5 Permainan Tradisional Ini Bisa Anda Terapkan dalam Pembelajaran

Ingatkah Ibu Bapak guru dengan permainan semacam congklak atau gobak sodor yang dulu sering kita mainkan? Pasti masih ingat. Dan masa-masa itu memang sulit dilupakan. Kita berlarian, berkotor-kotor ria, itu sudah biasa. Tak peduli seragam merah putih kita berbalut lumpur, meski kemudian guru memarahi. Yang cewek pun sama. Kadang ikut berlarian, berbalut keringat bersama teman-teman cowok.

Intinya saat itu kita sangat senang. Waktu berjalan begitu cepat. Dunia seperti tak ada beban. Beda ya dengan sekarang?

Lalu apa sebenarnya faktor pemicu kebahagiaan masa kecil kita? Jawabannya adalah permainan-permainan tradisional!

Kenapa?

Karena hampir tak ada satupun permainan itu yang bisa dimainkan sendiri. Semuanya bersama-sama. Kita hanya refleks saja memainkannya, naluriah anak-anak! Kita bisa tertawa karena teman, kita pun sering menangis karena ulah teman. Teman, teman, teman. Dan begitu menginjak dewasa, barulah kita sadar permainan itu memberi makna bagi hidup kita. Mengajarkan kita, mendidik kita banyak hal. Cooperative activity!

Sayangnya Ibu Bapak guru, permainan itu sekarang berangsur-angsur hilang.

Setiap zaman pasti punya karakter yang khas. Setiap karakter pasti dibatasi zaman. Tidak ada yang salah dari metamorfosa permainan anak-anak. Waktu dulu kita bermain gobak sodor pun, guru kita mungkin juga melihat sambil berpikir ada perkembangan permainan dibanding saat beliau masih kecil. Sama seperti kita melihat siswa-siswi kita mengisi jam luar sekolah dengan game online.

Jadi, yang salah di saat sekarang bukan bentuk permainannya, tapi orientasi pengambilan nilai dari permainannya. Salah siapa jika anak memilih game online, playstation, atau gadget yang hanya punya unsur hiburan saja. Ada banyak game edukasi yang tak kalah mengasyikkan, menggiurkan. Sama-sama game, tapi yang ini ada nilai positif yang bisa dicerna anak.

Dr. Akio Mori, Profesor Bedah Saraf di Universitas Nihon Tokyo College of Humaniora, dalam buku "Game-nou-no-kyofu" (Teror Game Brain), menulis hasil penelitiannya tentang efek game bagi anak. Kesimpulannya, kecanduan game dapat menurunkan aktivitas gelombang otak depan (pengendali emosi dan agresivitas). Sehingga anak menjadi mudah marah, mood cepat berubah, dan sulit konsentrasi. Bukankah ini yang dialami anak-anak kita? Dr. Mori juga menambahkan, game tiga dimensi yang menampilkan animasi berputar dan gerakan cepat, memengaruhi fokus pergerakan mata dan saraf otak. Bermain game terlalu lama dapat menyebabkan pusing dan bahkan pingsan.

Satu lagi, kekurangan game online itu bisa dimainkan sendiri, tanpa membutuhkan teman. Bertolak belakang dengan permainan tradisonal. Individual activity!

Kembali lagi, bahwa poinnya bukan pada apa bentuk permainannya, tapi nilai apa yang didapat saat memainkannya. Dan tidakkah disayangkan jika permainan tradisonal yang sarat nilai itu nantinya benar-benar hilang? Pernahkah terpikir bahwa kitalah generasi yang harus bertanggungjawab (baca: disalahkan) jika warisan nenek moyang ini hanya tinggal cerita?

Kita tidak bisa memaksa anak-anak menyukai permainan-permainan “kuno” itu. Kita tidak perlu berpikir keras mencari cara agar mereka memilih permainan itu dibanding game yang sekarang ada.

Namun kelestarian permainan tradisional akan terjaga jika kita sebagai guru mau memanfaatkannya dalam konteks pembelajaran. Ya, sebagai metode pembelajaran! Selain materi lebih mudah terserap, mereka juga akan mengetahui inilah “game” asli bangsa kita. Game yang dimainkan dengan rasa senang oleh orang-orang dulu, yang sekarang menjadi orang-orang sukses. Inspirasi ini yang akan kita tanamkan.

Jadi, mari sekarang kita flashback, kita buka satu per satu, kita temukan materi apa yang paling cocok dengan masing-masing permainan.

#1 CONGKLAK


Ini jenis permainan tradisonal yang masih banyak dimainkan. Alat yang dikenal juga dengan sebutan “dakon” ini masih banyak dijual di pasaran. Konon Ibu Bapak guru, ini adalah salah satu permainan tertua di dunia. Permainannya, bukan alatnya. Jika benar kita perlu berbangga telah mewarisi salah satu permainan yang legendaris.

Cara bermainnya adalah dengan mengambil biji-bijian yang ada di lubang bagian sisi milik kita kemudian mengisi biji-bijian tersebut satu-persatu ke lubang yang dilalui termasuk lubang induk milik kita (lubang induk sebelah kiri) kecuali lubang induk milik lawan. Jika biji terakhir jatuh di lubang yang terdapat biji-bijian lain maka biji-bijian tersebut diambil lagi untuk diteruskan mengisi lubang-lubang selanjutnya. Begitu seterusnya sampai biji terakhir jatuh kelubang yang kosong. Jika biji terakhir tadi jatuh pada lubang yang kosong maka giliran pemain lawan yang melakukan permainan. Permainan ini berakhir jika biji-bijian yang terdapat pada lubang yang kecil telah habis dikumpulkan. Pemenangnya adalah yang paling banyak mengumpulkan biji-bijian kelubang induk miliknya.

Permainan ini melatih strategi, ketelitian, dan kesabaran. Motoric Intelligence!

Lalu, materi apa yang cocok diajarkan memakai media congklak? Ada banyak sebenarnya. Terutama pada bidang studi matematika. Semua materi pada ranah “bilangan” bisa diajarkan memakai media ini. Salah satunya kita bisa menggunakannya untuk mengenalkan konsep dasar KPK dan FPB.

Satu hal yang penting diperhatikan, permainan yang didesain untuk kepentingan pembelajaran tidak harus sama persis dengan cara memainkan aslinya. Bila perlu inovasi, itu lebih baik. Termasuk untuk materi KPK dan FPB ini. Langkahnya sebagai berikut:

1. Kita siapkan congklak, beri nomor 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya pada setiap lubang secara berurutan.
2. Siapkan biji-bijian yang terdiri dari dua warna, misal hijau dan biru.
3. Berikan permasalahan mudah terlebih dulu, misal mencari KPK 2 dan 3.
4. Masukkan biji hijau untuk kelipatan dari 2 yakni letakkan pada lubang nomor 2, 4, 6, 8, 10, 12, dan seterusnya.
5. Lalu masukkan biji biru untuk kelipatan dari 3 yakni letakkan pada lubang nomor 3, 6, 9, 12, 15, dan seterusnya.
6. Maka akan kita temukan 2 biji pada lubang yang sama, yakni nomor 6, 12 dan kelipatannya. Disini kita bisa menjelaskan bahwa 6, 12, … adalah kelipatan persekutuan dari 2 dan 3.  Dan dari kelipatan persekutuan tersebut, bilangan yang terkecil adalah 6.
Jadi KPK dari 2 dan 3 adalah 6.
7. Kita lanjutkan dengan konsep mencari FPB. Kita berikan soal yang mudah, yakni mencari FPB dari 6 dan 8.
8. Masukkan biji warna hijau untuk faktor dari 6 ke dalam lubang berlabel nomor 1, 2, 3, 6. Kemudian masukkan biji warna biru untuk faktor dari 8 (1, 2, 4, 8).
9. Maka lubang yang berisi 2 biji adalah pada nomor 1 dan 2. Disini kita bisa menjelaskan bahwa 1 dan 2 merupakan faktor persekutuan dari 6 dan 8. Dan dari faktor persekutuan tersebut, bilangan yang terbesar adalah 2.
Jadi FPB dari 6 dan 8 adalah 2.

#2 ENGKLEK


Masih ingatkan kan ya Ibu Bapak Guru? Mungkin penyebutannya di daerah tidak sama. Di wilayah Banyuwangi menyebutnya “gedrik”. Di Jawa Barat dikenal dengan “tepok gunung”. Di daerah lain: Ingkling (Lampung), Gala Asin (Kalimantan), Intingan (Sampit), Tengge-tengge (Gorontalo), Cak Lingking (Bangka), Teprok  (Bali), Gili-gili (Merauke), Deprok (Betawi), Engkle (Lamongan), Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto) dan lainnya.

Ternyata ini permainan seantero nuswantara..

Meski namanya berbeda-berbeda, cara memainkannya sama, yakni pemain meloncati bidang-bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan menggunakan satu kaki. Pada ujung petak dibuat gundukan seperti gunung. Pemain harus meloncat dengan menggunakan satu kaki dari petak satu ke petak berikutnya. Sambil meloncat, ia memegang gaco untuk dilemparkan ke masing-masing petak dan kemudian pemain melakukan lompatan ke dalam petak-petak tersebut.

Setelah melompat ke satu petak pemain mengambil gaco tersebut kemudian dilemparkan lagi ke petak selanjutnya. Gaco yang dilempar tidak boleh melebihi batas petak, jika melewati maka pemain dinyatakan gugur dan diganti oleh pemain lainnya. Pemain yang berhasil menyelesaikan keseluruhan engklek terlebih dulu dinyatakan sebagai pemenang.

Materi apa?

Permainan ini dapat digunakan dalam semua materi ajar! Kenapa? Karena kita akan menggunakannya sebagai alat bantu mengingat dan menghafal konsep. Caranya, kita bisa meletakkan kartu soal pada masing-masing petak, lalu setiap siswa yang masuk ke petak harus menjawab soal yang ada pada petak itu. Jadi, jika dalam permainan engklek aslinya pemain yang melempar gaco keluar batas petak dinyatakan gugur, dalam pembelajaran ini pemain yang salah menjawab pertanyaanlah yang gugur.

Unsur tantangan berupa keinginan melompati petak demi petak agar bisa sampai di gunungan (petak paling ujung), bisa memicu daya pikir siswa untuk menjawab pertanyaan dengan benar.

#3 PETAK UMPET


Rasanya sudah tidak perlu dituliskan aturan dan tata cara permainan yang satu ini. Sudah sangat familiar. Permainan murah meriah yang bisa menumbuhkan rasa kesetiakawanan. Modalnya hanya satu: punya teman.

Namun kalau kita bawa permainan ini ke dalam pembelajaran, agak sulit memang meraba materi apa yang sekiranya pas. Artinya dibutuhkan kejelian mencari poin-poin penting dari permainan ini.

Diantara beberapa poin itu adalah:
1. Di dalam permainan ini ada hitungannya, yakni dilakukan oleh anak yang bertindak sebagai “Kucing”. Nah disini guru bisa meminta siswa menghitung menggunakan bahasa asing yang dipelajari di kelasnya (untuk kelas bawah). Atau bisa juga menghitung menggunakan beberapa kosakata bahasa asing. Berapa jumlahnya, bisa disepakati terlebih dulu oleh siswa.
2. Si “Kucing” harus menyebutkan nama saat menemukan teman yang bersembunyi. Satu demi satu sampai semuanya ketemu. Tentu ini mudah karena ia sudah hafal dengan nama teman-temannya. Untuk itu, guru bisa mengganti nama siswa-siswa yang bersembunyi dengan istilah-istilah dalam materi. Jika sedang mempelajari organ pernafasan, guru bisa mengganti nama siswa dengan trakhea, bronkus, alveolus, dan sebagainya. Atau jika mempelajari materi zaman pergerakan nasional, guru bisa menggantinya dengan nama tokoh-tokoh pergerakan nasional.

#4 GOBAK SODOR


Menurut saya inilah permainan paling seru di antara yang lain. Permainan yang melatih kekompakan, kerjasama, dan yang utama: keberanian!

Untuk bisa memainkannya harus ada dua kelompok, satu kelompok sebagai tim laku dan satu kelompok sebagai tim jaga. Inti permainannya adalah tim jaga yang berdiri tepat di garis depan petak harus menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Pembelajaran PKn materi kerjasama sangat tepat jika dilakukan dengan permainan ini. Siswa akan mengalami langsung bagaimana contoh bekerjasama yang benar. Beri kesempatan siswa berdiskusi menentukan formasi timnya, menunjuk ketua kelompok, dan mengatur strateginya. Biasanya ketua kelompok akan bertindak sebagai selodor. Dengan begini, siswa terlatih bekerja sama dalam memecahkan masalah dan bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya.

#5 GASING


Gasing merupakan permainan yang sederhana. Saat dimainkan secara berkelompok, maka gasing harus diputar dalam waktu bersamaan. Siapa yang gasingnya berhenti paling akhir, dialah pemenangnya. Sangat sederhana!

Sekilas seperti tak mungkin kita menemukan celah untuk membawa permainan ini dalam pembelajaran. Tapi tunggu dulu. Jika kita kreatif, maka akan kita temukan banyak sekali materi ajar yang bisa dipahami dengan alat yang satu ini.

Salah satunya adalah pengenalan konsep pengukuran waktu.

Kok bisa? Untuk konsep pengukuran waktu siswa kelas bawah, kita bisa menggunakan media ini. Caranya sederhana. Siswa diminta memutar beberapa gasing secara bergantian. Untuk setiap putara, kita mengajak mereka mencatat lama berputarnya gasing. Dari sini mereka waktu putar yang terlihat sama pada kenyataannya berbeda.

Lalu guru bisa melanjutkan dengan memutar dua gasing bersamaan. Siswa diminta membandingkan waktu putaran masing-masing gasing. Dari perbedaan waktu putaran, guru mulai mengasah daya pikir siswa untuk menyebutkan faktor apa yang menentukan lamanya putaran. Mungkin siswa menyebutkan kuat lemahnya tenaga waktu memutar, adanya angin, atau halus kasarnya lantai.

Inilah keberhasilan pembelajaran ini.

Belajar pengukuran waktu sangat penting bagi siswa kelas rendah, sehingga kedepannya mereka tidak melakukan kesalahan dalam melakukan perhitungan hasil pengukuran waktu.

Demikianlah permainan tradisional yang bisa kita desain sebagai metode dan media pembelajaran. Tentu saja lima nama di atas hanya segelintir dari banyaknya permainan yang kita mainkan waktu kecil. Masih ada gundu, bola bekel, lompat tali, egrang, bentik. Belum lagi yang hanya dimainkan di daerah tertentu. Sangat banyak.

Ingat! Seperti yang kita bahas di awal, misi kita bukan hanya memudahkan siswa memahami materi. Jauh dari itu, kita menggunakan permainan tradisional karena kita mengemban tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya, agar tidak dicap sebagai generasi bersalah, yang mencoba memutus kelestarian permainan warisan nenek moyang kita.

Artikel Terkait: