Model Jigsaw, 8 Langkah Mudah Agar Seisi Kelas Meraih Sukses Belajar

Langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw
Model Pembelajaran Jigsaw

Model Jigsaw digunakan Elliot Aronson pertama kali untuk tujuan mengatasi konflik ras antar siswa di sekolahnya. Masalah rasis yang sangat parah dan mengancam itu diselesaikan dengan melebur seluruh siswa dari berbagai etnis ke dalam satu kelompok. Lalu diciptakanlah situasi kelas dimana siswa tergantung kepada anggota kelompoknya agar bisa lulus dalam ujian. Usaha keras itu berhasil dengan sukses.

Itulah kali pertama model Jigsaw digunakan.

Untuk saat sekarang, bukan itu tujuan kita menerapkan model ini. Kita tidak sedang menghadapi situasi parah semacam itu.

Yang akan kita peroleh dari pembelajaran ini adalah situasi kelas dimana semua siswanya saling membantu dan berbagi, karena satu dengan lainnya saling bergantung dan membutuhkan. Belajar bersama untuk meraih sukses bersama pula.

Jigsaw tidak hanya membuat siswa memikirkan peningkatan prestasi dirinya sendiri, namun juga peningkatan prestasi teman-temannya. Siswa tidak cukup hanya mempelajari materi, tetapi mereka harus rela memberi dan mengajarkan materi yang berhasil ia kuasai kepada temannya. Inilah esensi model pembelajaran Jigsaw.

Tapi, untuk apa berbagi ilmu pada teman lain? Bukankah sudah cukup bagi siswa jika ia menguasai suatu materi itu sendiri?

Gambar inilah jawabannya. Piramida belajar hasil penelitian dari Edgar Bale.

piramida belajar edgar bale

Belajar dan mengajar itu kesatuan, tak boleh dipisahkan. Mengajari teman bukanlah membuang ilmu, tapi bagian dari proses peraihan ilmu yang matang.

Dalam proses belajar, sering kita lupakan salah satu tabiat anak: suka bercerita. Kita lebih suka situasi belajar satu arah. Guru menjelaskan, siswa menyimak. Siswa bertanya, guru menjawab. Begitu seterusnya.

Namun jika kita ingin melihat potensi anak jauh melebihi apa yang selama ini kita lihat, beri ia kesempatan menyampaikan “ilmu”nya pada teman-temannya. Apapun ilmunya. Bandingkan dengan saat menyampaikan pertanyaan pada kita.

Dalam situasi normal, ia akan mengungkapkan kalimat berkali-kali lipat banyaknya dibanding saat berbicara di hadapan kita.

Semangat inilah yang akan kita bawa dalam pembelajaran kali ini.

Namun sebelum menuju langkah pertama, perlu diketahui model ini tidak dapat diterapkan pada semua siswa dan materi. Ada syarat yang harus dipenuhi.

1. Siswa sudah mampu belajar secara mandiri.

Kemampuan belajar secara mandiri identik dengan kematangan berpikir. Kematangan itu relatif, tapi bisa diukur. Bagaimana caranya mengukur kemampuan ini?

teori perkembangan kognitif

Gunakan cara sederhana. Berikan teks cerita yang masih baru dan belum pernah dibacanya. Berikan waktu yang cukup untuk ia baca. Ulangi lagi membacanya. Minta mereka bergantian menyampaikan apa isi bacaan. Nah, jika mereka mampu menjelaskan isi teks dengan baik, maka ia termasuk siswa yang sudah mampu belajar secara mandiri.

Dalam menerapkan model Jigsaw, tidak harus seisi kelas punya kemampuan belajar mandiri, cukup sebagian besarnya saja. Nanti akan kita maksimalkan lewat strategi pembagian kelompok.

Jika syarat ini sudah terpenuhi, masih ada syarat kedua.

2. Materi bisa dipecah menjadi bagian-bagian.
Bandingkan 3 contoh materi berikut ini.

  • Matematika kelas 5 tentang Akar Pangkat Dua. Materi ini tidak bisa dipecah menjadi sub bagian. Materi ini akan sulit dipelajari menggunakan model Jigsaw.
  • Bahasa Indonesia kelas 4 tentang unsur instrinsik cerita rakyat. Materi ini bisa dipecah menjadi sub bagian yaitu tema, judul, tokoh, watak tokoh, latar, dan amanat. Semua sub materi itu terpisah dan bukan merupakan urutan. Materi seperti inilah yang tepat dipelajari memakai model Jigsaw.
  • IPA kelas 5 tentang alat pencernaan manusia. Materi ini bisa dipecah menjadi sub topik yaitu mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, anus. Namun semua sub itu saling terkait dan membentuk urutan. Artinya, untuk memahami proses pencernaan manusia adalah dimulai dengan mempelajari mulut terlebih dulu, kemudian kerongkongan, lalu lambung dan seterusnya. Materi seperti ini tepat dipelajari menggunakan model Jigsaw, asalkan saat presentasi kelompok (#langkah 6) pembahasannya juga dilakukan secara berurutan.

#Langkah 1: Siapkan materi

Kalau ingin cepat, kita bisa menggunakan materi dari modul yang dipakai sehari-hari, LKS, atau dari buku-buku di perpustakaan. Namun akan lebih baik jika membuat handout sendiri yang menarik agar siswa menangkap kesan berbeda dari pembelajaran kali ini.

Beri background yang berwarna, yang templatenya sangat mudah kita cari internet.

jigsaw

Bagilah materi itu menjadi beberapa sub topik. Berapa banyaknya, silahkan disesuaikan. Yang penting, usahakan tiap sub materi memiliki porsi yang sama.

Porsi yang dimaksud bukan banyak sedikitnya materi, tapi tingkat kesulitannya.

Satu sub topik bisa berisi satu lembar penuh karena kompleksitasnya rendah, sedang sub topik lain hanya setengahnya karena perlu penalaran lebih rumit.

#Langkah 2: Jelaskan Pokok Materi

Jelaskan materi dan kompetensi yang akan dicapai secara singkat, agar tidak menghabiskan banyak waktu. Beberapa metode yang bisa dipakai adalah:

  1. Tampilan slide (presentasi)
  2. Penugasan
  3. Cara langsung (ceramah, tanya jawab singkat)

Tahap ini sering diabaikan karena berpotensi membuat waktu molor. Sebenarnya tidak. Hanya perlu strategi khusus dan perencanaan yang baik agar penjelasan kita singkat namun sukses memberi gambaran siswa tentang pengetahuan/kompetensi apa yang akan diperoleh.

#Langkah 3: Buat kelompok heterogen

Bagilah kelas menjadi beberapa kelompok, tiap kelompoknya 4 atau 5 siswa (sesuai banyaknya sub topik pada #langkah 1). Minta mereka berkumpul bersama kelompoknya. Beri waktu mereka memilih siapa yang jadi pemimpinnya.

kelompok jigsaw

Dalam pembelajaran Jigsaw, kelompok yang dibentuk pertama ini disebut dengan Kelompok Asal atau Kelompok Jigsaw.

Idealnya pembentukan kelompok itu harus heterogen. Keberagaman siswa dalam satu kelompok adalah syarat berhasilnya semua model pembelajaran kooperatif, tidak hanya Jigsaw.

Untuk bisa mencapai kondisi “heterogen” itu, inilah yang harus diperhatikan:
1. Prestasi akademik (alat ukurnya bisa memakai nilai raport, dan dipadukan dengan hasil ulangan harian yang sudah dilakukan).
2. Kemampuan verbal.
3. Jenis kelamin.
4. Pergaulan sehari-hari.

Keempat itulah yang utama dijadikan pertimbangan. Adapun untuk kondisi khusus, ada tambahan:

5. Latar belakang keluarga (jika kelas diisi siswa yang berasal dari keluarga yang beragam status sosial, ekonomi, dan adat istiadat/kebiasaan)
6. Suku dan agama (jika sebagian besar siswa berasal dari suku dan agama yang beragam)
7. Jabatan organisasi di kelas.

Butuh banyak waktu untuk memadukan semua faktor di atas. Sehingga pembentukan kelompok lebih baik dilakukan di awal tahun pelajaran, meliputi kelompok permanen dan semi permanen. Tekniknya memakai metode sosiometri, kesamaan nomor atau metode acak.

#Langkah 4: Membaca materi

Lalu, tiap anggota di dalam kelompok diminta membaca dan mendalami materi yang mereka terima. Membaca berulang, bukan menghafal.

Minimalkan interaksi antar teman. Tekankan suasana fokus membaca, bekerja sendiri di dalam kelompok.

jigsaw membaca materi

Disinilah inti pembelajaran Jigsaw dimulai. Jadi agar berhasil, perhatikan betul cakupan luas sempitnya materi dan tingkat kesulitannya. Jika siswa masih mengenal materi baru kali ini, seharusnya sudah ada penugasan sebelumnya untuk mempelajari di rumah.

Tapi jika materi itu hanya lanjutan, tidak perlu penugasan seperti itu.

#Langkah 5: Diskusi Kelompok Ahli

Minta tiap siswa menyebar dan membentuk kelompok baru. Yaitu kelompok yang membaca sub topik sama. Kelompok ini yang kita namakan Kelompok Ahli (Expert Group).

Diskusi Kelompok Ahli

Sebagai ahli, inilah yang mereka lakukan di kelompok baru.

  1. Mendiskusikan poin-poin utama dari topik yang dibahas.
  2. Mencatat hal-hal pokok.
  3. Berlatih presentasi.

Seperti tadi disebutkan bahwa pembelajaran Jigsaw bisa membuat siswa memperoleh hasil belajar optimal. Tidak hanya satu dua siswa, tapi seisi kelas. Pada tahap inilah kuncinya.

Meski sama-sama punya bekal materi, di kelompok ini akan ada siswa yang dominan dan ada yang lebih banyak mendengarkan. Ini wajar. Tapi sekali lagi, inilah kesempatan agar seisi kelas merasakan pengalaman belajar sama dan memperoleh hasil memuaskan bersama-sama.

Bagaimana caranya?

Jangan memberi kebebasan siswa untuk mengatur sendiri jalannya diskusi. Gunakan waktu di awal untuk saling bergantian memaparkan apa yang tadi dibaca. Waktu penyampaian dibuat relatif sama. Misalkan 3 menit, tiap siswa harus bicara selama itu. Tak boleh lebih. Jika ada yang kesulitan, minta yang lain membantu.

Tanamkan bahwa untuk kali ini, kita sedang belajar bersama untuk berhasil bersama.

#Langkah 6: Presentasi di kelompok Jigsaw

Setelah waktunya selesai, segera minta mereka kembali ke kelompok asal untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Secara bergantian siswa menyampaikan apa yang ia peroleh saat berdiskusi di kelompok ahli.

Biasanya pada tahap ini waktu pelajarannya sudah mepet. Belum lagi nanti ada evaluasi. Sehingga perlu cara yang efektif untuk menyiasatinya.

  1. Tugaskan salah satu anggota sebagai notula hasil presentasi. Catatan ini nantinya akan dikumpulkan sebagai laporan kelompok.
  2. Saat bertindak sebagai penyimak, tidak boleh ada yang fokus menyiapkan materinya sendiri, tapi fokus pada topik lain yang sedang dijelaskan presenter. Sambil mencatat pertanyaan yang akan diajukan.

Baiklah. Saat ini kita anggap satu kelompok Jigsaw telah menguasai satu materi secara penuh, dimana tiap sub topik diwakili satu siswa. Jika masih ada waktu sisa, persilahkan beberapa kelompok yang ingin mempresentasikan materi secara utuh di depan kelas.

#Langkah 7: Mengumpulkan Laporan

Hampir di semua panduan tentang cara mengajar model Jigsaw tidak ada yang menyertakan tahapan membuat laporan tertulis. Padahal laporan kelompok amatlah penting, dan menjadi satu-satunya produk yang bisa dihasilkan dari model pembelajaran ini.

#Langkah 8: Evaluasi

Karena pembelajarannya pure berbasis kelompok, maka evaluasinya juga ditujukan kepada kelompok. Dibandingkan secara tertulis, untuk kali ini teknik penilaian lisan lebih tepat digunakan. Guru bisa melempar pertanyaan yang dijawab oleh kelompok secara bergantian, atau bisa juga dengan pertanyaan rebutan.

Terakhir, jangan lupa beri reward untuk kelompok paling aktif saat jalannya diskusi dan evaluasi.

Demikian langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw yang bisa membantu seisi kelas untuk aktif semua, saling membantu agar sukses memperoleh hasil belajar yang maksimal bersama-sama.

Jika anda merasa konten ini bermanfaat, luangkan waktu sejenak untuk membagikannya pada teman-teman anda.

Guru biasa yang ingin belajar dan berbagi.