April 26, 2017

Anak Pendiam di Sekolah, Tapi Aktif di Rumah

Romansa profesi mengajar menemukan satu problem penting yang pasti dihadapi semua guru: siswa pendiam. Dalam setiap kesempatan, si anak terlihat suka menyendiri. Di saat ada tugas kelompok, ia jarang bersuara. Saat guru mendekat, ia tampak gugup dulu sebelum mau diajak bicara.

Setelah ditelusuri, di rumah ternyata ia bersikap sebaliknya. Di depan orang tua, ia mudah bercerita apa saja yang dia rasakan. Bahkan cenderung bawel untuk ukuran anak normal. Mengapa ini bisa terjadi?

Di salah satu forum konsultasi parenting online, saya pernah membaca tanya jawab antara seorang ibu dengan psikolog. Si ibu menyampaikan masalah seperti tertera di atas. Anaknya hanya mau terbuka kalau sedang berada  di rumah. Di sekolah, ia berubah menjadi pribadi yang super diam. Tak jarang ia menangis di rumah lantaran beban yang ia hadapi di sekolah.

Setelah mendengar saran dari psikolog, si ibu menganggapi positif. Namun kalimat terakhirnya ini yang menarik perhatian saya. Ia melayangkan harapan, “Mudah-mudahan ia segera menemukan guru yang klik dengannya.”

Jujur saya tersentak membaca kalimat itu. Sebagai pengajar, saya berpikir adakah orang tua yang menilai saya tidak klik dengan siswa. Sehingga apapun masalah dan kekurangan yang dialami anak adalah buah kegagalan saya mengajar di kelas.

Namun seketika langsung saya tepis bayangan semacam itu, meski penting juga saya gunakan bahan refleksi. Si ibu tadi tentu tidak menyalahkan guru karena gagal mendidik anaknya, namun ia menaruh harapan besar agar gurunya menemukan solusi dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan berani layaknya si anak berada di rumah.

Kenapa si ibu menunjuk guru?

Karena problem itu terjadi di sekolah, yang jelas-jelas wilayah atau domain guru untuk menyelesaikan apapun masalah yang dihadapi siswa. Tidak perlu buru-buru memanggil psikiater, karena guru bisa mengambil peran itu meski secara perlahan.

Nah, sebelum kita masuk pada hal apa saja yang bisa guru lakukan, penting dibedakan dulu mana anak pendiam yang masuk kategori normal, dengan si pendiam yang butuh penanganan. Tidak semua anak pendiam itu patut dikhawatirkan. Karena setiap anak pasti mengalami “fase diam” dalam hidupnya. Umumnya itu situasional, hanya pada momen-momen tertentu.

Bahkan kita tahu juga bahwa anak dengan IQ tinggi (jenius) salah satu kebiasaannya adalah suka menyendiri dan tidak banyak bicara. Penanganan kasus seperti ini tentunya berbeda.

Lebih detailnya, berikut gambaran perbedaannya:

Sikap pendiam yang wajar:

  • Terjadi di awal masuk sekolah, atau pada awal tahun pelajaran baru. Pada masa ini, anak sedang menghadapi suasana serba baru, sehingga perlu waktu untuk menyesuaikan diri. 
  • Saat anak sedang sakit atau kelelahan. Ini jamak terjadi. Hampir semua anak menemukan bentuk relaksasi dengan menenangkan diri serta menginginkan suasana tenang.
  • Mengerjakan tugas yang baru pertama kali ia kerjakan. Karena belum mampu menguasai tugas yang diberikan, beberapa anak memilih diam. Latihan terus menerus biasanya cukup menggugah kepercayaan dirinya tumbuh kembali.
  • Tidak berminat atau tertarik pada situasi tertentu. 

Lalu, apa tanda-tanda anak pendiam yang membutuhkan penanganan guru?

  • Sering menghindar dari pergaulan. Pasrah terhadap bullyan teman-temannya karena sering menolak ajakan bermain.
  • Memilih diam dan pasif dalam saat pelajaran di kelas.
  • Kerap mengaku sakit waktu masih memulai pelajaran, seperti pusing atau sakit perut.
  • Sering terlihat gugup saat didekati guru, dan berupaya menghindari tatapan mata langsung.
  • Kerap meminta izin keluar kelas dengan berbagai alasan untuk menghindari tugas.

Lima hal di atas kalau menyatu pada siswa, berarti jelas memerlukan intervensi guru dengan segera. Jika dibiarkan, jangka panjangnya anak kehilangan motivasi bahkan tidak tertarik lagi dengan sekolah. Selain itu ia juga tidak terlatih menyampaikan gagasan, unek-unek, perasaan pada teman sebaya.

Jadi bisa kita simpulkan, guru menyukai siswa yang aktif di sekolah.

Siswa aktif lebih gampang dideteksi apa lebih kurangnya, sehingga guru tahu apa saja kebutuhan belajarnya. Meski ada beberapa kasus pengecualian, keaktifan akan membuka jalan untuk memperoleh prestasi akademik yang bagus.

Nah, inilah beberapa tips yang bisa dilakukan guru untuk mengubah anak pendiam dan pasif menjadi lebih aktif dan energik di sekolah:

1. Sering mendekat di sampingnya
Tidak harus terburu-buru mengobrol. Biarkan si pendiam merasakan kehadiran kita sebagai suatu hal biasa. Baru di saat yang tepat kita bisa mengajaknya ngobrol seputar keseharian, keluarga, dan minatnya.

2. Temukan passion anak
Pintu masuk terbaik untuk masuk dalam kehidupan anak pendiam adalah tahu apa passionnya. Seringkali anak jadi diam karena kurang diperhatikan apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Setidaknya passion itu juga bisa kita jadikan bahan obrolan dengannya.

3. Pengaturan tempat duduk dan kelompok belajar
Jika kebetulan di kelas ada siswa yang kepercayaan dirinya tinggi, supel, dan mudah bergaul, anda bisa mencoba menyandingkannya dengan si pendiam. Tak lupa kita memintanya untuk selalu mengajak serta si pendiam dalam tiap kegiatan baik waktu pembelajaran maupun saat I luar kelas.

4. Perbanyak model pembelajaran kooperatif
Cooperative learning adalah desain pembelajaran yang sangat dianjurkan saat ini. Diantara kelebihannya adalah bisa membuat siswa paling pendiam sekalipun menjadi aktif. Pilih yang ada unsur permainannya, serta libatkan seluruh anak bersama-sama agar si pendiam merasa menjadi bagian dari teman-temannya.

5. Beri tanggung jawab harian yang ia mampu
Hal-hal kecil seperti memimpin barisan, mengumpulkan lembar kerja, membagikan hasil ulangan bisa membuatnya merasa diakui di kelas. Ini dapat memacu keberaniannya untuk lebih banyak berbicara mengungkapkan ide dan pikirannya.

6. Berikan pujian dan hadiah
Sekali-kali perlu diberikan reward atas pencapaiannya. Berupa sanjungan dan sekali-kali hadiah yang relevan dengan minat yang diimpikannya. Serta jangan membiarkan teman lainnya mengolok apalagi membully dalam rentang waktu lama.

Demikian paparan singkat tentang anak yang pendiam di sekolah. Mulai dari ciri-ciri anak pendiam yang perlu intervensi guru, serta apa saja tips mengatasi anak dengan problem ini. Dan tak kalah pentingnya untuk  selalu intens berkomunikasi dengan orang tua. Berkonsultasi bagaimana keluarga mendidik si anak hingga ia bisa aktif kalau di rumah.

Semakin anak tahu kalau guru dekat keluarganya, maka ia akan balik memandang sosok guru layaknya anggota keluarga sendiri. Mudah-mudahan tips kecil ini bermanfaat . . .

April 25, 2017

Pengawas Ujian Harus Punya 5 Karakter Ini

Memasuki triwulan kedua tiap tahun semua sekolah punya hajatan sama, yaitu Ujian Sekolah. Di bulan April, jenjang SMA melakukan gelaran lebih dulu. Lalu diikuti ujian untuk jenjang SMP. Dan pada bulan berikutnya (Mei) giliran SD menggelar hajatan.

Rutinitas itu masih dipertahankan tahun 2017 ini. Sampai tulisan ini dibuat, seluruh sekolah jenjang SMP dan SMA sudah melaksanakan ujian. Tinggal SD yang belum, dan baru dilaksanakan 15 Mei mendatang.

Lazimnya kegiatan penting, semua sekolah tentu sudah menyusun rencana yang matang serta menunjuk personil yang akan mengisi pos demi pos. Salah satu personil paling penting dalam kegiatan Ujian Sekolah adalah pengawas ruang. Guru yang didapuk sebagai pengawas berperan vital dalam menentukan sukses atau tidaknya ujian yang dilangsungkan.

Memilih pengawas perlu banyak pertimbangan. Dengan sistem pengawas silang yang sedang diberlakukan, seorang pengawas tidak menjalankan tugasnya di sekolah Satminkal, melainkan mengawasi di sekolah lain. Berarti ia juga membawa nama baik sekolah asal.

Untuk meminimalkan resiko, biasanya sekolah memilih guru yang sudah berpengalaman. Alasannya jelas, guru senior lebih bisa diandalkan. Terutama yang tahun sebelumnya sudah ditunjuk dan sukses, tahun berikutnya kemungkinan besar akan kebagian tugas serupa. Kebiasaan ini dipertahankan bertahun-tahun, akibatnya guru pengawas selalu itu-itu saja.

Sebenarnya memilih pengawas  tidak harus berdasarkan senioritas. Apalagi jika sekolah menginginkan regenerasi, maka guru-guru mudapun layak diberi kepercayaan. Yang penting tidak asal pilih, namun guru muda yang kompeten dalam mengemban tugas ini.

Seperti apa kompetensi yang dimaksud?

Menurut saya, inilah kompetensi atau karakter yang harus dipunyai pengawas ujian. Dengan kata lain, karakter ini kalau dimiliki guru yang bersangkutan, maka ia layak direkomendasikan mengampu tugas sebagai pengawas.

1. Tertib Administrasi

Menjalankan tugas administratif adalah tugas guru di samping mengajar. Mulai dari membuat RPP, mengisi daftar hadir, menulis jurnal, dan sebagainya. Sayangnya, meski sudah menjadi tupoksi, banyak juga yang kurang tertib menjalankannya. Seperti merapel jurnal seminggu sekali.

Tugas administrasi pengawas ujian tentu tak sebanyak itu. Lebih tepatnya hanya ada 3: menulis daftar hadir peserta, mengisi berita acara, dan menulis sampul soal serta lembar jawaban. Masalahnya, meski sedikit tapi tidak boleh ada coretan atau kesalahan lain. Inilah alasan perlunya pengawas yang terbiasa bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas administrasi harian.

Masuk dalam kompetensi ini yaitu punya tulisan tangan rapi. Sebab semua tugas administrasi itu ditulis tangan, bukan ketikan.  Kalau tulisannya rapi dan mudah dibaca, pasti akan mempermudah korektor nantinya. Sebaliknya kalau jelek, bukan hanya menyulitkan, namun bisa menimbulkan makna ganda yang dapat merugikan sekolahnya.

2. Tidak Banyak Bicara

Kebiasaan pengawas lain yang menurut saya penting adalah tidak banyak bicara. Atau kalau itu bukan karakternya, minimal ia mampu menahan dirinya selama menjadi pengawas.

Kenapa ini penting? Sebab saat berada ruang ujian pengawas hanya perlu bicara yang pokok-pokok saja. Tidak perlu ditambah sesuatu yang berlebihan, salah-salah mengganggu konsentrasi siswa.

3. Punya Pembawaan yang Tenang

Sangat kecil peluang anda menemukan masalah besar selama menunggu ujian. Soalnya siswa memang lagi fokus dan serius ingin meraih nilai maksimal. Jadi mereka mudah dikondisikan. Lebih sulit mengajar sehari-hari sebenarnya.

Namun kecilnya peluang itu, seandainya benar-benar terjadi perlu penanganan yang sangat tepat. Dan masalah di luar perkiraan seperti itu bisa diatasi hanya oleh guru yang kalem, tidak gampang gugup dan luwes menghadapinya. Seperti di kelas itu ternyata ada anak hiperaktif. Kalau guru menyikapinya dengan tegang, bukan tak mungkin seisi kelas akan ikut merasakan dampaknya.

4. Ramah

Ramah pada peserta, sekaligus pada warga sekolah. Layaknya tamu, wajib kiranya menjaga etika dan cara bicara. Selama bertugas di “rumah” orang, lebih baik bicara sewajarnya. Kita tidak tahu secara detil bagaimana karakter dan kebiasaan orang-orang yang kita tempati.

Nah guru yang sehari-hari dinilai ramah layak dijadikan pengawas ujian. Siswa atau peserta ujian akan merasa nyaman dengan pembawaan guru yang ramah. Rasa tegang selama ujianpun akan mencair.

5. Tanggap Pada Situasi

Poin nomor 5 dari guru yang layak menjadi pengawas ujian adalah mereka yang tanggap pada masalah yang dihadapi siswa, bukan yang acuh. Ini masih berkaitan dengan problem kecil yang muncul secara mendadak saat ujian berlangsung.

Adakalanya siswa tiba-tiba sakit saat soal belum terselesaikan. Ada juga yang menunjukkan pandangan dan gerakan aneh seperti sedang mencontek. Nah, menyikapi hal seperti ini perlu kepekaan yang tinggi.

Kelima karakter di atas tentu tidak dimiliki semua guru. Karena tidak semua guru sebenarnya layak didapuk sebagai pengawas silang. Sebaliknya banyak juga yang berkompeten tapi tak kunjung diberi kesempatan.

Nah itulah sedikit uraian yang bisa saya bagikan kali ini. Sengaja saya tidak memasukkan karakter utama, yaitu jujur dan tegas. Karena keduanya sudah mafhum sebagai karakter yang melekat pada diri pengawas ujian. Mudah-mudahan bermanfaat . . .

April 21, 2017

Mengapa Harus Kartini, Bukan Dewi Sartika Atau Maria Walanda Maramis

Ada 5 pahlawan wanita yang sering kita dengar, dan sangat populer bagi orang Indonesia. Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan Martha Crhistina Tiahahu. Masih ada lagi meski kurang populer, yaitu Maria Walanda Maramis, Rasuna Said dan Nyi Ageng Serang.

Mereka adalah pejuang di daerahnya masing-masing, serta dengan bentuk perjuangan masing-masing. Cut Nyak Meutia misalnya, adalah perempuan bernyali asal tanah rencong yang tak gentar berhadapan langsung dengan Belanda. Tiga peluru yang menghujam tubuhnya menjadi bukti sahih keberanian wanita Aceh ini berani mati demi merdeka.

Nah diantara nama-nama itu, siapa yang paling anda ingat? Mungkin anda menjawabnya sektoral, kalau anda tinggal di Aceh, mungkin menyebut Cut Nyak Dien atau Cut Nyak Meutia. Yang dari Maluku, Martha Crhistina Tiahahu mungkin lebih akrab. Namun secara umum, orang Indonesia akan menyebut pahlawan wanita paling populer itu R.A Kartini.

Benar?

Setidaknya ada dua hal yang menggiring pikiran anda menyebut nama itu. Pertama, dialah satu-satunya yang ditetapkan sebagai hari besar (21 April). Kedua, dia juga yang paling sering disebut sebagai tokoh emansipasi wanita.

Mungkin banyak orang bertanya, kenapa hanya R.A Kartini yang terpilih menyandang dua predikat di atas? Inilah pertanyaan yang masih menyisakan penasaran banyak orang.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memilah dulu siapa pahlawan wanita yang perjuangannya senada dengan R.A Kartini. Ada 2 nama yang masuk kategori ini. Keduanya adalah Dewi Sartika dan Maria Walanda Maramis.

Baik R.A Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Maramis, mereka “berperang” lewat jalur pemikiran, bukan berperang secara fisik. Mereka tidak mengangkat senjata, namun mengandalkan pena. Namun, (sekali lagi) kenapa harus Kartini? Kenapa ia yang layak ditokohkan dan dijadikan simbol kemajuan perempuan Indonesia?

Berikut argument-argumen yang menjadikan banyak orang menggugat, kenapa harus R.A Kartini:

1. Ketiganya sama-sama berasal dari keluarga bangsawan
Kalau keluarga yang menjadi dasarnya, sulit diterima. Sebab bukan hanya Kartini yang lahir dari lingkungan birokrat. Dewi Sartika adalah buah hati priyayi Raden Somanagara dan Ny. Raden Rajapermas. Sedangkan Maria Walanda Maramis tak lain anak dari Andries Maramis yang tercatat juga terlibat dalam pergolakan kemerdekaan Indonesia.

2. Mereka hidup di masa yang sama
Sulit mengatakan Kartini menghadapi situasi yang lebih sulit dibanding dua lainnya, sebab ketiganya berjuang pada masa yang sama. Kartini lahir pada tanggal 21 April tahun 1879, terpaut tujuh tahun dari Maria Maramis yang lahir 1 Desember 1872. Sedangkan Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884.

Artinya, puncak usia mereka berjuang adalah sama-sama pada masa awal pergerakan nasional.

3. Kondisi sosial yang mereka hadapi sama persis
Yaitu larangan wanita untuk sekolah tinggi dan bekerja layaknya kaum pria. Kondisi ini memaksa mereka hanya menyelesaikan sekolah sampai setingkat SD. Kondisi ini pula yang melahirkan pemikiran besar ketiganya tentang emansipasi (persamaan derajat).

4. Mereka juga mendirikan sekolah
Kartini boleh dibilang yang pertama mendirikan sekolah wanita, tepatnya di sebelah kantor Pemkab Rembang (sekarang dikenal sebagai Gedung Pramuka). Namun beberapa tahun berselang, Dewi Sartika mendirikan ‘Sakola Isteri” tahun 1904 yang jauh lebih sukses dibanding “sekolah”nya Kartini.

Bagaimana dengan Maria Maramis? Ia mendirikan organisasi yang dinamainya PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya). Lewat organisasi ini, anak-anak perempuan dididik. Cabangnya melesat sampai tanah Jawa dan Kalimantan.

Sehingga dalam hal ini, karya Dewi Sartika dan Maria Maramis jauh lebih berpengaruh ketimbang karya R.A Kartini.

5. Hanya Kartini yang menulis buku?
Tidak. Ketiga srikandi kita ini semuanya menulis buku. Kartini punya “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang berisi kumpulan surat-surat Kartini dan diterbitkan tahun 1911. Setahun berselang, Dewi Sartika juga merilis buku “Kaoetamaan Istri”. Sedangkan Maria sering menulis opini di surat kabar lokal Manado “Tjahaja Siang”.

Nah, lalu apa yang menjadi alasan terpilihnya R.A Kartini. Apakah kita harus memaksakan Kartini yang dari suku Jawa itu alasannya, mengalahkan Dewi Sartika yang Sunda dan Maria yang Minahasa? Tentu itu tindakan konyol.

Mengapa Harus Kartini?

Baiklah, alasan yang saya kemukakan berikut masih debatable. Saya juga tak punya kepentingan menggugat anugerah tokoh emansipasi maupun peringatan hari lahirnya yang sudah berjalan puluhan tahun. Yang jelas saya mencoba mencari sisi tertentu yang menunjukkan R.A Kartini tetap sosok yang layak mendapat predikat itu.

1. Dia hidup dalam keluarga yang tak sejalan dengan pemikirannya
Inilah perbedaan paling nampak dari ketiga Srikandi kita di atas.

Dewi Sartika mungkin lebih mudah karena mewarisi jiwa bapak yang juga pemberontak Belanda, sampai harus diasingkan hingga menemui ajal. Begitupun Maria yang juga mewarisi darah seorang pejuang.

Hal serupa tak dirasakan Kartini. Ia berhuang sendirian menjaga pemikiran “liar”nya di hadapan keluarga yang lebih condong pada Belanda. Terbukti bapaknya yang Bupati Jepara itu memadu ibunya dengan putra bangsawan sebagai bentuk kepatuhan pada Belanda.

Kartini harus merasakan 2 hal pahit karena baktinya pada keluarga. Pertama berhenti sekolah saat ia sedang giat-giatnya. Kedua, harus menjalani rumah tangga sebagai istri ke-empat.

2. Dipingit secara ketat
Masih dengan alasan kebiasaan yang berlaku itu, Kartini hanya bisa berada di rumah dan minim kebebasan. Tak mudah menelurkan pemikiran besar hanya bermodalkan membaca buku di rumah. Namun hal itu tetap mampu dilakukannya sambil terus bertukar gagasan lewat surat yang dikirim kepada sahabat penanya di Belanda, Rose Abedanon.

3. Inspirator pejuangan pergerakan Nasional
Ada banyak hal yang menginsipirasi para tokoh pergerakan Nasional, terutama dalam mendirikan dan memperjuangkan organisasi. Di antara pelopor itu adalah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang menjadi salah inspirasi dan dasar pemikiran mereka.

4. Akhir perjalanan hidupnya
Kita tahu sejarah itu menarik bukan hanya karena fakta di dalamnya, namun juga adanya beberapa peristiwa yang memorable, mudah diingat. Kisah hidup Kartini yang termasuk memorable, adalah masa hidupnya yang terbilang singkat, 25 tahun.

Kartini sendiri menyadari hal itu. Ia tahu kelak tidak bakal hidup panjang dan tidak akan melihat buah dari cita-citanya. Namun dibalik itu, ia tetap menulis dan terus menulis. Masa hidup yang singkat ini merangsang minat kaum hawa untuk ikut melanjutkan pemikirannya tentang persamaan hak dan derajat.

Nah, itulah alasan yang bisa saya kemukakan. Sekali lagi masih bisa dikoreksi oleh anda. Namun yang terpenting menurut saya, kalaupun anda menilai bukan R.A Kartini yang layak disebut tokoh emansipasi (Dewi Sartika misalnya lebih pas), tidak perlu juga menggugat ini berlebihan. Tidak penting menurut saya.

Toh semua pahlawan punya kisah masing-masing yang pastinya punya nilai tersendiri yang perlu dikaji. Ini jauh lebih penting ketimbang meributkan tepat atau tidaknya Kartini mendapat kehormatan seperti itu, yang ujung-ujungnya hanya mencela. Seperti menilai Kartini memiliki cacat fatal, yakni mau dijadikan istri ke-empat dan sebagainya.

Kartini, biar bagaimanapun, dengan segenap keyakinan dan upayanya terus berusaha untuk memerdekakan kaum perempuan dan menjadikannya sejajar dengan pria dalam berbagai bidang. Kartini telah meninggalkan percikan pemikiran dalam bentuk tulisan yang ia yakini suatu saat kelak, akan membesar dan dilanjutkan oleh generasi penerusnya.

April 19, 2017

Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah

Masih beberapa jam lalu saya mengikuti sosialisasi yang benar-benar baru (bagi saya). Tentang optimalisasi fungsi UKS di sekolah. Menurut saya, ada beberapa catatan menarik yang harus saya abadikan lewat tulisan ini. Sambil tentunya mengupdate artikel di blog ini biar terus “hidup” tiap harinya.

Terutama yang paling mengenai perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah. Anda mungkin lebih familiar dengan akronimnya, PHBS. Sore tadi, materi ini hanya disebut sekilas. Soalnya waktu yang tersisa sudah keburu habis. Jadinya saya dibuat penasaran dengan topik ini, terutama indikator-indikatornya.

Anda yang lebih dulu tahu mungkin tidak kesulitan mengingat apa indikatornya. Tidak semua, mungkin beberapa. Tapi itu tak berlaku bagi saya. Jujur ini benar-benar hal baru. Saya harus browsing mencari bacaan yang sekiranya bisa menjawab penasaran ini.

Akhirnya saya menemukan sebuah ebook berformat pdf yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI, judulnya Interaksi Suplemen PHBS di Sekolah. Referensi yang bagus, dan terpercaya tentunya. Disitu tertulis ada 8 hal yang menjadi indikator bahwa sekolah sudah menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Nah, berhubung buku itu hanya menjelaskan poin-poinnya saja, disini saya mencoba menjabarkannya. Tentunya sesuai kadar kemampuan saya. Sekaligus anda bisa langsung mengevaluasi sekolah anda, apakah masing-masing item itu sudah diprogramkan atau belum. Atau sudah diprogramkan tapi belum berjalan dengan baik.

1. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun

Aturannya adalah per kelas ada satu tempat cuci tangan untuk siswa. Tempatnya permanen, berbentuk kran air yang mengalir. Bukan yang diam seperti menyediakan satu timba air. Yang terakhir ini bukan membersihkan penyakit, tapi malah mengumpulkan penyakit.

Untuk menunjangnya, sekolah harus menyediakan sabun dan handuk sebagai sarana pelengkap cuci tangan. Ingatkan siswa untuk mencuci tangan tiap menjelang dan sesudah istirahat, selesai melakukan pekerjaan, dan menyentuh makanan.

2. Mengonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

Indikator ini juga bisa kita maknai seluruh warga sekolah hanya jajan di warung atau kantin yang disediakan sekolah. Siswa tidak dipaksa membeli jajan atau makanan di kantin, tapi menyadari sendiri jajan disini sudah bersih dan memenuhi standar layak.

Yang perlu diperhatikan adalah makanan yang banyak mengandung bahan berbahaya. Seperti pewarna, pengawet, pengenyal, dan sejenisnya. Tahukah anda trik mendeteksinya? Untuk formalin, cukup kita pakai tusuk gigi yang kita tusukkan pada kunyit, setelah itu kita tusukkan pada bakso. Kalau warnanya berubah, itu tandanya ada formalin.

Untuk penyedap, kita bisa mencicipi makanan itu. Kalau di tenggorokan terasa “nyegrak” dan ada rasa kurang nyaman saat menelannya, bisa jadi mengandung monosodium glutamat (penyedap rasa) berlebihan. Itu sangat berbahaya pada perkembangan otak siswa anda.

Untuk yang lain, anda bisa searching sendiri bagaimana cara mendeteksinya.

3. Menggunakan jamban yang bersih dan sehat

Banyaknya jamban yang ada di sekolah mengikuti aturan berikut:

  • Jamban siswa putri = jumlah siswa putri : 20
  • Jamban siswa putra = jumlah siswa putra : 25

Sangat dilarang menggunakan satu ruang untuk dipakai bersama siswa laki-laki dan perempuan, meskipun masih di usia yang sangat dini. Mungkin ada yang seperti ini, terutama sekolah-sekolah kecil.

Penggunaan satu ruang jamban bersama-sama sangat berpotensi meningkatkan penularan penyakit. Sehingga tidak cukup terpisah, jamban sekolah juga cukup ventilasi, pencahayaan, tersedia tempat sampah dan alat-alat pembersih.

4. Olahraga yang teratur dan terukur

Berolahraga sudah masuk pada kurikulum pembelajaran di semua sekolah. Idealnya anak berolahraga tidak hanya seminggu sekali waktu ada pelajaran tersebut, namun setiap hari. Cara mudahnya adalah melakukan senam pagi bersama seluruh warga sekolah.

Nah tentunya sekolah perlu membuat jadwal yang teratur dan terukur. Terukur dalamm arti sesuai dengan kadar usia siswa. Juga di dalam mata pelajaran olahraga (PJOK) dimasukkan materi mengenai PHBS di sekolah.

5. Memberantas jentik nyamuk

Sudahkah sekolah anda punya Jumantik? Ya, juru pemantau jentik. Yang tugasnya mengamati adanya bibit-bibit penyakit yang berasal dari jentik nyamuk di tempat-tempat tergenangnya air. Kalau tidak adapun kita bisa mencegah penyebarannya, yaitu menguras bak mandi tiap kurang dari 7 hari. Artinya tiap minggu bak wajib dibersihkan.

Kenapa tujuh hari? Karena itulah waktu yang dibutuhkan jentik nyamuk sampai bisa terbang. Lebih dari itu, perkembangannya akan lebih cepat lagi. Selain itu, upayakan melaksanakan 3M seperti yang biasa kita dengar. Yaitu menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup dengan rapat tempat penampungan air, serta mengubur barang bekas yang bisa menampung air hujan.

6. Tidak merokok di sekolah

Kabarnya ada 4000 lebih zat kimia yang ada pada sebatang rokok. Parahnya zat-zat tersebut bukan hanya berbahaya bagi perokok, namun lebih berbahaya bagi orang di sekitarnya. Artinya ada anak-anak  yang berpotensi menderita bahaya asap rokok yang ada di sekolah.

Meski sudah ada himbauan serius menerapkani lingkungan sekolah tanpa asap rokok, nyatanya belum berjalan efektif. Sebabnya warga sekolah banyak juga yang merokok, baik guru, kepala sekolah, atau penjaga. Perlu sikap lebih bijak kalau belum bisa meninggalkannya.

Pantangan terbesar adalah merokok yang sampai diketahui siswa. Itu harus dihindari di era siswa saat ini. Mereka akan mudah menemukan alasan untuk mengikuti kebiasaan buruk itu.

7. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan

Indikator sekolah sehat berikutnya yaitu adanya catatan periodik berat dan tinggi siswa. Kita tahu begitu cepatnya pertumbuhan dan perkembangan siswa, sehingga perlu pencatatan perubahan tubuhnya secara rutin.

Dengan memegang catatan berat dan tinggi badan siswa maka guru mudah memprediksi kondisi kesehatan dan gizinya. Nah sekolah bisa menjadwalkan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi secara rutin tiap bulan, atau 2 bulan sekali, maksimal 6 bulan sekali. Serta menyiapkan sarana yang memudahkan proses penimbangan dan pengukuran itu.

8. Membuang sampah pada tempatnya

Tiap ruang yang ada di sekolah perlu ada minimal satu tempat sampah. Sampah tidak boleh mengendap lebih satu hari. Artinya tiap hari sampah itu harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. TPA (tempat pembuangan akhir) diatur jaraknya jangan sampai terlalu dekat dengan kelas siswa belajar.

Guru juga bisa belajar mengolah sampah itu menjadi barang yang berguna (daur ulang). Banyak produk berguna sekarang yang merupakan produk olahan sampah. Hal ini tentu akan lebih berkesan kalau mengajak siswa terlibat dalam proses daur ulang itu.

. . .
Akhirnya tuntas sudah penjabarannya. Sebenarnya saya ingin menambah satu indikator yang menurut saya penting, yaitu sekolah memiliki tim pengawas PHBS. Anggotanya adalah dewan guru bersama masyarakat sekitar radius 500 meter (500 meter adalah radius sasaran program UKS di sekolah).

Tim pengawas ini bertugas mengawal konsistensi seluruh warga sekolah dan masyarakat sekitar dalam melaksanakan hal-hal yang tercantum di atas. Karena kita tahu di sekolah, pembiasaan menjadi kunci dalam penanaman karakter pada siswa.

Itulah ulasan saya kali ini tentang indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah. Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca sekalian.

April 18, 2017

10 Tips Pidato Yang Memukau Tanpa Persiapan

10 Tips Pidato Yang Memukau Tanpa Persiapan
Tips Pidato Yang Memukau Tanpa Persiapan

Ada beberapa pilihan cara untuk berpidato. Ada yang membaca naskah, menghafal naskah, atau menggunakan kerangka pidato. Ada pula yang tanpa persiapan sama sekali.

Yang mana biasanya anda lakukan?

Semua cara itu boleh dilakukan. Tapi yang terbaik menurut saya adalah memakai kerangka pidato. Sebab disamping kita sudah melakukan persiapan, dalam praktiknya kita bebas mengembangkannya semau kita.

Mengapa memilih membaca naskah?

Yang ini bisa anda pilih jika anda merasa belum terbiasa. Sehingga takut tidak lancar dan kehilangan ide sewaktu berbicara. Atau bisa juga menyampaikan pidato orang lain, dalam hal ini anda hanya mewakili. Jadi daripada isinya melenceng, lebih baik membacakan naskah itu secara utuh.

Lalu yang menghafal naskah? Jika memilih yang ini, anda harus benar-benar hafal teks yang anda buat. Jangan setengah hafal, atau asal hafal. Karena kalau sampai lupa dengan teksnya, pasti pidato anda ada jeda untuk mengingat. Makin lama makin gugup. Kalimat-kalimat anda berikutnya pasti lebih kacau.

Kedua cara di atas (membaca dan menghafal naskah) sebenarnya perlu diindari. Sebab itu bertentangan dengan kebiasaan kita setiap hari. Kita berkomunikasi dengan keluarga, rekan kerja, teman tanpa buat kerangka dulu. Semuanya mengalir begitu saja mengikuti pikiran. Dan lawan bicara anda bisa menerimanya.

Tapi jika anda merasa benar-benar belum siap dan diharuskan tampil, bolehlah memakai cara di atas. Berpidato memang perlu jam terbang. Terutama mental berbicara di depan banyak orang. Jadi bagi anda yang masih pemula, disarankan membaca saja dengan catatan harus lancar dan tidak kaku.

Nah, tips-tips berikut ini lebih dikhususkan bagi anda yang mau berpidato tapi tidak sempat melakukan persiapan. Jika anda terbiasa melakukannya, mungkin mudah. Namun yang belum terbiasa bahkan baru pertama kali, rasa grogi pasti muncul. Bingung memikirkan apa yang mau diomongkan.

Sebab Tidak Ada Persiapan

Umumnya kalau diharuskan berpidato pada acara-acara penting, pasti kita menyiapkan terlebih dulu. Apalagi yang mendengar pidato kita nanti puluhan bahkan ratusan orang. Entah dengan baca-baca, menulis kerangka pidato, atau mempelajari karakter pendengar.

Namun adakalanya kita tidak sempat melakukan itu. Ada 2 keadaan yang jadi penyebabnya:

1. Sibuk, sedang fokus pada hal lain
Saat diminta berpidato pada acara tertentu, anda sedang sibuk-sibuknya mengurus kerjaan. Sehingga meski waktu pelaksanaan berjarak beberapa hari, tetap tidak bisa anda gunakan untuk sekedar memikirkan materi apa yang akan anda sampaikan.

Tenang saja. Bukan berarti anda harus membatalkan penampilan anda. Belum tentu juga pembuat acara siap dengan pembatalan dari anda. Masih ada trik yang bisa digunakan untuk memaksimalkan pembiacaran meski tanpa persiapan.

2. Mendadak
Pernahkah anda mendatangi suatu acara, tiba-tiba diminta langsung untuk menyampaikan sambutan atau sejenisnya? Banyak kejadian seperti ini. Entah panitia yang kurang persiapan, atau memang ada hal di luar rencana. Intinya, anda dipercaya menyampaikan pidato saat itu juga.

Siapapun pasti kaget dengan keadaan ini. Bahkan orator handal sekalipun. Karena tidak terpikir sedari awal akan berbicara di podium menghadapi banyak orang.

Biarpun terkejut, anda perlu menarik nafas sebentar untuk kemudian mengatakan, “Baiklah”. Kepercayaan sudah datang pada anda. Mereka melihat anda orang yang paling tepat.

Selain 2 alasan di atas, mungkin ada alasan lain juga. Disini kita tidak fokus pada alasan-alasan itu. Yang kita fokuskan adalah bagaimana cara anda menghadapi situasi seperti itu.

Tips-tips berikut ini berjumlah 10 yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu pra pidato dan pada saat pidato. Pra pidato berarti apa saja yang perlu anda lakukan sebelum anda naik ke atas panggung. Dan tips saat pidato, berarti topik apa yang bisa anda bicarakan di atas panggung nantinya.

Tips Pra Pidato

Hal pertama yang perlu anda lakukan adalah menyiapkan mental, tidak takut salah. Jangankan tanpa persiapan, menyiapkan naskah berhari-hari saja kalau sebelum tampil sudah gugup dan grogi duluan, persiapannya bisa sia-sia. Justru yang punya mental bagus, meski tanpa persiapan cenderung lebih sukses dibanding yang menyiapkan berbulan-bulan tapi mendadak gugup sebelum tampil.

Kalau mental sudah tertata, silahkan cermati tips berikut ini.

1. Sesuaikan penampilan anda

Jenis pakaian harus disesuaikan dengan acara, tempat, dan audiens. Sesuaikan pakaian anda seperti audiens pada umumnya. Ini akan membuat mereka tidak melihat anda sebagai figur yang asing. Hati-hati, tatapan mata aneh dari audiens bisa membuat  anda yang tanpa persiapan ini menjadi semakin gugup.

2. Enjoy your stand

Begitu tiba saatnya anda tampil, jangan langsung bicara. Berdiri tegak beberapa saat. Cara berdiri yang benar jangan bertumpu pada sebelah kaki. Bertumpulan pada kedua kaki. Ini akan membuat anda rileks untuk mempersiapkan bicara.

3. Pandangi audiens dengan tepat

Kesempatan diam sebentar itu manfaatkan juga untuk memandang seluruh audiens. Sapu semua yang hadir, jangan hanya kelompok tertentu. Kalau merasa terbebani, arahkan pandangan ke kening audiens. Dengan hanya pandangan mata dan sedikit senyum, anda sudah memulai komunikasi yang baik. Audiens merasa dihormati sehingga akan balik menghormati anda.

4. Pegang microfon dengan nyaman

Adakalanya anda mendapatkan microfon yang sudah ada standarnya. Anda tidak perlu memegangnya, kecuali jika posisinya belum tepat. Genggam kepalan jari tangan anda dengan tangan yang lain, sambil terus menggerakkannya. Ini juga membantu menghilangkan grogi saat berada di atas panggung.

Bisa juga anda mendapatkan microfon yang tidak ada standarnya. Temukan posisi yang paling rileks dalam diri anda, sebab kalau sampai tangan anda gemetar memegang mcirofon itu, kepercayaan diri anda bisa berangsur-angsur sirna.

5. Sesuaikan gerakan anggota tubuh

Selama berpidato nanti, tangan sebaiknya memang digerak-gerakkan. Tapi bukan berarti anda perlu menyiapkannya karena akan terlihat dibuat-buat. Biarkan gerakan itu murni dari dorongan ungkapan perasaan sewaktu anda berbicara nantinya.

Nah itu tadi tips untuk menghadapi detik-detik anda tampil di atas panggung. Sekarang kita lanjutkan apa saja yang bisa anda sampaikan pada pidato anda kalau sebelumnya anda benar-benar tidak melakukan persiapan.

Tips Pada Saat Pidato

Apapun acara yang anda datangi pasti punya tema. Tema itulah yang seyogyanya anda singgung atau ulas dalam pidato anda. Sayangnya anda melewatkan hal penting, yakni tidak mempelajari dan menyiapkan sama sekali. Lalu apa yang anda sampaikan?

1. Memperkenalkan Diri

Hal paling mudah dalam membuka pidato adalah membuka diri anda pada audiens. Ingat-ingat lagi perjalanan hidup anda, terutama yang berhubungan dengan tema acara. Tentu tidak perlu persiapan untuk hal ini. Tinggal anda rangkai cerita tentang diri anda yang dirasa perlu.

Mungkin anda merasa belum punya apa-apa untuk diceritakan. Tapi percayalah, anda yang didaulat berada di depan orang banyak menandakan ada satu atau beberapa hal yang perlu anda bagi untuk menginspirasi audiens anda.

2. Menceritakan Salah Satu Audiens

Anda punya kenalan satu atau beberapa orang yang duduk di bangku audiens? Bagus. Ceritakan bagaimana keakraban anda. Kalau itu kawan lama anda, jangan ragu menceritakan masa lalu dengan kawan anda itu.

Audiens lainnya akan mengikuti arah bicara anda. Kontak batin yang anda bangun dengan satu teman anda akan dirasakan pula oleh seisi forum. Mereka percaya anda tidak berpidato untuk diri sendiri, namun mampu menjalin komunikasi dengan pendengar.

3. Menceritakan Pengalaman

Pengalaman bisa dipakai untuk berpidato. Tidak sembarang pengalaman, usahakan yang menyentuh tema acara. Seperti apakah anda pernah ikut acara yang sama tahun lalu saat anda masih menjadi peserta, atau kejadian-kejadian unik dan lucu yang anda alami.

Bercerita pengalaman itu tidak harus asli apa adanya. Bisa ditambah atau dikurang, bahkan bisa juga diubah sesuai kebutuhan agar menjadi lebih menarik bagi audiens. Nah, seharusnya anda tidak kesulitan menggali pengalaman anda, karena yang paling tahu adalah anda, orang lain hanya mengiyakan.

Dan satu lagi, penelitian menunjukkan sebagian besar orang tertarik dengan kisah pengalaman oranng lain. Apalagi jika pengalaman itu langka dan unik.

4. Menanyakan dan Menjawab

Lebih tepatnya mengajak audiens terlibat dalam pidato anda. Sesekali anda juga bisa meminta salah satu naik ke atas panggung untuk sekedar bertanya jawab hal-hal ringan.

Namun perlu ingat, hindari menebar humor kalau anda tidak sangat yakin akan membuat audiens tertawa. Ingat, anda sebenarnya kurang siap dengan pidato ini. jadi kalau auidens menangkap humor yang garing, mereka akan melihat pribadi anda hanya cengengesan dan tidak serius.

5. Memberikan Gambaran Umum

Nah inilah satu-satunya waktu anda harus menyinggung tema acara. Sampaikan persoalan umum saja yang berhubungan dengan tema. Imbuhi juga dengan masalah-masalah khusus kalau anda mampu mengingat dari televise, baca berita, dan sebagainya.

Meski tanpa persiapan sama sekali, tidak mungkin anda blank atau kosong sama sekali dengan tema itu. Kalau demikian, berarti pembuat acara salah memilih anda.

Itulah ulasan singkat mengenai cara yang bisa anda lakukan untuk berpidato yang tanpa persiapan sebelumnya. Meski yang terbaik tentu saja anda mempersiapkan diri sebelumnya, minimal membuat coretan peta konsep.  Tapi kalau benar-benar anda tidak punya waktu, sedikit tips di atas mudah-mudahan bisa membantu untuk tidak segera membatalkan kepercayaan yang telah diberikan pada anda.

Selamat mencoba, mudah –mudahan bermanfaat. . .

April 17, 2017

Kenali Tanda Siswa Sedang Berbohong

Semua guru mengajarkan siswa agar jujur. Hampir setiap hari baik di kelas maupun di lingkungan sekolah, guru selalu mengingatkan agar mengamalkan sifat ini dalam berbicara dan berperilaku.

Nyatanya upaya itu tidak selalu berhasil. Masih banyak siswa yang sering berbohong bahkan kepada gurunya. Apalagi jika si pembohong itu siswa kita sendiri, pasti campur-campur rasanya antara jengkel, marah, kesal, malu. Terbayang ada orang yang bertanya-tanya, siapa yang mendidik anak seperti ini?

Terlepas itu, mungkin belum banyak yang tahu kalau berbohong itu salah satu tanda anak mulai pintar. Kok bisa? Ya, ini khusus untuk anak usia 4-6 tahun (masa awal sekolah).

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani, anak yang berbohong pada usia 4-6 tahun sebetulnya mulai mampu membedakan mana yang benar dan salah, memilah mana hal yang sesuai kenyataan dan hanya rekaan. Namun ia memilih untuk melakukan tindakan yang salah.

Misalnya begini. Ada anak diberi pilihan membeli mainan berharga 10 ribu dan 20 ribu. Tentu saja sebenarnya ia lebih suka yang mahal, namun ia mengaku suka dan memilih yang 10 ribu karena sudah mengerti cara berterima kasih pada ibunya. Apa penilaian anda pada anak kecil seperti ini?

Kesimpulannya berbohong tidak selamanya jelek, ada yang baik. Beberapa diantaranya juga menjadi tanda anak cerdas. Namun biar bagaimana, berbohong tetap tidak dibenarkan.

Jadi pada usia 4-5 tahun itu sangat menentukan. Anak yang mulai bisa berbohong kalau dibiarkan akan menjadi kebiasaan saat ia tumbuh besar. Ia tahu trik bagaimana trik mengelabui orang lain, berkata sesuatu yang tidak sesuai aslinya.

Beda kalau ia mulai lebih diarahkan untuk memahami perbedaan jujur dan bohong lebih jelas, serta akibat-akibat yang ia rasakan, pasti si kecil mulai mengubah kebiasaannya.

Guru, jangan merasa malu kalau siswa anda pembohong. Tonggak pertama peletak dasar pembohong untuk anak bukan guru, tapi orang tua.

Tanda Siswa Anda Berbohong

Hampir semua siswa menunjukkan pola tubuh yang sama kalau ia berbohong. Gesture inilah yang coba kita amati. Baik siswa usia SD sampai SMA, semuanya akan menunjukkan gerik tubuh di bawah ini. selama ia bukan siswa berkategori “pengibul kelas kakap”, ciri-cirinya bisa dideteksi.

Untuk apa kita harus tahu siswa itu sedang berbohong? Salah satunya kita memahami motif si anak melakukannya. Ada siswa yang bohong karena ingin mendapat perhatian, ada juga yang merasa takut menerima akibat dari kesalahan yang dibuatnya.

Inilah tandanya siswa sedang berbohong:

1. Tatapan Mata

Teknik kuno untuk mendeteksi siswa berbohong. Siswa akan menghindari kontak mata secara langsung, karena hal itu sangat mengganggunya untuk fokus menyiapkan kalimat-kalimat bohongnya.

Cara ini juga sering dipakai guru kalau sedang mengawasi tes/ujian. Siswa yang berbuat curang akan selalu mencari dimana posisi guru berada. Dan begitu ada kontak mata secara langsung, ia akan kaget dan mengalihkan pandangannya.

2. Sering mengedipkan mata

Sering tanpa sadar siswa mengerdipkan mata kalau sedang menyembunyikan sesuatu. Selain mengerdipkan mata, biasanya juga melirik ke kanan dan kiri. Itu sebenarnya ia sedang mencari pembenaran lanjutan dari kebohongan yang sudah lebih dulu diucapnya.

3. Bicara terbata-bata

Nada bicara yang kurang tegas menunjukkan kalau ia sedang merangkai kalimat yang isinya tidak sesuai dengan kenyataan. Ditambah lagi gesture tubuh yang terlihat kurang nyaman dan gelisah.

Namun ada juga yang bicaranya lancar namun sebenarnya bohong. Ini pasti ia sudah menyiapkan kalimat itu sebelumnya. Tapi dengan sedikit interogasi dari anda, biasanya ceritanya akan berputar-putar dan banyak kejanggalan. Itu juga pertanda kalau ia sedang berbohong.

4. Menyentuh bagian wajah tertentu berulang-ulang

Siswa yang berbohong biasanya melakukan beberapa gerakan tangan tak perlu, seperti menggaruk kepala atau menyentuh hidung. Ia terus mengulangi gerakan itu secara refleks, tanpa sadar.

Penelitian menyimpulkan bahwa berbohong mengakibatkan jaringan sel hidung membesar dan menjadikannya gatal. Sehingga langsung merangsang tangan untuk menggaruknya atau mengapit dengan ibu jari dan jari telunjuk seketika itu.

5. Membela diri

Yang ini sering dilakukan siswa yang sudah remaja. Biasanya mereka mampu menyusun kalimat yang panjang, sesekali memotong pembicaraan guru, untuk mengalihkan perhatian guru agar membicarakan topik lain.

Selain membela diri, biasanya juga membawa-bawa teman atau orang lain yang sebenarnya tidak terlalu ada sangkut pautnya. Nah, tinggal pintar-pintarnya guru. Karena upayanya membela diri secara terus-terusan itu pasti ada satu atau beberapa kalimat yang tidak konsisten. Itulah tanda kebohongannya

. . .

Itulah tanda siswa anda sedang berbohong. Guru pasti merasa tersakiti saat menyadari ada anak didik sendiri harus menutupi kebenaran dan melakukan sebuah kebohongan. Apalagi kalau si pembohong ya siswa itu-itu saja.

Namun untuk mendidik dan memperbaiki perangainya, guru harus kuat dan konsisten meyakinkan siswa agar menjauhi kebiasaan tersebut.

Demikianlah pembahasan kali ini, mudah-mudahan bermanfaat . . .

April 15, 2017

Menambah Pelajaran Kitab Kuning di Sekolah

Menambah Pelajaran Kitab Kuning di Sekolah
Hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan kitab kuning di sekolah

Selama ini kitab kuning identik dengan dunia pesantren. Ma’nani bisa dibilang aktivitas yang melekat pada diri seorang santri. Karena sejak awal berdiri pesantren tetap mempertahankan metodologi ini hingga sekarang.

Beberapa waktu terakhir ini, sedang booming sekolah formal (SD, SMP, SMA) yang mencoba menambah pelajaran kitab kuning dalam kurikulumnya. Terutama setelah mendengar kabar bahwa di Purwakarta, Bupati Dedi Mulyadi mewajibkan kitab kuning masuk pada kurikulum sekolah.

Masih ada yang beranggapan ini adalah program yang benar-benar baru. Benarkah? Tidak. Ini bukan gagasan baru. Bahkan sudah lebih dari 10 tahun lalu banyak sekolah yang sudah menerapkannya. Terutama sekolah-sekolah swasta berbasiskan Islam atau yang berafiliasi dengan pondok pesantren.

Anda juga ingin mengikutinya?

Ada banyak keuntungan yang bakal anda dan sekolah dapatkan. Selain siswa punya pengalaman baru, reputasi sekolah anda juga meningkat. Ini bisa menjadi salah satu program unggulan.

Kita bisa melihat respon para tokoh menyikapi kebijakan di Purwakarta itu. Semuanya mendukung. Termasuk Rais ‘Am PBNU KH. Ma’ruf Amin yang sampai turun langsung ke satu sekolah menyaksikan penerapan pembelajaran kitab kuning, sampai Menteri Agama yang ikut mendukung dan menyarankan daerah lain mengikutinya.

Namun meski anda punya keinginan kuat menerapkan program ini, tak kalah pentingnya memikirkan kendala yang bakal anda hadapi. Jauh lebih penting memikirkan tantangan ini dibanding mencari keuntungannya. Karena keuntungannya sudah begitu jelas.

Hal yang Harus Diperhatikan dalam Menerapkan Pelajaran Kitab Kuning di Sekolah

1. Guru

Guru adalah ujung tombak semua kebijakan. Apapun kebijakan baru kalau ingin sukses mesti melihat kemampuan gurunya. Termasuk saat ingin menerapkan pelajaran kitab kuning.

Menganalisa kompetensi guru dalam mengajarkan kitab kuning sangat mudah. Hanya tinggal dilihat pengalaman pendidikan terdahulu, apakah pernah belajar di pondok pesantren atau tidak. Karena kita tahu satu-satunya lembaga yang concern menerapkan pembelajaran ini hanya pondok pesantren, atau setidaknya madrasah diniyah.

Nyatanya, tidak semua guru menguasai cara mengajar ma’nani dan murodi ala kitab kuning. Hanya golongan kecil guru saja yang dulunya pernah mengenyam manisnya bangku pesantren. Bahkan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pun, banyak yang murni alumnus Perguruan Tinggi Islam.

Dengan mengetahui kemampuan guru yang ada, paling tidak ada program khusus yang dilakukan sebelumnya. Seperti melakukan pelatihan atau mengikuti pengajian kitab-kitab kuning di pondok pesantren.

2. Tujuan Yang Diharapkan

Hal penting kedua adalah ketegasan sekolah untuk merumuskan tujuan apa yang ingin dicapai. Tujuan awal ini akan jadi penentu jalannya program kitab kuning ke depan.

Melihat yang sudah ada, paling tidak ada 3 tujuan sekolah memasukkan kitab kuning ke dalam kurikulumnya:

Sekedar pengenalan
Berarti sekolah hanya sekedar mengenalkan kepada siswa. Sehingga siswa dikenalkan cara belajar dengan media kitab kuning yang benar. Output akhirnya adalah siswa mampu menulis ma’na serta membacanya dengan baik.

Jika memilih ini, maka mata pelajaran yang dipilih disesuaikan dengan kitab-kitab yang sudah populer, seperti fiqh (mabadi  al-fiqhiyah, fath al-qarib), adab (ta’lim al-muta’allim), dan sebagainya.

Sebagai metodologi
Ini yang paling berat. Siswa bukan hanya dikenalkan, namun diajak mendalami pengetahuan lewat karya ulama terdahulu. Kalau mengacu pada tujuan ini, siswa tidak cukup bisa ma’nani dan muradi, melainkan juga harus memahami isi kitab itu dengan baik.

. . . sebagaimana ia belajar matematika, IPA setiap hari.

Adakah kitab kuning yang membahas disiplin ilmu semacam itu? Ya pasti ada. Selama ini masih banyak yang menganggap kitab kuning hanya berisikan materi-materi agama. Banyak juga kitab yang menelaah ilmu lain seperti astronomi dan kedokteran.

Untuk promosi sekolah
Tujuan inilah yang banyak dipakai sekolah saat menerapkan pelajaran kitab kuning. Dengan menjadi berbeda, harapannya ada nilai lebih yang bisa menarik minat para orang tua menyekolahkan anaknya.

Menggunakan kitab kuning sebagai alat promosi sah-sah saja. Namun anda juga harus mempertimbangkan aspek teknisnya, seperti kemampuan guru, fasilitas, judul kitab yang dipilih. Karena tanpa memikirkan hal itu, usaha promosi sekolah akan sia-sia.

3. Metode mengajar

Metode yang biasa digunakan (bahkan satu-satunya metode) yang selalu dipakai adalah sorogan. Ustadz/kyai membaca sambil menjelaskan, santri menyalinnya. Di dunia sekolah, lebih sering dikenal dengan metode langsung (ceramah, tanya jawab).

Apakah metode itu juga efektif dikenakan untuk siswa sekolah?

Begini. Pendidikan di pesantren itu berbeda dengan sekolah umum. Kalau santri umumnya sadar begitu masuk ke pesantren ia akan mengikuti pola pembelajaran di sana. Rasa tawadhu’ pada sang kyai menjadi modal kuat untuk menerima apapun tradisi yang sudah berlaku.

Kalau di sekolah? Biasanya mengajar dengan cara ini hanya menghasilkan siswa yang kurang serius, pasif, dan kurang produktif. Bahkan saat ini lebih dianjurkan pembelajaran yang mana siswa lebih aktif ketimbang gurunya.

Nah, perlu dikaji lebih dulu pilihan metode apa saja yang bisa dipakai. Kalau di awal, masih tidak terasa karena siswa masih antusias menghadapi suatu hal yang baru. Namun kalau sudah lama dan dilakukan monoton, bukan tak mungkin rasa bosan akan menghambat jalannya pembelajaran.

Demikianlah 3 hal penting yang harus diperhatikan sebelum mengeluarkan kebijakan penerapan kitab kuning di sekolah. Sebelum melangkah lebih jauh, tentu lebih baik disiapkan sedari awal. Agar ke depannya bisa efektif memberikan keuntungan bagi sekolah.

Mudah-mudahan bermanfaat . . .

April 13, 2017

Teknik Rangsang Merangsang Untuk Mengajar Puisi

Teknik Rangsang Merangsang Untuk Mengajar Puisi
Beberapa waktu lalu saya pernah memposting salah satu teknik mengajarkan puisi, yaitu Poems for Two Voices. Ternyata cukup banyak juga yang membacanya. Peminatnya lebih banyak dibanding artikel-artikel lain di blog ini. Mungkin karena metode itu unik dan mudah diterapkan, sampai-sampai pernah digunakan sebagai PTK dan menjadi juara I Tingkat Nasional.

Untuk artikel kali ini saya akan membagikan satu cara mengajar puisi lainnya, yaitu teknik rangsang-merangsang. Agak aneh namanya. Namun saya yakin begitu mengenalnya, anda tidak akan kesulitan menerapkannya di kelas.

Sebelum itu kita perlu merefresh dulu apa pentingnya melatih siswa menulis puisi. Yang sering terjadi adalah guru hanya serius mengajar puisi dan memperbanyak porsi latihan kalau sedang menghadapi lomba. Kalau pembelajaran biasa, jarang sampai serius mencari teknik apa yang terbaik dan membuat anak betul-betul mencintai puisi.

Kalau anda benar-benar sedang menyiapkan putra-putri yang sukses di masa datang, puisilah salah satu jembatannya. Ada banyak manfaat yang bakal diperoleh kalau siswa benar-benar menyukai puisi.

Teknik rangsang merangsang berarti kita menggunakan obyek tertentu untuk memunculkan kata demi kata dalam benak siswa, untuk ia susun menjadi bait demi bait puisi. Obyek tersebut sangat dekat dengan kehidupan siswa.

5 Manfaat Puisi Bagi Siswa


Menulis puisi itu punya banyak manfaat. Tidak ada alasan bahwa berpuisi itu soal bakat. Tergantung bagaimana guru menyajikan puisi di dalam kelas.

Inilah 5 alasan pentingnya siswa menguasai  puisi:

1. Menemukan potret dunia sekitar

Membaca gambaran dunia sekitar sangat penting untuk mengembangkan otak kanan. Anak didik anda akan terlatih berpikir out of the box, menganalisa lingkungan sekitarnya, serta menemukan hal-hal baru yang tidak banyak orang pikirkan.

2. Menghargai bahasa dan menambah kosa kata

Kekayaan bahasa ada dalam puisi. Pemakaian kata konotatif yang indah memberikan efek kepuasan bagi siswa, disamping terasa menyejukkan bagi yang membaca.

3. Mengenali orang lain lebih dalam

Terutama kalau sedang membuat puisi yang bertemakan tokoh atau peristiwa, siswa akan mencoba mengidentifikasi lebih dalam mulai dari karakternya, sifat, perjuangan, dan sebagainya. Ini sangat positif untuk mencetak siswa yang mau berpikir secara menyeluruh, bukan hanya apa yang tampak di luar.

4. Memahami perasaan mereka sendiri

Pada masa-masa remaja, mustahil siswa menanggalkan perasaan mereka ke dalam dunia sekolah. Rasa hati dan belajar membaur jadi satu. Anda yang mengajar siswa SMA seharusnya lebih mudah, karena anak didik anda sudah memendam beribu-ribu rasa. Tinggal sedikit keyakinan untuk menuangkannya dalam bait-bait puisi.

5. Peka terhadap lingkungan

Efek lanjut setelah siswa berpikir mendalam, ia akan menyadari apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang oleh lingkungan / masyarakat. Dengan menulis puisi secara jujur dari dalam hati, siswa bukan hanya tahu, tapi betul-betul merasakan apa dan bagaimana dampaknya kalau ia melanggar peraturan-peraturan kehidupan.

Itulah 5 hal yang akan anda perjuangkan. Sekali lagi hanya bagi anda yang serius bermimpi melihat siswa yang sukses di masa datang, yaitu siswa yang lebih menonjolkan cara berpikir otak kanan dibanding otak kiri. Puisi termasuk media untuk optimalisasi otak kanan.

Mudahkah membantu siswa meraih 5 manfaat di atas? Tentu saja tidak. Ada beberapa masalah dan kendala yang anda hadapi berkenaan dengan upaya itu.

Inilah Tantangan Yang Anda Hadapi . . .

Bukan masalah sebenarnya, tapi tantangan. Tantangan berikut ini sejatinya adalah hal-hal yang akan kita selesaikan nanti menggunakan teknik rangsang-rangsang merangsang. Berikut tantangan yang dimaksud:

  1. Sulit menemukan ide
  2. Tak mampu menemukan kata-kata pertama
  3. Minim kosa kata
  4. Kurang biasa terbuka, suka menyembunyikan perasaan
  5. Teori yang salah kaprah tentang puisi

Nah dengan jelasnya tantangan yang anda hadapi, tentu saja butuh teknik mengajar yang tidak biasa, unik dan menyenangkan. Alternatifnya yaitu menggunakan teknik rangsang-merangsang.

Teknik Rangsang-Merangsang Dalam Mengajar Puisi


Teknik ini sama sekali tidak berkonotasi negatif, bukan. Teknik rangsang merangsang berarti kita menggunakan obyek tertentu untuk memunculkan kata demi kata dalam benak siswa, untuk ia susun menjadi bait demi bait puisi. Obyek tersebut sangat dekat dengan kehidupan siswa.

1. Rangsang Peristiwa

Usahakan memilih peristiwa yang dekat dengan dunia siswa. Kalau anda guru SMA, bisa memilih peristiwa berkenaan dengan cinta. Anda bisa memberi batasan, seperti menulis puisi pendek tentang peristiwa cinta yang langsung dialami, dilihat, dan dirasakan oleh siswa sendiri.

Kalau mereka terbuka, inilah puisi-puisi yang mereka ciptakan.

Terpana

Melihatmu
Bak menyapa kesejukan pagi
Kau di sisiku
Aku di dekatmu
Mata hanya jembatan
Hati adalah penghubung

Aspek pentingnya adalah anak jadi peka akan realitas peristiwa yang dialami. Mau menggambarkan dalam bentuk kata-kata.

Dan lihatlah, dari satu peristiwa saja anda akan melihat respon yang beragam dari para siswa. Karena mereka menangkap dengan caranya sendiri-sendiri. Tentang “patah hati” misalnya. Ada siswa yang menanggapinya serius, ada yang main-main, ada pula yang menjadikannya humor, dan mungkin ada lagi lainnya.

Semua benar dan sah. Inilah awal yang baik kalau puisi-puisi itu dimunculkan dari peristiwa pribadi yang pasti menimbulkan suasana, nada, dan gaya tulisan yang berbeda-beda.

Kalau anda beruntung, mungkin akan mendapati puisi seperti ini.

Sajak Luka

Mataku menyapamu
Kau melirikku
Senyum terbaik sedang kusiapkan
Tiba-tiba pacarmu datang
Matih aku!

2. Rangsang Gambar

Teknik ini berarti guru menyajikan gambar untuk merangsang keluarnya ide puisi. Gambar terbaik adalah yang mampu menggerakkan emosi dan perasaan, seperti anak-anak kelaparan, gambar suasana perang, atau bencana alam.

Wajah-wajah anak korban perang


Ada dua pilihan penyajiannya, pertama siswa membuat gambar itu  sendiri, artinya mengungkap dulu gambaran/sketsa yang akan ia gubah menjadi puisi. Dan kedua gambar itu disiapkan oleh guru. Kalau ingin efisien, pilihan kedua lebih tepat.

3. Rangsang Tema Kehidupan

Apa tema paling menyentuh yang ada di sekitar lokasi sekolah? Apakah sampah? Rumah-rumah kumuh? Banjir? Petani gagal panen? Marak pencurian?

Tema-tema itu perlu dikonkritkan terlebih dulu oleh siswa. Ambil satu contoh tema “gagal panen”, siswa harus benar-benar mendalami siapa sosok petani gagal panen yang ia jadikan model, dimana kejadiannya, apa harapannya. Dengan demikian, ide-ide itu akan lebih mudah muncul.

Harapan Terakhir

Padahal kami bukan orang yang bebas menancapkan tanaman
Padi inilah pilihan terakhir
Maka ujian apalagi yang engkau sematkan
Sampai kami gagal lagi, dan lagi
Sampai perut kami menyerah mati?

4. Rangsang Benda Remeh

Ada  satu penyair, namanya Joko Pinurba. Ia menulis puisi berawal dari benda sekitar yang tergolong remeh. Dasarnya orang kreatif, hal yang bagi banyak orang dianggap sepele berubah jadi karya besar.

Untuk menerapkan teknik ini, perlu kejelian menemukan benda remah apa yang pas dijadikan inspirasi. Tidak semua benda remeh bisa digamblangkan lebih luas. Berikut ini satu contoh puisi jadinya.

AKIK

Aneh, banyak yang bilang kau indah
Kau mahal idaman tiap orang
Tapi apa . . .
Kau tetaplah sebongkah batu!!
Tapi kau menolak diremehkan
Siapa kau . . .?
Yang bersembunyi di balik wibawamu
Sejatinya kau buruk
Tak lebih indah dari batu apung berjerawat

5. Rangsang Ledekan

Rahasia umum yang selalu anda abaikan, siswa anda sebenarnya sering meledek antara satu dengan lainnya. Kebanyakan hanya berniat bercanda, guyonan. Nah, terbayang kalau kita meminta mereka menuangkan itu menjadi selarik puisi. Pasti akan menghadirkan suasana ramai dan hidup di dalam kelas.

Namun ada syaratnya. Sepakati dulu tidak boleh ada yang marah, jengkel, kesal, sakit hati dengan puisi teman-temannya, karena motifnya hanya ingin bercanda. Batasi juga penggunaan kata-kata, terutama larangan keras memilih kata-kata kotor yang jauh dari etika pelajar.

Nah demikianlah uraian mengenai teknik rangsang merangsang dalam mengajarkan puisi pada siswa. Dengan artikel ini, anda punya lebih banyak opsi lagi untuk memilih metode yang pas dalam mengajar puisi. Sekali lagi, pintar berpuisi bukan soal bakat. Tiap orang harus mau berpuisi. Karena dengan menulis puisi, daya imajinasi dan kreasi orang akan lebih hidup.

Selamat mencoba . . .

April 12, 2017

Inilah Maksud Tatapan Mata Siswa dan Arah Pandangannya

Inilah Maksud Tatapan Mata Siswa dan Arah Pandangannya
Memahami arti tatapan mata siswa dan arah pandangannya adalah salah satu tugas penting guru.

Mengajar itu bukan profesi mudah. Percayalah, meski ada teman anda ada yang menilai pekerjaan ini sepele, belum tentu mereka mampu mengerjakan tugas-tugas guru, apalagi secara profesional.

Selain bekerja sesuai standar kerja yang tertuang di kurikulum, guru juga harus punya inisiasi tersendiri guna menunjang tugasnya. Banyak masalah tak tertuang solusinya di kurikulum, namun harus mampu di atasi guru.

Salah satunya adalah kemampuan membaca bahasa tubuh siswa (body language). Skill ini penting guna menunjang tugas guru yang harus memahami anak secara menyeluruh. Selain itu, anda juga akan langsung tahu apakah siswa sedang serius atau pura-pura mengikuti instruksi yang anda berikan.

Kalau guru sudah mengajar puluhan tahun, tentu mudah memahami arti dari bahasa tubuh siswa. Tapi kalau anda masih guru pemula, tenang saja, ada kaidah umum yang biasa dipakai untuk memahaminya.

Tulisan ini lebih spesifik menguraikan salah satu bagian dari gesture/gerak tubuh, yaitu pandangan mata. Yang  pertama tentang arti dari bagaimana tatapan mata siswa, dan kedua arti dari arah pandangan mata siswa.

Poin-poinnya saya sarikan dari beberapa buku, dan tentunya setelah saya cermati ternyata tepat menggambarkan apa yang dipikirkan siswa.

Bagaimana tatapan mata siswa anda?


Anda yang mengajar beberapa tahun pasti tahu kalau siswa memandang anda dalam berbagai bentuk dan cara. Adakalanya serius menatap mata anda secara tajam, ada yang setengah-setengah, ada pula yang mengacuhkan.

Inilah maksud dari tatapan itu:

1. Tatapan mata konsisten

Kalau anda berbicara di depan kelas, dan mereka menatap anda secara konsisten, itu artinya siswa tertarik dengan pembicaraan anda. Tidak ada yang salah, lanjutkan mengumbar kalimat demi kalimat yang membuat mereka penasaran dengan penjelasan anda selanjutnya, dan selanjutnnya.

2. Memperpanjang kontak mata

Siswa yang masih menatap mata anda padahal anda sudah selesai bicara, itu artinya ada rasa tidak puas. Mintalah siswa bertanya setelah itu, pasti ada satu atau beberapa yang angkat tangan.

3. Tatapan mata cepat dan singkat

Yang ini artinya siswa tidak tertarik dengan apa yang anda sampaikan. Fokus siswa biasanya mulai bercabang setelah situasi ini. Mereka mulai keluar dari alur materi yang anda bawakan.

Jika menemui situasi ini, segera ubah kalimat anda menjadi lebih komunikatif. Panggil salah satu siswa, minta ia mengulas apa yang sudah anda sampaikan.

4. Menghindari kontak mata

Yang namanya komunikasi, pastinya saling bertatap mata. Jadi kalau siswa menghindari kontak mata dengan anda sewaktu anda berbicara, itu artinya mereka sama sekali tidak tertarik, bahkan tidak ingin mendengar penjelasan itu.

Kemana Arah Pandangan Matanya?


Setiap hari kita mengajak anak untuk belajar, tentu anda sering melihat mereka berpikir sambil memandang ke arah tertentu. Apakah ini anda lewatkan? Sayang sekali kalau iya, sebab ini akan membantu anda memahami keseriusan mereka menerima tugas yang anda berikan.

Inilah arti dari arah tatapan mata siswa:

1. Mata melihat ke atas kanan

Kalau anda melihat seorang siswa sedang memandang ke atas kanan (atas kiri dari sudut pandang anda) sebenarnya sedang mengingat suatu gambar.

Mintalah siswa untuk mengingat-ingat suatu gambar, ia akan melihat ke kanan atas.

2. Mata melihat ke atas kiri

Suatu saat anda melihat siswa menengo ke arah atas kiri, itu artinya ia sedang berimajinasi menggambarkan sesuatu. Perhatikan waktu anda memberikan tugas mengarang cerita fiksi, mereka akan melihat ke arah atas kiri untuk membayangkan suatu peristiwa yang mungkin terjadi.

3. Mata melihat ke kanan

Saat siswa anda melihat ke arah kanan, mereka sebenarnya sedang memanggil suara dari memori mereka. Cobalah minta siswa anda untuk mengingat sebuah lagu yang populer, mereka akan melihat kea rah kanan.

4. Mata melihat ke kiri

Ini adalah tandanya siswa sedang membangun suara. Siswa anda sedang mengimajinasikan suara baru yang masih asing baginya. Cobalah minta siswa membayangkan suara bel di dalam air, mata mereka akan mamandang ke arah kiri.

5. Mata melihat ke bawah kiri

Dikala siswa melihat kea rah bawah kiri, maksudnya ia sedang membayangkan bagaimana perasaannya terhadap suatu hal. Baik yang dialaminya sendiri atau orang lain. Coba tanyakan apa yang dirasakannya saat ulang tahunnya, ia akan melihat ke bawah kiri sebelum menjawab pertanyaan anda.

6. Mata melihat ke bawah kanan

Ini artinya siswa sedang berbicara dengan diri mereka sendiri. Ada percakapan internal di benaknya. Tanyakan apa hasil percakapan terakhir dengan temannya, ia akan melihat ke arah bawah kanan.

7. Mata melihat ke atas lurus

Arti yang umum dipakai untuk menilai orang yang sering mendongak ke atas adalah ungkapan keangkuhan, penghinaan, dan sarkasme. Perlu diwaspadai. Sebab ini bisa juga berarti ia merendahkan anda.

8. Mata melihat ke bawah lurus

Kalau siswa memandang ke arah bawah, kebanyakan sedang mendengarkan ungkapan kemarahan atau peringatan anda. Ia sebenarnya patuh, tapi tidak nyaman. Ia mungkin juga merasa malu dan ingin segera mengakhiri pembicaraan.

. . .
Baiklah, itulah uraian mengenai arti dari bagaimana tatapan siswa anda serta kemana arah ia memandang. Kalau anda lebih cermat, kemampuan yang terbilang sederhana seperti ini sebenarnya mendukung tugas mendidik.

Mudah-mudahan bermanfaat . . .

April 11, 2017

Cara Mengatasi Glossophobia (Takut Bicara di Depan Umum)

Cara Mengatasi Glossophobia (Takut Bicara di Depan Umum)
Pernah ada seorang teman yang mengobrol, “Eh si A itu orangnya pendiam ya”. Teman saya yang satunya menjawab, “Oh itu, dia memang pegawai, pendiam orangnya”.

“Memang pegawai apa?”.

“Pegawai Negeri, guru SMP.”

Percakapan yang tampak biasa kan? Tapi bagi seorang guru seperti saya, mendengar obrolan itu terasa janggal. Bukankah guru itu pekerjaannya bicara. Bagaimana mungkin bisa dinilai pendiam?

Tak bisa dipungkiri meskipun menyandang profesi guru, masih banyak yang mengalami masalah soal berbicara di depan umum. Begitu perkasa di depan siswa, kata-katanya bak sihir yang membius dan menginsirasi seisi kelas.

. . . tapi mati kutu saat rapat internal sekolah. Mendadak gugup saat diminta memberi sambutan rapat wali murid, bahkan hanya untuk menjadi pembawa acara.

Terlebih bagi anda yang mungkin masih sebagai guru pemula. Jangankan berbicara di depan orang banyak, berceramah di depan siswa kadang masih gugup bukan main. Meski punya skill mumpuni saat memimpin diskusi atau presentasi di bangku kuliah, tak menjamin lihai berorasi di dunia kerja sesungguhnya.

Nah tulisan ini akan membantu anda menemukan cara untuk mengatasi  masalah itu. Takut bicara di depan umum, atau disebut juga “glossophobia” bisa menjangkiti siapa saja. Termasuk guru yang sudah punya kebiasaan berbicara, masih banyak yang mendadak jadi pendiam saat berada pada satu forum yang mengharuskannya bicara.

Ingatlah, guru itu orator (pembicara), guru tidak boleh pendiam. Guru harus berani bicara di depan umum, namun bukan banyak bicara. Tidak pendiam, tidak juga bermulut besar.

Cara mengatasi glossophobia (takut bicara di depan umum) dan cara menghilangkan grogi saat ceramah dan pidato


Tips Menjadi Guru yang Ahli dalam Berbicara


Kalau anda merasa benar-benar punya masalah ini, sadarilah kembali:

• Guru itu profesi yang menuntut bisa dan berani bicara

Bukan hanya di depan siswa, tapi juga di depan para orang tua, stake holder, atasan, dan masyarakat sekitar.  Ada banyak acara yang mengharuskan guru bicara, baik acara formal maupun semi formal. Dalam acara-acara itu, banyak orang yang sudah menunggu untaian kata-kata anda.

Jadi intinya, berbicaralah di forum apapun yang anda ikuti!

• Kekuatan terbesar manusia setelah otak adalah mulut

Pepatah Jawa mengatakan, “Ajining diri saka lati”. Harga diri berasal dari lidah (ucapan). Menggambarkan kekuatan yang dihasilkan dari ucapan kita. Ada lagi, “Mulutmu harimaumu”, menggambarkan efek yang dihasilkan oleh pembicaraan kita.

Jadi berbicara itu keharusan, karena merupakan bentuk penyampaian pesan, gagasan, ide, dan keinginan kita. Dan ide anda akan semakin berharga mahal kalau anda berani ungkapkan di depan umum.

Untuk itu, berbicaralah!

Nah, jika sudah merenungkan lagi dua hal di atas, saatnya anda mulai menempuh langkah-langkah berikut ini untuk menumbuhkan keberanian bicara di depan umum.

1. Membacalah

Anda jarang membaca? Jangan bermimpi menjadi pembicara yang baik. Bolehlah seorang punya segudang pengalaman matang, dan mampu berpidato dengan lengkap. Namun kebanyakan penyampaiannya kurang bisa dipahami.

Mengapa? Karena jarang membaca membuat kata demi katanya tidak runtut, sering melompat-lompat. Kalaupun bisa, diksi atau pilihan katanya pasti kurang tepat, bahkan sering pakai kata-kata pasar yang jauh dari citra sopan dan lembut khas seorang guru

Anda yang punya masalah glossophobia, seringlah membaca tulisan bertema kesukaan anda. Baca dengan bersuara. Sesekali paksa juga membaca karya-karya ilmiah. Otak dengan sendirinya akan menyusun kata-kata anda lebih sistematis, runtut. Kosakata juga bertambah.

Yang penting lagi anda punya wawasan baru yang lebih luas dibanding calon pendengar anda. Itulah modal penting membangun keberanian berbicara.

2. Selalu bertanya dan berpendapat di rumah

Keluarga adalah forum paling mudah untuk berlatih berbicara. Di rumah anda tidak perlu takut ditertawakan atau pembicaraan anda dianggap sepele. Kalaupun sampai dilecehkan, sama sekali tak membuat anda menanggung beban psikis yang amat.

Mampukah anda merasakan hal yang sama saat berbicara di depan orang banyak? Itulah sebenarnya yang dirasakan oleh orang-orang yang anda sebut orator handal, motivator mumpuni, dan sebagainya. Mereka tidak takut kata-katanya disepelekan, sehingga merasa bebas tanpa tekanan.

Untuk itu, sebagai pembelajaran, tingkatkan intensitas berbicara anda di hadapan anggota keluarga. Bubuhkan alasan yang lebih detil dan panjang saat ngobrol santai. Biarkan mereka menyadari perubahan itu. Karena anda memang serius membunuh karakter glossophobia dalam diri anda.

3. Jangan sering baca teori public speaking, berlatihlah!

Sudah menjadi naluri setiap orang, kalau ingin mengatasi suatu masalah pasti ia mencari tulisan tentang cara menyelesaikannya. Termasuk glossophobia ini. Biasanya akan terjerumus pada buku atau artikel tentang public speaking.

Tidak salah, hanya kalau terlalu sering cuma akan buang-buang waktu. Karena anda hanya akan menemukan tips-tips yang kurang lebih sama satu dengan lainnya. (Mungkin juga tips-tips pada artikel ini . . . ☺)

Cara terbaik adalah sering berlatih. Berbicaralah di depan kaca, atau anda punya relawan teman atau keluarga untuk mendengarkan. Pegang teks jika masih belum yakin dengan performa anda. Lakukan secara intens dan serius.

4. Libatkan fisik untuk kesiapan mental

Sebenarnya tiap orang punya gerakan tubuh bawaan sewaktu berbicara. Meski untuk pembicara pemula terkadang gerakan tubuh itu dibuat-dibuat. Sehingga terlihat kaku.

Untuk mengurangi grogi dan meyakinkan pendegar, beberapa gerakan fisik ini bisa anda latih untuk “menemani” ceramah anda:

  • Mengepalkan tangan
  • Berdiri tegap
  • Tekuk ibu jari kaki, terutama saat merasa grogi
  • Masukkan jari-jari tangan ke sela-sela jari tangan satunya
  • Tangan kanan dikepal dan digenggam jari kiri.

Itulah tips-tips praktis untuk anda yang sedang mengalami masalah glossophobia (takut bicara di depan umum). Tak kalah pentingnya adalah kendurkan pribadi serius yang mungkin ada pada diri anda. Karena karakter inilah yang mungkin menghalangi anda untuk berani bicara.

Buat lebih mudah, anggap bicara di depan orang banyak sama halnya anda berbicara seperti biasa. Mungkin sulit, tapi bukan berarti tak bisa dilatih.

Selamat mencoba . . .

April 10, 2017

Mengenali Bahasa Tubuh Siswa Kalau Jatuh Cinta

Mengenali Bahasa Tubuh Siswa Kalau Jatuh Cinta
Pernah melihat siswa mengutarakan cinta pada temannya? Atau jangan-jangan anda korban atau pelaku nembak teman sekelas dulu?

Sebenarnya penting tak penting juga membahas soal ini. Soalnya tak ada kaitan sama sekali dengan pembelajaran. Penting kalau anda begitu peduli sama siswa, sehingga sampai hal detil seperti inipun ingin anda ketahui. Gak penting kalau anda menganggap ini urusan pribadi mereka, tak perlu intervensi guru.

Namun lupakan penting atau tidaknya. Saya akan tetap menulis tema ini. Tentang karakter siswa yang sedang menyukai teman lawan jenisnya. Untuk anda tipe guru yang super peduli sama siswa, dan sering menjadi tumpuan curhat siswa-siswi anda, bahasan seperti ini tepat anda kuasai.

Anda yang mengajar di SMA pasti paham, usia anak didik anda adalah puncak kejayaan anak sekolah. Kata orang, inilah saat terindah masa sekolah. Karena salah satunya ada unsur percintaan yang penuh rasa bahagia, sedih, bangga, sakit, dan sebagainya.

Itulah intinya, bahwa siswa yang mulai diliputi rasa cinta berpengaruh secara langsung pada psikisnya. Dan apa akibat yang bisa dilihat? Prestasi! Bagus kalau si anak mampu memanage perasaan itu dengan baik, kalau tidak maka penyandang siswa teladan sekalipun akan berubah jadi pecundang. Sudah banyak contoh anak-anak bernasib sial seperti itu.

Masih ragu kalau guru harus menguasai skill ini?

Cobalah sekali-kali searching berapa persen siswa Indonesia yang gagal mengolah naluri mudanya ini dengan baik. Berapa persen yang tak lagi perawan, berapa banyak yang sudah ini itu. Saya tak mau menyebutnya. Malu.

. . . maka guru wajib tahu ciri-ciri anak yang mulai jatuh cinta.

Membaca bahasa tubuh yang ditunjukkan siswa saat ia memendam perasaan suka atau hatuh cinta pada temannya

Inilah Bahasa Tubuh Siswa Ketika Jatuh Cinta


Untuk mengenal siswa yang sedang dilanda asmara, kita tidak bisa mengandalkan pengakuan langsung si anak. Namun semua itu terjawab dari bahasa tubuh yang ia tunjukkan.

1. Kontak Mata

Di awal-awal ketertarikan siswa pada temannya, seorang siswa akan sedikit malu atau bahkan sangat malu untuk sekedar kontak mata secara langsung dengan siswa yang disukainya.

Perhatikan, begitu tatapan mata beradu, ia akan membuang muka dan menunduk sebentar. Barulah saat ia merasa nyaman dan yakin tatapannya akan lebih fokus dan lebih dalam.

2. Gerakan Tangan

Cermati adakah gerakan “tak perlu” yang ia tunjukkan saat berkomunikasi dengan teman lawan jenisnya. Seperti merapikan rambut atau memainkan ujung rambut dengan tatapan fokus, itu menjadi tanda ia sedang tertarik.

Bahkan gerakan seperti meletakkan bibir di mulut lebih kuat menunjukkan siswa terpukau dengan lawan bicaranya. Ini juga dilakukan diam-diam tanpa disadari sembari memperhatikan siswa yang disukainya.

3. Sikap Tubuh

Lihatlah juga bagaimana sikap tubuh yang ditunjukkan saat berbicara dengan lawan jenisnya. Ada ahli yang menuturkan gerakan memiringkan kepala ke satu sisi diiringi nada suara yang lembut merupakan satu tanda. Termasuk mengikuti gerakan tubuh yang dilakukan lawan bicara adalah indikasi kuat siswa sudah tertarik.

Maka kita bisa memahami bahwa ia sedang ingin terlihat sempurna dan tidak ingin dinilai jelek. Meskipun terkadang hal ini mengakibatkannya salah tingkah.

4. Ekspresi Wajah

Siswa yang tertarik dengan salah satu temannya cenderung menujukkan raut wajah yang berseri-seri sewaktu diajak bicara. Sering tertawa dan tersenyum, bahkan untuk obrolan yang tak lucu sama sekali.

Pokoknya ia terlihat ceria kalau sedang ngobrol bersama. Ditambah alis terangkat, ada rona merah di bagian pipi, adalah indikasi kuat kalau ia sedang tertarik.

5. Memperhatikan Secara Diam-diam

Seorang siswa pasti tertarik dengan siswa lain kalau kedapatan sering menatapnya, baik secara langsung maupun diam-diam melihatnya sekilas.

Indikasinya semakin kuat kalau ia segera membuang tatapan itu secara cepat ketika si target membalas tatapannya.

6. Memberi Perhatian Secara Khusus

Yang ini tidak perlu lagi skill khusus untuk mengartikannya. Siswa yang tertarik pada siswa lain akan menunjukkan perasaan suka dengan memberi perhatian khusus seperti menanyakan hal-hal kecil tentang si target, atau memberi barang-barang tertentu. Semakin intens perhatian itu diberikan, indikasi siswa itu tertarik makin kuat.

. . .
Nah, itulah bahasa tubuh siswa yang menunjukkan kalau ia sedang memendam perasaan suka pada temannya. Sekali lagi tulisan ini tidak memaparkan strategi apa yang tepat menghadapi siswa-siswa seperti ini. Perlu eksplore lebih jauh karena pada tiap siswa penanganannya juga berbeda.

Mudah-mudahan bermanfaat . . .