Cara Mengatasi Glossophobia (Takut Bicara di Depan Umum)

Pernah ada seorang teman yang mengobrol, “Eh si A itu orangnya pendiam ya”. Teman saya yang satunya menjawab, “Oh itu, dia memang pegawai, pendiam orangnya”.

“Memang pegawai apa?”.

“Pegawai Negeri, guru SMP.”

Percakapan yang tampak biasa kan? Tapi bagi seorang guru seperti saya, mendengar obrolan itu terasa janggal. Bukankah guru itu pekerjaannya bicara. Bagaimana mungkin bisa dinilai pendiam?

Tak bisa dipungkiri meskipun menyandang profesi guru, masih banyak yang mengalami masalah soal berbicara di depan umum. Begitu perkasa di depan siswa, kata-katanya bak sihir yang membius dan menginsirasi seisi kelas.

. . . tapi mati kutu saat rapat internal sekolah. Mendadak gugup saat diminta memberi sambutan rapat wali murid, bahkan hanya untuk menjadi pembawa acara.

Terlebih bagi anda yang mungkin masih sebagai guru pemula. Jangankan berbicara di depan orang banyak, berceramah di depan siswa kadang masih gugup bukan main. Meski punya skill mumpuni saat memimpin diskusi atau presentasi di bangku kuliah, tak menjamin lihai berorasi di dunia kerja sesungguhnya.

Nah tulisan ini akan membantu anda menemukan cara untuk mengatasi  masalah itu. Takut bicara di depan umum, atau disebut juga “glossophobia” bisa menjangkiti siapa saja. Termasuk guru yang sudah punya kebiasaan berbicara, masih banyak yang mendadak jadi pendiam saat berada pada satu forum yang mengharuskannya bicara.

Ingatlah, guru itu orator (pembicara), guru tidak boleh pendiam. Guru harus berani bicara di depan umum, namun bukan banyak bicara. Tidak pendiam, tidak juga bermulut besar.

Tips Menjadi Guru yang Ahli dalam Berbicara


Kalau anda merasa benar-benar punya masalah ini, sadarilah kembali:

• Guru itu profesi yang menuntut bisa dan berani bicara

Bukan hanya di depan siswa, tapi juga di depan para orang tua, stake holder, atasan, dan masyarakat sekitar.  Ada banyak acara yang mengharuskan guru bicara, baik acara formal maupun semi formal. Dalam acara-acara itu, banyak orang yang sudah menunggu untaian kata-kata anda.

Jadi intinya, berbicaralah di forum apapun yang anda ikuti!

• Kekuatan terbesar manusia setelah otak adalah mulut

Pepatah Jawa mengatakan, “Ajining diri saka lati”. Harga diri berasal dari lidah (ucapan). Menggambarkan kekuatan yang dihasilkan dari ucapan kita. Ada lagi, “Mulutmu harimaumu”, menggambarkan efek yang dihasilkan oleh pembicaraan kita.

Jadi berbicara itu keharusan, karena merupakan bentuk penyampaian pesan, gagasan, ide, dan keinginan kita. Dan ide anda akan semakin berharga mahal kalau anda berani ungkapkan di depan umum.

Untuk itu, berbicaralah!

Nah, jika sudah merenungkan lagi dua hal di atas, saatnya anda mulai menempuh langkah-langkah berikut ini untuk menumbuhkan keberanian bicara di depan umum.


1. Membacalah

Anda jarang membaca? Jangan bermimpi menjadi pembicara yang baik. Bolehlah seorang punya segudang pengalaman matang, dan mampu berpidato dengan lengkap. Namun kebanyakan penyampaiannya kurang bisa dipahami.

Mengapa? Karena jarang membaca membuat kata demi katanya tidak runtut, sering melompat-lompat. Kalaupun bisa, diksi atau pilihan katanya pasti kurang tepat, bahkan sering pakai kata-kata pasar yang jauh dari citra sopan dan lembut khas seorang guru

Anda yang punya masalah glossophobia, seringlah membaca tulisan bertema kesukaan anda. Baca dengan bersuara. Sesekali paksa juga membaca karya-karya ilmiah. Otak dengan sendirinya akan menyusun kata-kata anda lebih sistematis, runtut. Kosakata juga bertambah.

Yang penting lagi anda punya wawasan baru yang lebih luas dibanding calon pendengar anda. Itulah modal penting membangun keberanian berbicara.

2. Selalu bertanya dan berpendapat di rumah

Keluarga adalah forum paling mudah untuk berlatih berbicara. Di rumah anda tidak perlu takut ditertawakan atau pembicaraan anda dianggap sepele. Kalaupun sampai dilecehkan, sama sekali tak membuat anda menanggung beban psikis yang amat.

Mampukah anda merasakan hal yang sama saat berbicara di depan orang banyak? Itulah sebenarnya yang dirasakan oleh orang-orang yang anda sebut orator handal, motivator mumpuni, dan sebagainya. Mereka tidak takut kata-katanya disepelekan, sehingga merasa bebas tanpa tekanan.

Untuk itu, sebagai pembelajaran, tingkatkan intensitas berbicara anda di hadapan anggota keluarga. Bubuhkan alasan yang lebih detil dan panjang saat ngobrol santai. Biarkan mereka menyadari perubahan itu. Karena anda memang serius membunuh karakter glossophobia dalam diri anda.

3. Jangan sering baca teori public speaking, berlatihlah!

Sudah menjadi naluri setiap orang, kalau ingin mengatasi suatu masalah pasti ia mencari tulisan tentang cara menyelesaikannya. Termasuk glossophobia ini. Biasanya akan terjerumus pada buku atau artikel tentang public speaking.

Tidak salah, hanya kalau terlalu sering cuma akan buang-buang waktu. Karena anda hanya akan menemukan tips-tips yang kurang lebih sama satu dengan lainnya. (Mungkin juga tips-tips pada artikel ini . . . ☺)

Cara terbaik adalah sering berlatih. Berbicaralah di depan kaca, atau anda punya relawan teman atau keluarga untuk mendengarkan. Pegang teks jika masih belum yakin dengan performa anda. Lakukan secara intens dan serius.

4. Libatkan fisik untuk kesiapan mental

Sebenarnya tiap orang punya gerakan tubuh bawaan sewaktu berbicara. Meski untuk pembicara pemula terkadang gerakan tubuh itu dibuat-dibuat. Sehingga terlihat kaku.

Untuk mengurangi grogi dan meyakinkan pendegar, beberapa gerakan fisik ini bisa anda latih untuk “menemani” ceramah anda:
  • Mengepalkan tangan
  • Berdiri tegap
  • Tekuk ibu jari kaki, terutama saat merasa grogi
  • Masukkan jari-jari tangan ke sela-sela jari tangan satunya
  • Tangan kanan dikepal dan digenggam jari kiri.

Itulah tips-tips praktis untuk anda yang sedang mengalami masalah glossophobia (takut bicara di depan umum). Tak kalah pentingnya adalah kendurkan pribadi serius yang mungkin ada pada diri anda. Karena karakter inilah yang mungkin menghalangi anda untuk berani bicara.

Buat lebih mudah, anggap bicara di depan orang banyak sama halnya anda berbicara seperti biasa. Mungkin sulit, tapi bukan berarti tak bisa dilatih.

Selamat mencoba . . .

Artikel Terkait: