Jakarta – Perkembangan teknologi digital telah membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari layanan pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga aktivitas ekonomi. Namun di balik kemajuan tersebut, ancaman terhadap keamanan informasi dan perlindungan data juga terus meningkat. Kebocoran data, serangan siber, hingga penyalahgunaan informasi menjadi tantangan yang perlu diantisipasi oleh setiap perusahaan.
Melihat kondisi tersebut, Gilis Fadhil Hisyam sebagai penulis mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa, akademisi, dan profesional, untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya tata kelola keamanan informasi melalui standar internasional
Menurut Gilis Fadhil Hisyam, keamanan informasi tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab dalam menjaga kepercayaan, kerahasiaan data, dan keberlangsungan layanan kepada masyarakat.
"Di era digital, menjaga keamanan informasi merupakan bagian dari tanggung jawab setiap perusahaan. Pemahaman terhadap ISO/IEC 27001:2022 dapat membantu membangun budaya pengelolaan informasi yang lebih baik sehingga risiko kebocoran data maupun gangguan layanan dapat diminimalkan," ujar Gilis Fadhil Hisyam.
Selain menjadi acuan dalam pengelolaan keamanan informasi, ISO/IEC 27001:2022 juga mendorong perusahaan untuk menerapkan pendekatan berbasis risiko (risk-based approach) dalam melindungi aset informasi. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi keamanan, tetapi juga membangun kebijakan, prosedur, serta budaya kerja yang mendukung perlindungan data secara menyeluruh. Hal ini menjadi penting mengingat semakin banyak aktivitas masyarakat yang bergantung pada layanan digital, mulai dari proses pembelajaran, transaksi keuangan, layanan kesehatan, hingga administrasi pemerintahan.
Di lingkungan pendidikan, pemahaman mengenai keamanan informasi juga dinilai semakin relevan. Mahasiswa, dosen, dan peneliti kini memanfaatkan berbagai platform digital dalam proses belajar mengajar maupun penelitian. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai tata kelola keamanan informasi dapat menjadi bekal penting untuk memahami cara melindungi data pribadi, menjaga kerahasiaan dokumen, serta mengurangi risiko penyalahgunaan informasi di era digital. Literasi mengenai standar internasional seperti ISO/IEC 27001:2022 juga diharapkan dapat memperkuat kesiapan lulusan dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin menekankan aspek keamanan informasi.
Melalui buku Mastering ISO/IEC 27001:2022, Gilis Fadhil Hisyam berharap semakin banyak masyarakat memperoleh referensi yang mudah dipahami mengenai penerapan Sistem Manajemen Keamanan Informasi. Kehadiran buku digital diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif sumber pembelajaran bagi mahasiswa, praktisi teknologi informasi, auditor, hingga perusahan yang ingin memperdalam pemahaman mengenai standar keamanan informasi internasional.
Gilis Fadhil Hisyam bersama Afdan Rojabi Publisher, unit usaha PT Afdan Rojabi Indonesia akan terus mengembangkan berbagai buku digital yang membahas keamanan informasi, transformasi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tata kelola teknologi informasi, serta inovasi digital lainnya. Melalui AfdanRojabi.com, berbagai ebook dan artikel edukatif diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan literasi digital sekaligus mendukung pengembangan kompetensi sumber daya manusia Indonesia di era transformasi digital.

0Komentar
Tuliskan komentar anda disini. No SARA please..!!!