak anda waktu mendengar kata “disiplin”? Apakah kesalahan? Atau hukuman? Kalau masih demikian, maka teknik - teknik penegakan disiplin yang anda buat pasti hanya fokus tentang bagaimana menghukum siswa, membuatnya malu, menakut-nakuti, atau membalas kenakalannya.

Disiplin tidak seseram itu.

Kita bisa lihat di dunia kepolisian dan militer yang sangat identik dengan kedisiplinan. Kata disiplin disana punya konotasi yang positif, karena semua anggota paham bahwa disiplin memberikan mereka cara untuk bisa bekerja bersama tim. Mereka tahu tidak akan bisa apa-apa kalau tidak berdisplin.

Mengapa siswa kita tidak mampu berpikir seperti itu?

Terkadang guru mengajar sebagaimana ia dulu diajar. Teknik-teknik lama yang diterima sewaktu menjadi siswa masih menginspirasi bagaimana cara mengajarkan disiplin ke anak. Renungkan, saat anda disetrap di depan kelas atau dihadapkan ke kepala sekolah karena melanggar aturan, sesuatu yang tidak membuat anda berpikir untuk memperbaiki kesalahan, justru menjadikan anda sering diam di hari-hari berikutnya.

. . . atau bahkan merencanakan pembalasan.

Di saat anda benar-benar mengakui kesalahan namun dipaksa menghadapi situasi yang tidak anda inginkan, maka sedikit banyak akan terlintas niat untuk membalas situasi ini. Karena tiba-tiba anda berkeyakinan bahwa semua orang pasti pernah berbuat salah, tidak pantas dihukum berlebihan.

Saat anda ngobrol dengan teman guru di kantor saat jam istirahat, mungkin sesekali pernah membicarakan guru lain yang tampaknya tidak punya masalah dengan kenakalan siswa.

Begitu beruntungnya guru itu. Hampir tiap tahun tak pernah pusing menghabiskan waktu memikirkan cara mengatasi anak yang tidak disiplin. Mudah sekali pekerjaannya.

Sama mudahnya dengan anda yang berpikiran seperti itu. Karena sejatinya guru tersebut memiliki persiapan yang tidak anda ketahui. Dan menjalankan seluruh metodenya bukan hanya hitungan hari, namun bertahun-tahun sampai semua kata-katanya dipercaya oleh siswa paling onar sekalipun.

Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk seluruh proses ini?


Anda ingin tips yang ampuh super cepat, hanya 1 hari, 1 minggu, atau 1 bulan bisa mengubah perilaku si anak, silahkan berhenti membaca tulisan ini. Ada banyak tips lain yang cocok untuk keinginan anda.

Silahkan mencari ragam dan jenis hukuman baru yang lebih kejam yang anda yakini efektif.

Tapi percayalah, itu mustahil menyelesaikan masalah. Bolehlah sekarang anda merasa di puncak kemarahan. Tapi bukan teknik ancaman dan hukuman terbaru yang sebenarnya anda cari. Yang anda perlukan adalah menguasai teknik-teknik kedisiplinan positif.

Apa itu?

Inilah teknik yang berfokus pada penyelesai masalah, bukan pada sumber masalah. Siapa penyelesai masalah? Anda, para guru. Berarti yang akan anda lakukan di bawah ini adalah untuk diri anda. Dan lihatlah, beberapa waktu mendatang siswa akan menangkap daya magis dari pribadi anda. Mereka berhasil mengatasi masalah disiplinnya.

Inilah tandanya siswa yang dikenakan teknik disiplin positif:
  1. Menyadari seluruh perilaku mereka
  2. Bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan
  3. Meminta maaf jika perlu
  4. Mengerti akibat perbuatannya pada teman-temannya
  5. Membuat keputusan sendiri

Semakin jelas bukan?

Disini anda bukan mengajarkan disiplin dengan mengandalkan ancaman, memberi rasa takut, atau bahkan membully. Namun memberi kesempatan siswa untuk mengakui alasan-alasannya dan membantu menemukan cara-cara baru dalam mengubah diri mereka.

Step by Step Mengajarkan Disiplin pada Siswa


Dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini, semoga anda tidak lagi mencari-cari hukuman baru apa yang lebih kejam dan memberi efek jera, untuk anda terapkan pada siswa. Maksud saya, ke depan tak ada lagi siswa anda yang melanggar aturan berulang-ulang.

1. Contohkan perilaku yang anda harapkan dari para siswa

Sebagus apapun rencana anda, tidak akan berjalan jika tidak anda berikan contoh. Ini kalimat klise, tapi banyak yang tak mampu melakukan.

Misalnya anda ingin siswa punya rasa hormat pada orang yang lebih tua, tunjukkan bagaimana cara melakukannya. Cari kesempatan pada situasi yang tak direncanakan, siswa melihat anda menghormati orang yang lebih tua dari anda. Dan seringkali tak cukup melakukannya satu dua kali, tapi berulang-ulang.

Kerja keras dan upaya konsisten anda mungkin menemui masalah, seperti teman guru yang mencotohkan sebaliknya. Mereka berbicara kotor di depan para siswa. Saat ditanya, jawabannya hanya ingin bercanda. Tugas anda untuk memberitahunya tentang proyek ini. “Tolong bantu saya, saya sedang memperbaiki masalah disiplin anak-anak ini.”

2. Benci kesalahannya, cintai anaknya

Sadarkah anda bahwa anak melakukan kesalahan bukan bertujuan untuk menyerang anda secara pribadi. Mereka salah karena mereka masih anak-anak. Sudut berpikirnya berbeda dengan kita.

Jadi jangan sampai kesalahan-kesalahan itu membuat anda benci pada siswa. Benci sikapnya, cintai anaknya. Ini akan membantu anda menemukan pilihan terbaik untuk si anak, bukan hanya fokus pada hukuman dan ancaman apa yang anda berikan.

3. Beri jeda antara kesalahan dengan hukuman

Maksudnya, jangan langsung menghakimi anak yang berbuat kesalahan seketika itu juga. Banyak guru membuktikan ini cara yang kurang efektif.

Contohnya begini, ada satu anak yang mengganggu siswa lain saat sedang belajar. Kemudian anda langsung memarahinya, tentu saja membuat seisi kelas fokus pada anda dan si anak itu. Pada tahap ini tidak apa-apa, tapi saat anda kehilangan kontrol dan terus memarahinya, lihatlah seisi kelas mulai bersimpati pada siswa itu. Dan dalam waktu singkat, si pembuat onar akan mengambil keuntungan dari kesalahan anda. Ia menghilangkan respek pada diri anda dengan bantuan temannya.

Beberapa cara diyakini lebih ampuh dibandingkan menghukum siswa secara langsung. Seperti bicara empat mata, menulis sikap tak pantasnya pada selembar kertas, atau menandatangani kontrak dimana ia setuju untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.

4. Biarkan siswa mengalah dengan terhormat

Beberapa siswa mungkin lebih membutuhkan martabat di hadapan teman-temannya, bahkan dibanding dengan anda. Kita tahu seisi kelas itu majemuk, sehingga ada alasan beberapa siswa tertentu sangat membutuhkan harga dirinya diakui.

Pahami beberapa anak yang sudah mengalah, meminta maaf pada anda pada titik yang sangat serius. Kalau anda memaksa membobolnya, menuruti ego anda saking marahnya, tunggulah anda berhadapan dengan siswa yang keras kepala dan pembangkang.

5. Tunjukkan akibat atas suatu kesalahan secara jelas dan spesifik

Terkadang peraturan akademik resmi dari sekolah tidak mencakup seluruh kenakalan siswa. Dan memang guru sendirilah yang harus menemukan hukuman atas berbagai pelanggaran.

Anehnya, banyak hukuman andalan yang sering dipakai untuk kesalahan-kesalahan khusus. Meskipun kurang sesuai, tapi diterapkan juga. Seperti membersihkan kamar mandi/WC atau hormat tiang bendera.

Bagaimanapun, kesalahan seperti mencoret bangku dengan tulisan porno, hukumannya ya membersihkan meja itu. Atau menghukum siswa yang sering mengganggu temannya belajar, diminta beberapa waktu di luar kelas untuk merasakan kesendiriannya.

6. Sampaikan dengan jelas harapan anda di masa datang

Kegagalan siswa memperbaiki kesalahan mungkin karena mereka tak menangkap harapan dan filosofi apa yang anda inginkan. Sewaktu memberi instruksi, pilihlah kalimat-kalimat yang spesifik, to the point. Jangan mengambang. Ini akan membantu siswa memahami seperti apa disiplin yang anda rencanakan.

7. Lakukan komunikasi secara pribadi

Menghubungi siswa via telepon di luar jam sekolah adalah cara terbaik meraih hatinya. Saat ia menyadari ada waktu yang anda sisihkan untuknya di tengah kesibukan anda, lihatlah tak butuh waktu lama anda akan melihatnya berubah.

Carilah saat-saat ia berada di rumah. Dan perhatikan kalau ia belum siap menunjukkan kesalahannya pada orang tua, jangan dipaksa. Beri kesempatan ia mengutarakan unek-uneknya secara menyendiri.

8. Berikan reward untuk setiap perubahannya

Siswa itu sensitif pada perlakuan yang diberikan guru. Sering lho anak itu meyakini bahwa ia tak lagi disukai gurunya lantaran kesalahan kecil yang dibikinnya. Setelah masalah itu selesai, carilah kesempatan yang baik untuk memujinya tentang kelebihan-kelebihan yang ia miliki.

Saat ia berubah, tunjukkan perasaan senang anda padanya. Beberapa anak lebih menyukai perhatian secara pribadi, silahkan luangkan waktu anda untuk memberi pesan via whatsapp, atau bisa juga dengan menjabat tangannya di sudut kelas.

9. Hapus bersih kesalahannya dari ingatan anda

Pastikan siswa kita meyakini melanggar aturan itu bukan sifat permanen. Ini hanya kondisi kecil yang bisa diubah. Setelah si siswa selesai menjalani “masa” hukumannya, guru harus memberikan kesempatan kedua padanya.

Meski ia sadar bahwa jika kenakalan yang ia buat sangat besar, perlu waktu lebih lama untuk mendapat kepercayaan lagi dari anda. Namun dengan menunjukkan bahwa anda tidak punya rasa dendam sedikitpun, itu akan membantunya lebih cepat disiplin dan menuruti apapun yang anda inginkan.

10. Bawa ke kantor kepala sekolah sebagai solusi terakhir

Membawa ke ruang kepala sekolah sepertinya budaya abadi dan langgeng di dunia persekolahan. Dan hampir semua siswa mengartikan ini urusannya sudah serius. Jadi, jangan dikit-dikit ajak-ajak kepala sekolah untuk mendisiplinkan siswa anda sendiri.

Setidaknya ada 2 hal yang perlu anda pertimbangkan sebelum memilih solusi ini. Pertama berapa lama waktu anda meyakinkan siswa mau meninggalkan kelasnya menuju ruang kepala sekolah. Semua siswa tak ada yang menginginkan itu.  Salah-salah bukan hanya meninggalkan kelas, tapi juga meninggalkan sekolah anda selamanya.

Kedua, pertimbangkan juga solusi ini adalah bukti kegagalan anda menyelesaikan masalah di kelas anda sendiri. Untuk itu, lebih baik simpan dulu opsi ini dari kamus anda, termasuk mendatangkan orang tua siswa ke sekolah karena masalah kedisiplinan.

Demikianlah uraian mengenai cara mengajarkan siswa disiplin dengan benar. Mudah-mudahan ini bisa membantu anda yang sedang mengatasi masalah kedisiplinan siswa yang sudah di luar batas.

Sampai-sampai anda sudah kehabisan cara untuk menyelesaikannya.

Selamat mencoba . . .

Artikel Terkait: