Poems for Two Voices, Alternatif Mengajarkan Puisi pada Anak

Poems for Two Voices
Poems for Two Voices

Semua orang suka dengan puisi. Kalau kita mendengar bait demi bait puisi yang bagus, hati terasa bergetar dan perasaan campur aduk. Puisi yang bagus mampu memainkan emosi dan perasaan pendengar.

Itulah mengapa guru dituntut bisa mengajarkan puisi. Bagi anak, puisi merupakan media imajinasi sekaligus pengembangan kreativitas pola pikir.

Nah, kali ini saya akan berbagi tentang salah satu cara mengajarkan puisi pada anak. Cara ini lebih cocok diterapkan untuk siswa tingkat dasar/pemula. Metode ini akan memicu keberanian mereka mendeklamasikan puisi di depan kelas –salah satu kelemahan siswa usia dasar.

Metode ini disebut dengan Poems for Two Voices.

Puisi dengan 2 suara. Mungkin terjemahan ini kurang tepat. Maklum, sampai saat ini belum banyak literatur berbahasa Indonesia yang khusus membahas metode ini.

Sampai akhirnya saya menemukan sebuah artikel yang memberitakan bahwa Poems for Two Voices adalah metode yang dipakai seorang guru asal Malang, Jawa Timur untuk meraih Juara I Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Tingkat Nasional di akhir 2015 lalu. Namanya bu Aini Rizqoh asal SDN 03 Girimoyo, Singosari Malang.

Itu sudah cukup menjadi bukti kalau metode ini patut diperhitungkan dan layak kita coba, serta menjadi alternatif dari cara-cara lama yang biasa pakai untuk mengajar puisi. Beberapa metode yang umum  dipakai untuk mengajar puisi adalah:

1. Akrostik
Bisa jadi ini adalah teknik yang paling banyak dipakai guru. Akrostik berarti menjadikan tema puisi kita sebagai singkatan. Dan tugas siswa adalah membuat kepanjangan darinya. Cara ini terbilang efektif membantu siswa menemukan ide awal dari setiap bait yang disusunnya.

Bunda

Bunda......
Untaian doa selalu kuucap
Nan indah menjelma di kalbu
Dengarkan Bunda anakmu berkata
"Aku ingin membalas jasa-jasamu " !!

2. Teknik diary (catatan harian)
Ini adalah cara menulis puisi dengan memanfaatkan catatan harian. Teknik ini biasanya mengikuti prosedur berikut:

  • Baca dengan seksama dan renungkan isi buku diary kita.
  • Buang kata-kata yang tidak penting dan ganti dengan kata yang lebih menarik.
  • Ubahlah kalimat-kalimat itu menjadi baris demi baris.
  • Baca lagi hasil akhir baris-baris itu.
  • Suntinglah kembali baris-baris itu sehingga menjadi baris puisi yang menarik.

3. Pemberian contoh

Teknik ini biasanya dilakukan dengan memberi beberapa contoh puisi kepada siswa. Setelah siswa membacanya, guru menjelaskan bagian-bagian seperti bait dan baris, jeda, intonasi, dan sebagainya.

Lalu menyediakan gambar atau video untuk merangsang daya imajinasi siswa. Dan akhirnya mereka diminta berlatih membuat puisi secara mandiri.

Itulah 3 metode yang biasa dipakai untuk mengajarkan puisi di kelas.

Kembali ke tema pembicaraan, kali ini kita akan menggunakan metode yang sangat berbeda, dan belum banyak dipakai, yaitu Poems for Two Voices.

Inti dari metode ini adalah,
"Siswa secara berpasangan membaca 2 puisi yang isinya saling bertentangan, namun di antara baris puisi itu ada kalimat kesamaan yang harus dibaca bersama-sama."

Untuk lebih jelasnya, silahkan mengikuti langkah demi langkahnya.

Persiapan

Yang perlu kita siapkan adalah puisinya terlebih dulu. Perhatikan pola puisi berikut ini,

Puisi 1 Kesamaan Puisi 2
(dibaca oleh siswa 1) (dibaca bersama-sama) (dibaca siswa 2)
…………………… ……………………
…………………… ……………………
……………………
…………………… ……………………
…………………… ……………………
……………………
dst. dst. dst.

Contoh puisi dengan pola di atas adalah seperti ini:

Candi Borobudur Kesamaan Pantai Parangtritis
Cuaca panas di perbukitan Angin semilir di tepi pantai
Aku dikelilingi deretan pegunungan Hamparan biru sejauh mataku memandang
Liburanku sangat menyenangkan
Kau adalah bangunan bersejarah Inilah tempat yang sangat indah
Gagah nan megah Anggun juga menawan
Semua mata takjub padamu
Kulihat ribuan arca peninggalan jaman dulu kala Kupandang gemuruh ombak di depan mata
Wisata budaya terbaik di dunia Wisata alam idaman turis mancanegara
Tak sabar aku ingin kembali mengunjungimu

Contoh sederhananya kurang lebih seperti itu. Silahkan berkreasi membuat puisi dengan pola di atas. Buatlah sesederhana mungkin dan kalau bisa yang unik agar menarik perhatian siswa.

Jika sudah, kita bisa memulai pembelajaran.

Langkah Pertama

Bagikan contoh puisi di atas kepada seluruh siswa. Minta mereka mengamatinya, dan berlatih membaca puisi itu secara berpasangan. Siswa A membaca puisi sebelah kiri (Candi Borobudur), dan siswa B membaca puisi sebelah kanan (Pantai Parangtritis). Baris puisi yang berada di tengah harus diucapkan bersama-sama.

Langkah Kedua

Minta beberapa siswa untuk mendeklamasikan puisi itu di depan kelas, disertai penjelasan mengenai intonasi, rima, jeda, dan unsur-unsur puisi lainnya.

Langkah Ketiga

Ajak mereka membuat puisi dengan pola seperti di atas. Kalau perlu, ajak mereka keluar ke lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan siswa mengembangkan daya imajinasi.

Karena ini masih tahap pengenalan membuat puisi, guru bisa memberikan beberapa tema atau judul untuk dijadikan inspirasi. Setiap pasang siswa mendapat tema yang berbeda akan lebih menarik.

Langkah Keempat

Minta siswa membacakan puisinya di depan kelas. Langkah ini bisa dilakukan di hari yang sama atau tatap muka berikutnya (mengingat membuat puisi bagi pemula juga memakan waktu cukup banyak).

Dan dengan metode ini, setidaknya ada 2 aspek yang dikembangkan:

a. Keberanian
Salah satu kelemahan siswa dalam membacakan puisi di depan kelas adalah soal penghayatan yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri. Dengan memintanya membaca secara berpasangan, kepercayaan diri ini akan tumbuh.

b. Inisiatif
Puisi sebagai prosa bebas sebenarnya memberi ruang kebebasan seluas-luasnya untuk dituangkan dalam bait demi bait. Sayangnya bagi siswa usia dini, hal itu kadang menjadikan mereka ragu apakah puisinya sudah bagus atau belum. Akibatnya, sudah diberikan waktu yang cukup ternyata ia masih berkutat di alam imajinasinya.

Nah dengan metode ini pembuatan puisi menjadi lebih fokus. Siswa hanya fokus berpikir 2 hal : apa yang berbeda dan apa yang sama.

Tidak ada yang sulit dalam tiap langkahnya. Karena inti dari metode ini terletak pada pola puisi yang unik. Ada baris yang dibaca sendiri, ada yang dibaca bersama.

Berikut ini referensi dan bacaan untuk lebih memperdalam metode ini:

  • Joyful Noise: Poems for Two Voices oleh Paul Fleischman
  • Messing Around on the Monkey Bars and other School Poems for Two Voices oleh Betsy Franco
  • Seeds, Bees, Butterflies and More! Poems for Two Voices oleh Carole Gerber
  • You Read to Me, I’ll Read to You oleh Mary Ann Hoberman

Demikianlah uraian mengenai cara mengajarkan puisi pada anak dengan metode Poems for Two Voices. Semoga bermanfaat.

Guru biasa yang ingin belajar dan berbagi.