Langsung ke konten utama
TUr0GpA7GfWoBUM0BSWpTSO9GY==

Headline

Search

Pendekatan Backward Design dalam Perencanaan Pembelajaran

backward design

Backward Design dalam perencanaan pembelajaran adalah sebuah pendekatan di mana guru merencanakan pembelajaran dengan urutan yang dimulai dari hasil akhir yang diinginkan. Guru terlebih dahulu menentukan kompetensi yang harus dimiliki murid, kemudian menetapkan bukti ketercapaian melalui asesmen, dan terakhir merancang kegiatan pembelajaran yang mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Pendekatan ini berbeda dengan perencanaan tradisional yang umumnya dimulai dari penyusunan materi atau aktivitas pembelajaran.

Perbedaan Backward Design dengan Perencanaan Tradisional

Perbedaan utama antara Backward Design dengan perencanaan tradisional terletak pada titik awal dan alur proses penyusunan rencana pembelajaran.

Titik Awal Perencanaan

  • Backward Design: Guru memulai dengan mengidentifikasi hasil akhir yang diinginkan atau apa yang siswa mampu lakukan pada saat pelajaran berakhir. Fokusnya bukan sekadar menyelesaikan materi, melainkan hasil nyata apa yang akan diperoleh murid setelah memiliki pemahaman tersebut.
  • Perencanaan Tradisional: Sering kali dimulai dengan menentukan materi, aktivitas, atau langkah pembelajaran tanpa menetapkan bukti keberhasilan sejak awal.

Alur Proses Penyusunan

Backward Design menggunakan tiga langkah penyusunan yang sistematis yang membedakannya dengan pendekatan tradisional:

  1. Menentukan Tujuan Pembelajaran (Apa yang mau dicapai?)
    Guru memahami kompetensi dan konsep/konten kunci yang harus dikuasai murid berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP).
  2. Menentukan Asesmen (Bukti murid sudah mencapai)
    Guru menentukan strategi dan bentuk asesmen yang tepat untuk mengukur kompetensi murid sebelum merancang kegiatan belajar.
  3. Merencanakan Langkah Pembelajaran (Bagaimana murid mencapainya?)
    Guru mendesain proses belajar, metode, dan mencari sumber materi yang membantu murid membangun kompetensi yang dituju agar bisa memberikan bukti pada tahap asesmen.

Langkah-langkah Penerapan Backward Design

Berikut adalah uraian tiga langkah utama dalam menerapkan Backward Design dalam menyusun perencaanaan pembelajaran:

1. Menentukan Hasil yang Ingin Dicapai (Tujuan Pembelajaran)

Pada tahap pertama, guru mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang berasal dari Capaian Pembelajaran (CP). Guru perlu melakukan beberapa hal berikut:

  • Memahami kompetensi dan konsep penting yang harus dikuasai murid.
  • Memastikan apakah tujuan pembelajaran ini sesuai dengan situasi dan kondisi murid saat ini.
  • Berfokus pada hasil akhir yang ingin dicapai, bukan sekadar menuntaskan materi.

2. Menentukan Bukti Ketercapaian (Asesmen)

Setelah tujuan ditetapkan, guru menentukan bukti bahwa murid telah mencapai tujuan tersebut melalui asesmen. Aspek penting dalam langkah ini meliputi:

  • Menentukan strategi asesmen yang tepat untuk mengukur kompetensi yang ditunjukkan murid
  • Memikirkan apa yang akan siswa ciptakan atau tunjukkan sebagai bukti pembelajaran mereka.
  • Menyusun asesmen yang relevan, baik itu berupa produk, unjuk kerja, portofolio, presentasi, hasil refleksi, atau teknik asesmen lainnya.

3. Merencanakan Kegiatan Pembelajaran (Pengalaman Belajar)

Tahap terakhir adalah menyusun kegiatan pembelajaran yang membantu murid mencapai tujuan dan menghasilkan bukti belajar yang telah ditentukan. Dalam mendesain proses belajar, guru harus:

  • Menentukan metode pembelajaran dan menyusun urutan kegiatan yang logis.
  • Mencari sumber belajar yang mendukung murid dalam membangun kompetensi yang yang telah ditetapkan.
  • Memastikan langkah-langkah pembelajaran membantu murid secara efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan di langkah pertama.

Integrasi Backward Design dengan Pembelajaran Mendalam

Mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam ke dalam kerangka Backward Design (Perencanaan Mundur) dilakukan dengan memastikan seluruh komponen Pembelajaran Mendalam termuat baik secara implisit maupun eksplisit dalam setiap tahapan perencanaan.

Berikut adalah langkah-langkah integrasi Backward Design dengan pembelajaran mendalam:

1. Tahap Menentukan Hasil yang Ingin Dicapai (Tujuan Pembelajaran)

Pada tahap pertama Backward Design, guru tidak hanya menentukan materi apa yang harus selesai, tetapi hasil nyata apa yang akan diperoleh murid setelah memiliki pemahaman tersebut.

  • Identifikasi Profil Lulusan
    Guru memilih Dimensi Profil Lulusan yang relevan dengan tujuan pembelajaran untuk diintegrasikan secara utuh dalam proses belajar.
  • Fokus pada Kompetensi Berpikir Mendalam
    Tujuan pembelajaran dirumuskan sedemikian rupa sehingga mendorong murid untuk berpikir secara lebih mendalam, bukan sekadar memahami konsep dasar.

2. Tahap Menentukan Bukti Ketercapaian (Asesmen)

Dalam Pembelajaran Mendalam, asesmen dirancang di awal sebagai alat pengarah yang mendukung proses belajar, bukan sekadar nilai akhir.

  • Asesmen Autentik dan Holistik
    Penilaian harus didasarkan pada situasi kehidupan nyata siswa (autentik) serta memperhitungkan ketiga komponen Pengetahuan, Keterampilan, dan sikap (holistik).
  • Variasi Bukti Belajar
    Guru mengumpulkan beragam bukti belajar seperti produk, unjuk kerja (performa), portofolio, diskusi, dan hasil refleksi.
  • Melibatkan Murid
    Integrasi dilakukan melalui penerapan assessment as learning (penilaian diri dan antarteman) untuk membantu murid menjadi pembelajar mandiri.

3. Tahap Merencanakan Kegiatan Pembelajaran (Langkah Pembelajaran)

Pada tahap akhir ini, kegiatan pembelajaran dirancang sebagai sarana untuk mencapai bukti ketercapaian dengan mengacu pada kerangka Pembelajaran Mendalam.

Langkah pembelajaran harus dirancang agar suasana belajar menjadi berkesadaran (melibatkan murid secara aktif dalam mengatur strategi belajar), bermakna (menjadikannya sesuai dengan konteks dunia nyata siswa) dan menggembirakan (menciptakan suasana positif, interaktif, dan menantang).

Demikian juga pada siklus pengalaman belajar, kegiatan disusun mengikuti alur memahami (murid aktif mengonstruksi pengetahuan dari berbagai sumber, mengaplikasi (murid menggunakan pemahaman mereka untuk memecahkan masalah konkret, dan merefleksi (murid mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri (metakognisi) dan menggeneralisasi prinsip yang telah dipelajari ke konteks yang lebih luas.

Guru dapat menggunakan berbagai strategi pembelajaran, seperti Project Based Learning (PBL), Inkuiri, STEM, atau Pembelajaran interdisipliner. Strategi tersebut membantu murid membangun pemahaman yang lebih mendalam dan menghubungkan berbagai disiplin ilmu.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Backward Design adalah pendekatan perencanaan pembelajaran yang dimulai dari tujuan akhir, kemudian menentukan bukti ketercapaian, dan akhirnya merancang kegiatan belajar.

Pendekatan ini sangat sesuai dengan konsep pembelajaran mendalam karena menekankan pemahaman yang bermakna, asesmen autentik, dan pengalaman belajar yang mendorong murid berpikir secara mendalam.

Pendekatan Backward Design dalam Perencanaan Pembelajaran
Next Post

0Komentar

© Copyright - Panduan Mengajar. All rights reserved.

Panduan Mengajar