Cara Membuat dan Mengelola Buletin Sekolah

Salah satu trik ampuh menerapkan program literasi adalah melalui buletin sekolah. Kenapa saya katakan ini trik?

Sebab rendahnya minat baca siswa bisa disebabkan karena jenuh melihat tampilan buku yang selalu itu saja. Beda halnya dengan buletin, dengan desain yang menarik serta berganti-ganti dapat memicu minat siswa untuk gandrung membaca.

Untuk itu, ada baiknya sekolah mempertimbangkan adanya buletin sebagai wadah kreasi para siswa. Seandainya sekolah kurang merespon, guru bisa membuat buletin mandiri yang diisi siswa satu kelas, kemudian diedarkan ke seluruh warga sekolah.

Tahap pertama membuat buletin sekolah adalah pembuatan desain. Agar menghasilkan tampilan yang menarik, gunakan program pengolah gambar seperti Corel Draw. Dengan bantuan program ini, anda akan lebih mudah berkreasi membuat desain yang bagus. Tidak perlu anda membuat modelnya dari awal. sebab ada banyak template buletin yang bagus yang bisa kita download, kemudian dimodifikasi agar buletinnya lebih bagus lagi.

Setelah desain terbentuk, kumpulkan materi dan daftar pertanyaan yang akan menjadi konten/isi buletin. Tahap ini memerlukan ketelitian, sebab tidak semua materi dimasukkan ke dalam buletin, melainkan pokok atau poin penting saja. Ini harus dilakukan mengingat siswa cenderung memilih media yang ringkas dan mudah dipahami.

Setelah buletin siap, langkah selanjutnya adalah memamerkannya kepada seluruh siswa dalam satu sekolah. Sekali lagi, karya siswa ini juga akan menjadi pemicu meningkatkan budaya membaca bagi siswa lainnya. Hal ini juga dalam rangka mengikuti kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mencanangkan gerakan literasi 15 menit di sekolah. Sehingga mau tidak mau, guru harus konsisten memandu siswa membaca bulletin ini setiap hari selama 15 menit.

Konten bulletin hendaknya terus diperbarui seiring dengan bertambahnya materi yang telah dipelajari di kelas. Demikian juga dengan lay out, jangan hanya monoton. Lakukan perubahan tampilan secara periodik. Hal ini penting dilakukan, sebab kurikulum yang diterapkan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sehingga buletin ini dapat menjadi media yang adaptif terhadap perubahan.

Di samping manfaat yang begitu besar, kendala pasti akan ditemui terutama jika masih pertama kali menerapkan. Seperti tidak tersedianya majalah dinding (mading) di sekolah untuk menempel buletin. Padahal jika tersedia, jangkauan buletin ini akan lebih luas, yakni dapat dibaca seluruh siswa dalam satu sekolah.

Langkah yang bisa diambil untuk mengatasi kendala seperti ini adalah menggunakan media papan panjang di kelas. Kemudian membentuk petugas sirkulasi buletin secara bergantian sebagai langkah promosi.

Intinya tiap masalah yang dihadapi berbeda-beda. Tinggal mencari solusi yang sesuai dengan kondisi sekolahnya. Namun jika anda punya minat buat buletin, jangan tunggu waktu lebih lama. Jika kesulitan membuat desainnya, silahkan minta bantuan orang yang mampu. Jika sulit mencari siswa yang mau menulis di buletin, pakai hasil pekerjaan/tugas-tugas mereka sehari-hari untuk dijadikan konten buleti.

Mudah-mudahan panduan singkat ini bermanfaat.

Artikel Terkait: