Skip to main content

Penggunaan Kata/Huruf Miring dalam Tulisan Bahasa Indonesia

Ketika membaca suatu artikel, buku, atau majalah, mungkin anda sering menemukan kata atau huruf yang ditulis miring. Apa maksud dari penulisan miring itu? Saat menemukan kata yang dicetak berbeda seperti itu, fokus kita akan tertuju padanya. Ada penekanan yang ingin disampaikan lewat kata yang dicetak miring tersebut.

Penulisan kata atau huruf dalam Bahasa Indonesia memang memiliki aturan sendiri. Di samping penulisan huruf tebal (bold) dan garis bawah (underline), penulisan miring (italic) akan lebih mudah kita jumpai. Baik dari bacaan fiksi atau non fiksi. Terlebih jika yang anda baca adalah buku terjemahan, kata yang dicetak miring biasanya banyak menghiasi tulisan tersebut.

Baiklah, bagi anda yang belum memahami penggunaan kata atau huruf miring dalam suatu tulisan, berikut ini kita bahas secara lengkap.

1. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka. Contoh:

  • Dina sedang membaca novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata.
  • Majalah Bobo saat ini sepi peminat.
  • Berita kemenangan atlet itu dimuat dalam surat kabar Harian Indonesia.
  • Sigit Pramono. 2014. Panduan Evaluasi Kegiatan Belajar Mengajar. Jogjakarta: Diva Press. 

2. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau kelompok kata dalam kalimat. Contoh :

  • Huruf terakhir kata windu adalah u.
  • Dia tidak dipukul, tetapi memukul.
  • Upacara pagi ini tidak memakai baju adat.
  • Buatlah paragraf yang mengandung peribahasa besar pasak daripada tiang.

3. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau bahasa asing. Contoh:

  • Aufklarung bermakna abad atau zaman pencerahan.
  • Tradisi tedak siten masih terus dilestarikan hingga kini.

Dari ketiga penggunaan huruf miring di atas, ada beberapa catatan di antaranya:

  1. Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
  2. Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
  3. Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.

Demikian uraian tentang penggunaan huruf miring dalam tulisan atau teks. Semoga bermanfaat bagi anda yang membutuhkan.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar